Thursday 18 January 2018
Terbaru
Home / Umum / Selamat Tinggal Dunia Breaker

Selamat Tinggal Dunia Breaker

Aku tinggal di sebuah kota A untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Di kota ini aku diperkenalkan dengan suatu alat komunikasi yang sebenarnya sering dipergunakan namun hanya sebatas keperluan saja. HT nama alat itu atau disebut juga Handy Talky dan temanku menyarankan untuk ikut di sebuah frekuensi yang frekuensinya adalah **.*** (edited) MHz. Aku dipinjamkan alat tersebut selama 1 bulan lebih dan kerjaanku dari hari ke hari adalah ngebrik dan ngebrik terus karena alat ini lumayan juga jangkauannya bisa mencakup hampir seluruh kota A. Memang dengan bantuan sebuah antena yang kuletakkan di atas genting kost-kostan, pesawat ini mampu menjangkau seluruh breaker-breaker yang ada di kota tersebut.

Pada suatu malam di saat frekuensi sedang sepi dan aku pun sedang tiduran di ranjang dengan pesawat tetap kunyalakan, terdengar suara seorang wanita memanggil-manggil “Konteek… breeaker…” begitulah wanita itu memanggil. Dan dengan sigap aku terima panggilan wanita itu dan yang aku tanyakan dia sedang mencari siapa, ternyata dia hanya mencari rekan buat ngobrol, akhirnya kami sepakat pindah channel lain yang kira-kira orang lain tidak banyak yang mendengar alias mojok.

Dari hari ke hari kami mojok, sampai pada suatu malam sekitar jam satu kami melakukan bercinta di udara dimulai dengan aku memberikan sebuah kecupan dan dia membalas kecupan ke seluruh tubuhku sampai… “Ini buat di bawah pusarmu, muaaach,” aku kaget tak kusangka dia berkata itu, dan mulailah burungku menegang dan seolah-olah menyuruhku untuk melanjutkan sampai mencapai klimaks. “Oooh lagi dong, sekalian aja dikulum,” dan dia pun memberikan suara setuju dan memerintahkanku membuka celana dan mulailah dia mengeluarkan suara seolah-olah sedang mengulum burungku. “Mmmh… muach… mmmh… muaaach…” sampai burungku tak kuat lagi, dan secara otomatis pula tanganku sudah mengelus-ngelus burungku sampai akhirnya…

“Sayaang… aku pengen keluar…”
“Keluarkan aja… biar aku telan…” ujarnya.
Dan…
“Crot… cret… croot…”
Keluarlah maniku membasahi karpetku sebagian persis di depan pesawat ngebrik.

Begitulah kegiatan bercinta lewat udara yang sampai sekitar 1 minggu. Hampir tiap hari aku lakukan, sampai pada suatu hari di siang hari ketika itu aku sedang asyik-asyiknya bercengkrama di pesawat dengan teman-temanku dan dia memanggilku untuk segera bergeser ke frekuensi yang sudah kami sepakati. Ternyata dia mengajak aku untuk “kopdar” alias ketemu di darat di suatu tempat yang kami sepakati. Tempat tersebut bertempat di suatu mall yang dijamin ramai oleh para pengunjung dan dia memberikan ciri-cirinya untuk disesuaikan dengannya pada saat ketemu. 1 jam kemudian aku telah sampai di mall tersebut dan langsung menuju ke McD dan mulai mencari-cari ciri-ciri yang dia sebutkan tadi. Ternyata di sebuah bangku ada seorang wanita muda seumuran denganku yang sedang duduk sendirian dengan minuman Fanta di meja, yang aku perkirakan sesuai dengan cirri-ciri yang dia sebutkan tadi.

“Vinna yah…?” aku coba menyapa dengan keragua-raguan dan dia pun menoleh.
“Irfan…?” dengan muka yang gembira dia menyapaku.
Mmmh manis juga nih cewek, tinggi 160 cm, rambut sebahu, kulit kuning terawat, dadanya aku taksir 34B, beratnya sekitar 45 kg, aku pun merenung sambil memperhatikan cewek di hadapanku ini.
“Duduk Fan..!!!” sambil memberikan tangannya untuk bersalaman.
Aku pun balas memberi tangan kepada dia, namun sengaja aku berjabat tangan dengan dia cukup lama, sambil mengelus-ngelus punggung tangannya dengan jempol kananku merasakan kehalusan tangannya sambil melihat bulu-bulu halus yang tumbuh di pergelangan tangannya.
“Mau pesan apa?” setelah melepaskan tangannya dia basa-basi bertanya, sambil agak berbisik.
“Belum saatnya dan nggak di sini…”
Aku pun balas berbisik,
“Jadi enaknya dimana?”

Dia pun tersenyum dan akhirnya kami pesan makanan, dan kembali lagi kami menuju meja tadi. Sambil memakan makanan yang sudah kami pesan, kakiku sudah mulai menunjukkan kenakalannya mengelus-ngelus betis Vinna yang kebetulan menggunakan rok panjang sampai mata kaki sehingga kalau Vinna berdiri, terlihat sangatlah anggun. Vinna terlihat diam saja seolah-olah tidak memperdulikan apa yang dirasakan, hanya sesekali dia melirik padaku sambil tersenyum genit dan makin membuatku melakukan gerilya kaki menuju betisnya.

Setelah selesai makan kami pun sepakat pergi jalan-jalan ke suatu tempat, kebetulan Vinna membawa kendaraan roda empat. Setelah di dalam mobil kami pun ngobrol kesana-kemari sampai Vinna menanyakan sesuatu kepadaku sambil memegang tanganku.

“Fan… kaki kamu nggak pernah sekolah yah Fan…?”
“Hehehe… abis kakiku udah nggak kuat ngeliat kaki kamu yang indah…”
“Kita cari tempat yuk..!” sambil mendekatkan mukanya ke arahku.
“Oke.. muaacch,” langsung aku sambar bibirnya yang merangsang itu.

Mendapat ciuman tersebut Vinna hanya tersenyum, dan aku pun makin berani di kala traffic light merah, aku melumat bibirnya sambil meraba pahanya dengan tangan kiriku, sementara tangan kananku memegang setir mobil. Kadang-kadang aku pun meraba dadanya sehingga Vinna merem melek keenakan. Akhirnya kami pun sampai di tepi pantai, lalu aku parkirkan mobil menghadap pantai yang kira-kira cukup sepi untuk bercinta.

“Gimana kalo di sini?” Vinna mendekat padaku dan melumat bibirku sehingga aku langsung memeluk dia dan membalas ciumannya. “Oooh Fan.. tiap malam aku horny berat niih, kamu pinter membuat aku merasa puas ketika kita lagi mojok, Faaan,” aku tak sempat merespon kalimat itu, aku sudah sibuk melumat, menjilat lehernya, kupingnya dan mulai menciumi dadanya sambil tanganku tak henti-hentinya meremas payudaranya yang masih tertutup bajunya. Akhirnya kami pun berpindah ke posisi jok mobil belakang, dan mulailah aku membuka kemeja yang digunakan Vinna, satu per satu kancingnya aku buka, dan respon Vinna pun membuka kaosku sambil sesekali mengelus dadaku yang sedikit berbulu. “Faan… buat aku puas Faan… mmmh,” sambil memeluk eratke tubuhku. Kubalas pelukan itu dengan tanganku membuka kancing pengait BH-nya dan terbukalah dua buah gunung yang indah, halus, dengan puting yang memerah dan “Oooh… Vinnn, muaach… muaach… mmmh,” aku pun dengan penuh gairah merasakan kehalusan gunung itu sambil sesekali menjilati puncak gunung itu dan reaksi Vinna begitu terangsang oleh perlakuanku itu, matanyamerem-melek, dan dari mulutnya terdengar desahan yang sangat menggairahkan.

Aku tekan-tekan mukaku ke kedua gunung itu, merasakan, menikmati, melumat kehalusan gunung nan indah itu, makin lama gunung itu makin mengeras, mengeras dan mengeras, dan secara bergantian Vinna menciumi dadaku dengan lembutnya, bibirnya yang mungil dan pipinya yang halus merambah dadaku dan sesekali melumat puting susuku sehingga membuatku kegelian dan semakin bergairah.Dan Vinna kembali menciumi tubuhku yang atas, bibir, leher, pipi, dan sebagainya yang membuat aku semakin bergelora. Tanganku pun tak tinggal diam mencopoti rok yang dipakai Vinna, dan tak lama kemudian terlihatlah paha mulus, putih, dan sedikit ditumbuhi bulu-bulu rambut kecil yang indah, dan langsung tanganku mengelus-ngelus paha Vinna nan indah tersebut. Vinna semakin bernafsu dan tanganku mulai mengelus-ngelus celana dalamnya Vinna yang agak basah karena terangsang berat. Lalu Vinna menyuruh aku melucuti semua pakaianku, akhirnya aku pun telanjang bulat dan Vinna pun melepas celana dalamnya dan mulai lagi kami saling memeluk, mencium, merasakan kehalusan tubuh masing-masing pasangannya, dengan sesekali burungku aku gesekkan ke rambut kemaluannya sehingga membuat Vinna menggelinjang keenakan, “Ohhh, mmmh,” sampai akhirnya dia kejang mengalami orgasme yang sangat didambakannya.

Dia pun tergeletak lemas dengan tubuh yang masih membujur telanjang dan aku bertanya,”Vinn, kamu masih perawan?” Dia pun menganggukkan kepalanya dan berkata bahwa dia masih ingin menjaga keperawanannya dan aku pun menyanggupinya dan memang aku masih perjaka juga, dalam arti belum pernah alat kelaminku masuk ke alat kelamin wanita. Aku pun kembali mencium bibir mungilnya dan kembali berpagutan saling mencium, meraba, memeluk dan menggesek-gesekkan alat kelaminku ke bibir kemaluannya sambil merasakan hangatnya bibir kemaluan yang ditumbuhi bulu-bulu halus terasa geli, hangat, halus pahanya, dan oohhh… dengan variasi-variasi yang aku miliki Vinna pun kembali mengejang dengan matanya tetap terpejam dan rangkulan pahanya kepinggangku semakin erat, Vinna mengalami orgasme lagi, “Mmmh Fann… ooh aku keluar lagi… mmmhhh,” dan Vinna pun kembali lunglai mengatur nafas dengan mata yang tetap terpejam, sementara aku tetap menikmati halusnya tubuh Vinna yang dimilikinya mengelus pahanya yang mulus, mencium dadanya yang membusung, melumat bibirnya dan seterusnya.

Dengan variasi-variasi yang aku miliki yang tidak akan kusebutkan di sini. Mungkin Vinna merasa bahwa aku belum mendapat kepuasan maksimal dan dia mencoba meraih alat vitalku dan mulai mengocoknya dan selanjutnya mengulumnya. “Oooh nikmat banget Vinnn…” sementara posisi sekarang sudah 69, aku tetap mengusap-ngusap paha Vinna yang mulus. Dan tak lama kemudian aku merasakan akan ada yang keluar dari alat vitalku, seolah-olah mau meledak dan… “Oooh Viinn, sayaang aku keluaaarr…” tepat mengenai mukanya dan sebagian lagi masuk ke mulutnya, dan aku lemas, alatku mengecil setelah tangan Vinna lepas.

“Ma, kasih yah Vinn…”
“Mmh, lain kali nggak usah di pesawat break lagi yah.”
Aku pun tersenyum dan mencium Vinna dengan lembut.
“Gimana Vinn.. suka?”
“Thanks yah… kamu tetap menjaga keperawananku… dan aku tetap puas.”

Akhirnya kami pun berpakaian dan tetap sepakat untuk melakukannya lagi nanti dan tetap menjaga keperawanan dan keperjakaan masing-masing dengan saling mengingatkan pada saatnya kami akan melakukannya lagi. Tak terasa keringat kami sudah membasahi jok mobil belakang, namun Vinna bilang tidak apa-apa, setelah selesai berpakaian, mobil langsung aku luncurkan ke jalan besar dan kami makan dulu di sebuah kafe dekat-dekat pantai sambil mengobrol tentang dunia breaker dan kami sepakat untuk berhenti dari dunia “ngebreak” dan akan dilanjutkan ke dunia petualangan yang lebih real namun tetap menjaga status kami sebagai perawan dan perjaka.

Sampai di tempat yang dituju akhirnya aku pamit pulang dan tak lupa kutinggalkan nomor HP-kukalau-kalau butuh bercinta denganku lagi walaupun hanya lewat pesawat telepon, dan Vinna pun memberikan kecupan mesra kepadaku dan berjanji besok malam akan meneleponku untuk bercinta lagi, yang jelas melalui pengalamanku di pesawat “ngebreak” sangatlah tidak masalah melalui pesawat telepon. Kritik, saran mengenai tulisan, dapat di alamatkan ke e-mailku terutama bagi para perawan yang masih ingin menjaga keperawanannya.

TAMAT


Leave a Reply

%d bloggers like this: