Monday 18 December 2017
Terbaru
Home / Umum / Perselingkuhan Yose dan Ana

Perselingkuhan Yose dan Ana

Namaku Yoze, umurku saat itu masih 26 tahun (1998) dan saat itu masih bekerja dan status pacaran serta masih anak kos. Aku anak lelaki yang tidak super special, tinggiku hanya 165 cm dan alat perang pun tidak super, hanya 13 cm dan normal. Kata orang, daya tahan tergantung dari kondisi fisik, jadi aku mengakui disaat aku fit, maka daya perang pun bagus, dan disaat tidak fit, daya perang pun menurun.

Cerita ini adalah kenyataan, walaupun agak sedikit dirubah tempat dan lokasinya. Pada hari itu aku sangat BT di kantor. Kerjaan telah kuselesaikan dan aku mulai iseng menelpon ke sembarangan nomor HP dan menelpon perusahaan-perusahaan kalau ada operator yang nakal yang mau kuajak ngobrol.

Dan saat itu aku kebetulan menghubungi ke PT. xxx (edited), dan diangkat oleh suara yang halus. Ketika aku asyik berbicara, dia pun mau menyambut kata-kataku, tanpa disangka ternyata operatornya adalah cewek, oke booo. Pembicaraan hari pertama hanya sekedar berbicara saja, tapi itu tidak putus sampai disana saja, karena besok dan lusanya aku masih sering menelponnya.

Namanya Ana, umurnya masih 21 tahun, tingginya 165 cm berbadan sexy, ukuran dada biasa saja, tapi dadanya itu wah, sangat padat dan berisi. Kalau dia model atau bintang film, barangkali saya pasti menduga kalau dia memakai silicon. Indah sekali dan sangat membuat nafsu bisa melonjak ke angkasa. Tapi ini asli lho. Bukan silikon. Dan warnanya itu coklat muda sekali, memang tidak pink, tapi sangat indah sekali berada di atas kulit putihnya itu.

Pembicaraan antara kami masih berlanjut dari hari Senin sampai hari Jumat, dan tidak disangka karena berbicara enak, dia sampai curhat habis-habisan ke saya, bahwa dia sudah pernah berhubungan tapi pacarnya telah meningalkannya 3 bulan yang lalu. Sekarang dia merasa sedih karena kesendiriannya. Pada hari Jumat itu tanpa disangka pembicaraan kami membuahkan hasil yang memuaskan, dan akhir yang memuaskan untuk kesokan harinya.

Yah, sebagai lelaki yang sudah punya pacar dan bertunangan, aku pun kadang masih mempunyai jiwa petualangan. Dia tahu saya telah bertunangan, tapi karena ngomong ‘ngalur-ngidul’ di Jumat siang itu, dia pun bersedia saya ajak menjadi selingkuhan saya.

“Hallo.., apa kabar hari ini..? Nggak makan siang..?” kata saya dalam telpon.
“Ya mau sih, tapi nggak ada yang nemenin.”
“Wah saya sih mau aja nemenin, kalo nggak masuk kerja. Kan kantor kamu deket ke kos saya, jadi kita bisa makan bareng. Tapi jangan makan bareng deh, dating siang hari aja, kan kalo bule abis dating bisa berlanjut tuh, bangunnya pagi hehehe.”
“Wah mau banget tuh, kapan bisanya? Udah nggak tahan juga nih.”
“Ayoo.., ke kiri nih ngomongnya,”
“Becanda tau, kan kamu udah punya tunangan. Saya nggak mau sampai kamu batal bertunangan, saya nggak mau gangu kebahagiaan kamu.”
“Yaaa tau, tau..”

“Tapi enak juga ya kalo bisa berselingkuh, tapi kita kan harus jaga masing-masing punya rahasia, cukup kita berdua yang tau. Kan kalau wanita ketahuan begitu kan bisa malu gede, dan saya juga nggak mau sampai hubungan saya.., ya kamu ngerti kan.”
“Ya saya sih ngerti kok, dan nggak mau merusak hubungan kamu. Tapi kan kamu harus apel, terus gimana mau berselingkuh..?”
“Ya bisa diatur donk, masa nggak bisa, hehehe… Mau donk yanggg.. (kami sering pangil Yang, Cinta, dan istriku dengan panggilan Honey)”
“Wah, kalau gitu kamu cakep nggak..?”
“Ya sedang aja deh, pasti nggak kecewain, tapi saya takut nggak kuat nih, soalnya kan nggak master selingkuh, hehehe…”
“Ya ntar saya ajarin deh caranya.”
“Yeee.., kaya master aja, dah sering ya..?”
“Yeee.., enak aja, nuduh deh..”

“Eh, besok Sabtu kemana..?”
“Saya kan kerja, kantor lokal kan Sabtu masuk setengah hari.”
“Gimana kalo pulang kerja saya jemput..?”
“Ok aja, kalau gitu perselingkuhan dimulai besok aja ya, hehehehe..”
“(Serius..!) Kamu serius nih, mendingan liat saya dulu, suka nggak..?”
“Suka aja, abis suara kamu seksi deh.”
“Ok, sekarang gini deh, mendingan kamu liat saya dulu, kalau kamu suka, kita lanjutkan. Tapi saya nggak mau berselingkuh selamanya, kita pake batas waktu aja, karena takutnya kalo keterusan nantikan bisa tumbuh rasa cinta, kan saya bisa berada di antara kebingungan memilih ntar.”
“Yee.., sok laku Papa nihhh..”
“Ya nggak pa-pa donk, jaga-jaga.”
“Ya, agreee deh…”

“Kalau begitu kita selingkuh 3 bulan aja, mau..?”
“Ok nih, bener, ok besok kita mulai, ok..?”
“Ok, siapa takut..?”
“Ya udah deh saya mau makan dulu, besok saya call lagi ok Mami..?”
“Ok Papi, sampe besok.”
“Kalau sempat, sore ntar saya call ok, muacchh, cup, cup.. cup..”
“Muaachh.., cup Papi, byeee dadaa..”
“Ok, sampe besok or ntar sore, byeeee dadaa..”

Ya, setelah pembicaraan itu aku tidak tahan deh, kebayang terus, dan sorenya aku sempat menghubunginya sebentar dan akhirnya kami yakin besok bertemu di kantornya.

Pagi-pagi aku sudah bangun. Ketika keluar kamar, anak-anak kos mengajak ke bowling, katanya mau olah raga terus mau nonton siang dan kembali malam. Saat itu aku sudah ada janji dengan Ana, tentu saja aku tidak mau ikut mereka.

Jam 10 pagi kusiapkan makanan, membereskan kamar, tidak lupa aku mengepel kamarnya, karena di tempat kosku pembantu hanya datang pagi hari, tetapi sore harinya ngepel, cuci baju dan strika. Setelah semua beres, aku mulai menata kamarku dan meja kecil. Aku juga menyediakan makan serta lilin kecil, dan musik sudah kusiapkan di VCD-ku.

Jam 11.30 aku menelponnya lagi sambil bercanda.
“Hello Mami, lagi ngapain..?”
“Lagi mikirn kamu, takunya ntar saya diperkosa, hehehe..”
“Tapi suka kan, hehehe..”
“Suka donk, tapi nggak boleh sekali, mesti sering kali.”
“Yeee.. Kamu lagi ngapain..?”
“Kamu lagi ngapain..?”
“Ehmm, lagi nonton film blue, biar belajar dulu jurus perkosaan, hehehe..”
“Asyik.., ntar diperkosa, hehehe..”

“Ya, udah jadi ngejoni nih, kamu pake baju warna apa, ciri-ciri kamu gimana..?”
“Saya hari ini pake baju putih, rok mini warna coklat muda dan blazer saya juga coklat muda, rambut panjang, pake sepatu hitam haknya 5cm, sexy dan rambut agak coklat panjang sebahu. Gimana..? Cakep nggak, and kamu..?”
“Oke banget, Mom, saya pake jeans biru tua, baju kaos putih, rambut pendek hitam dan pake sendal deh.., hehehe..”

“Lho, kok kamu belon jalan, kan mau makan siang, mau makan dimana kita..?”
“Kamu tau beres aja deh, biar saya yang atur, ok..? Asal nurut aja..”
“Ok deh, saya makan semua kok, apa aja asal jangan daging orang, ok Papi..?”
“Ok, saya jalan sekarang ya, biar cepat liat tuan putri nan jelita nih..! Hehehe..”
“Ok see you soon, muahh..”
“Muachhh.., byeee..”
“Byee Papii..!”

Aku langsung ke kantornya, jam 12 kurang 5 aku sudah sampai. Kantornya hanya ruko biasa di komplek rukan. Setelah ketemu kantornya, kuparkirkan mobilku sedikit agak jauh, dan kuhubungi dia. Dia bilang tunggu 5 menit, dan aku menunggu. Setelah 5 menit, aku melihat gadis cakep, sexy, tidak seperti saya bayangkan, seorang operator agak hitam, jelek, tapi ini lain.

Aku turun dari mobil dan aku menghampirinya. Kami bersalaman biasa saja, dan langsung ke mobil. Di mobil aku mulai berbicara mencairkan kekakuan di antara kami. Dan dia pun mulai bercanda seperti kami di telpon. Ketika mobil melaju melewati pintu parkir keluar dari perkantoran, aku mulai bercanda cium sayang buat Papa Mana.
“Cup, cup, cup..” tiga kali ciuman lust (birahi).
“Ya.., gituan dikatain birahi, kemaren anak tetanga saya juga sun kaya gitu, hehehe..” candanya.

Tanpa disangka, Ana memegang belakang kepalaku dan menariknya dengan lembut dan melumat bibirku. Uh.., beberapa detik aku melayang ke angkasa, ternyata bibirnya yang terbal dan indah itu sangat luar biasa, lembut. Lidah itu sempat masuk menyapu langit-langit dan menyentuh lidahku. Tapi itu hanya bisa beberapa detik, karena aku harus langsung memutar mataku ke arah jalan. Tanpa melepaskan pertemuan bibir dan bibir itu, aku melihat dari sudut mata ke arah jalan untuk tetap membagi pikiran antara kenikmatan dan mengendarai mobil.

Setelah beberapa detik, dia tertawa, “Ayo.., nggak bisa konsen kan, hahaha…” katanya.
Aku hanya bisa senyum dan sedikit menantang, “Tunggu aja ntar satu jam..” kataku singkat.
“Wah.., kalau gitu godain lagi dehhh..”

Sepanjang jalan yang hanya 20 menit terasa sangat lama, dan apa lagi dia terus mengodaku sambil tidak lupa bertanya makan siang dimana. Kujawab, “Ikut aja deh..”
Jam 12.30 mobilku masuk ke pekarangan, dan parkir tepat di depan kamarku. Rata-rata kamar di sini bisa parkir mobil di pintu kamar masing-masing.

Aku langsung turun, dan dia tidak mau kalah sambil sedikit bergaya berlari kecil menuju pintu kamar. Tapi sekali lagi mataku hanya dapat terperangah melihat keindahan baju bagian atasnya yang bergerak indah sekali, dan pingulnya itu, ahh…
Kubuka pintu kamar, dan, “Taram.., makanan sudah tersaji tuan putri,”
“Wah asyik.., enak sekali, wah ada ayam goreng, ada swike, ada cap cay, makan yoo.., laper nih..!”

Kami makan dengan mesra sambil suap-suapan. Beberapa kali Ana melakukan gerakan lain dari yang lain untuk suapannya, dia mengigit ayamnya dan menyuapkan ke mulutku, tapi setelah aku membuka mulut, yang masuk ayamnya, dan berikut bonus lidahnya yang ehmm..

Di tengah-tengah kami makan, Ana kembali menanyaiku, “Yoz.., mana film blue-nya..?”
Aku hanya ketawa, dan Ana pun mengerti bahwa tadi hanya bohongan. Dan seterusnya Ana bergaya agak kecewa.
Aku saat itu merasa mengecewakan tamuku, dan langsung aku kembai menawarkan, “Kamu mau nonton beneran..? Mau yang mana..? Asian, Bule apa Negro nih..?”
Dan Ana pun menjawab, “Bule deh..”

Aku segera menuju tumpukan CD-ku, musik slow yang mengiringi makan kami pun kuhentikan dan diganti dengan film ‘uh ah uh ah’. Acara makan pun semakin bertambah hot, sementara itu tangan sudah tidak memegang sendok lagi, dan sudah berjalan kemana-mana. Ana menyuapiku dengan mulut dan melumatku sambil tangannya yang nakal mencoba mencopokan celanaku, mulai dari ban pinggang, membuka resleting dan kancingnya. Kemudian dia menarik celanaku sambil cekikikan.

Sekarang saya sudah tidak bercelana lagi, hanya celana dalam saja yang ada. Kembali Ana menarik bajuku hingga hanya celana dalam yang masih melekat di badanku. Anuku sudah kelihatan dari depan dan Ana mengelusnya dari luar, kemudian mengambil makanan lagi, mengigitnya, dan ketika suapan mulut berikutnya itu sampai lagi, aku pun tidak memberi dia waktu untuk menariknya, langsung kulumat sedalam-dalamnya dan sangat lama sekali.

Setelah merasa puas melumat, tanganku pun mulai menjalar ke dadanya yang indah, dan uhh.., sangat empuk sekali. Sambil tetap mencium leher, kuping dan pundaknya perlahan-lahan, kancing baju putihnya mulai kubuka. Baju putihnya pun terbang entah kemana, ciuman di atas bra pun sangat nikmat, dan harumnya uhhh.. Kembali kucium lehernya dan kupingnnya yang indah, harum sekali, dan bra pun mulai melepaskan bebannya menahan bukit indah nan putih itu.

Ciuman pun mulai turun dari leher ke dadanya yang indah dan berwarna coklat muda, dadanya yang putih dan perutnya yang datar membuatku bertambah semangat. Kuputar lidahku di seputar bukit indah itu, dan secara perlahan lidah mulai menyentuh putingnya yang kecil itu.
Dan, “Uhhh…” terdengar suara melenguh dari bibirnya yang seksi itu.
Ciuman terus bergerilya naik turun dari puting ke arah ketiaknya, lengannya, balik ke dadanya dan rok pun terbang entah kemana.

Mulai secara perlahan, sasaran tempur pun berubah. Sambil mencium dadanya perutnya, tanganku mulai mengelus lututnya dan naik ke atas menyentuh vaginanya, dan terdengar kembali lenguhan yang sangat keras. Ciuman mulai turun ke selangkangan di tepi-tepi celana dalamnya yang coklat muda itu dan mengelilingi pahanya. Sambil menarik celana dalamnya, kuciumi anusnya, dan dia pun ketawa kegelian, dan nikmat sekali.

Ketika ciuman mulai naik ke atas dan berputar di antara anusnya dan vaginanya, dia pun berteriak keras kenikmatan, lidahku terus bergerilya menajak, menyentuh labianya. Dengan satu gerakan cepatku, ujung lidahku naik ke klitorisnya. Ketika badan lidahku bergerak menusuk kemaluannya, tidak terduga tangannya dengan kasar menjambak rambutku dan menekan sedalam-dalamnya ke liang kemaluannya. Kubiarkan kepalaku menjadi bola mainannya, dan kepalaku berputar-putar terus, dan terus.

Sedang asyiknya aku bermain dengan lidahku, terdengar erangan, “Fuck me pleasee..!”
Aku pun tersadar, dia ingin merasakan kenikmatan dengan anuku di dalamnya. Ana berusaha bangkit untuk menarik celanaku, tapi aku tetap menekannya. Karena aku tidak ingin dia kehilangan kenikmatan, aku tetap menjilat-jilat dengan buas di bawah. Aku menekan tanggannya, dan aku mulai melepaskan CD-ku.

Dan dua insan sekarang berada dalam keadaan tanpa benang, tanpa diduga Ana menyerangku, dan mendorongku dengan kuat, sehinga aku telentang. Ana memegang anuku dengan lembut tapi cepat sambil sedikit melakukan gerakan mengocok dan seperti menunggang kuda. Dia mulai seperti menaiki pelana dan mengarahkan pingulnya, selangkanganya, kemaluannya.

Sedetik kemudian aku dapat merasakan secara perlahan Ana menyentuhkan anuku ke klitorisnya, megosok-gosokkannnya.
“Scchh..!” aku mendesak nikmat.
Kututup mataku, dan dan kulihat Ana pun menutup matanya sambil menengadah ke atas. Kurasakan Ana secara sangat perlahan menurunkan pinggulnya, memperdalam masuknya anuku ke dalam vaginanya. Dan seperti penungang kuda umumnya, dia mulai mendesis keras dan memacu kudanya secepat-cepatnya dan semakin cepat. Kutahu Ana akan segera menikmati orgasmenya dan aku mulai sedikit bangun dan mengulum puting kirinya, mengusap lembut dada kanannya, dan tangan kananku memeluk pinggannya.

Beberapa detik kemudian Ana berteriak cukup keras, “Akhhh..!” dan gerakannya semakin buas, dan memelukku sekuat-kuatnya.
Ana menekan kepalaku lebih keras ke dadanya, dan aku membalas pelukannya dengan menguatkan pelukanku dan kulumat bibirnya. Ana terlihat tersenyum tanpa kelihatan lemas, dia kembali mencium keningku, dan terus masih menggerakkan pinggulnya, kulihat masih ada sisa-sisa kenikmatan yang dia rasakan. Aku masih merasakan remasan-remasan kemaluannya yang begitu nikmat dan perlahan.
Dia mulai mencium kupingku dan membisikkan, “Akan kubuat Papi merasakan hal yang sama..!”

Ana kembali menekanku, sehingga aku jatuh telentang dan mulai bergerak liar. Aku tidak tahu apa yang terjadi, yang pasti ketika aku mulai hampir mencapai puncakku. Aku mengatakan kepada Ana aku hampir sampai, tapi yang Ana lakukan malah memperlambat gerakannya dan menurunkan tangannya dan memainkan klitorisnya. Ternyata Ana jago dalam multi orgasme. Ketika aku mulai menahan nafas dan mulai mengigil kecil dan menahan teriakan kenikmatan, Ana pun beguncang untuk waktu yang lama. Ternyata kami orgasme berdua, dan kali ini Ana pun duduk di pelana tanpa bergerak, semenit kemudian dia rubuh menindihku, dan membisikkan, “Yoz.., dua kali lho Yoz.., enak.”

Aku terbang melayang dan bangga pada diriku, aku dapat memuaskannya. Karena kalau onani aku hanya semenit lho sudah keluar, tapi kali ini aku mampu memuaskannya, dua kali lagi. Kami beristirahat sambil menonton blue film. Sambil tiduran Ana menyentuh alat vitalku yang biasa saja, dan mulai mengelus-elus, dan kami pun berlanjut lagi. Jam 4.30 ana mulai menuju kamar mandiku dan mulai membersihkan tubuhnya, dan aku pun menyusul. Kami mandi berdua. Dan dalam keadaan mandi, Ana pun masih sempat menghisap kemaluanku.

Setelah mandi aku lebih dahulu berpakaian dan duduk, kemudian menggeser meja kecl di tengah kamarku. Ana pun keluar dari kamar mandi dengan gaya sensual sekali, dan sedikit malakukan gerakan striptease dalam mengeringkan tubuhnya, indah sekali. Selesai itu aku mengambil CD, bra dan baju Ana, dan mengenakan seperti anak kecil. Tidak lupa aku mengulum putingnya dan mencium lembut Ana. Kejadian ini berulang setiap Sabtu.

Aku sangat kagum kepada Ana, dia tidak lupa menanyakan kalau hari ini malam minggu dan menanyakan kenapa aku tidak apel.
“Yoz.., nggak usah antar saya pulang, sampai depan aja. Saya sambung naik taxi, kamu apel sana.., jangan kecewain tunangan kamu ya..!” itulah yang dikatakannya.
Malamnya aku merasa bersalah pada tunanganku, tapi setan lebih kuat menggoda, dan kami menjalankan hubungan ini selama 3 bulan. Setelah itu kami berpisah tanpa pernah menelpon dan berhubungan lagi.

Saat ini aku telah menikah. Pernah aku bertemu Ana di mall, bulan lalu (September 2001) tapi kami masing-masing memegang rahasia dan kami pun tidak bertegur sapa, sampai detik ini. Dan kekagumanku adalah karena Ana memang menjalaninya sebagai selingkuhan murni, dan selama berselingkuh dengan Ana, dia selalu menasehatiku jika aku bertengkar dengan tunanganku.
“Ingat.., kamu sekarang berselingkuh merasakan lebih nikmat, sehingga kamu seperti ini. Kamu jangan begitu, kamu harus mengalah, dahulukan dia. Kalo nggak, jatahmu tidak dapat lhoo..!” selalu begitu nasehatnya.
Juga dorongan dalam kerjaan, dia benar-benar seseorang yang dapat mendukungku.

Ya, semua begitu indah tapi percayalah, selingkuh hanya selingkuh. Mungkin kalau kami jadian juga tidak akan perfect, karena rasa curiga akan perselingkuhan lebih lanjut. Dan selingkuh dengan istri akan selalu memilih istri pada akhirnya. Jadi jika anda ingin berselingkuh, murni saja, jangan setengah-setengah.

TAMAT


Leave a Reply

%d bloggers like this: