Pengalamanku

Ini benar-benar kisah nyata terjadi pada diriku. Aku menulis cerita ini hanya karena ingin input dari para pembaca. Peristiwanya terjadi beberapa tahun yang lalu, waktu itu aku masih kuliah tingkat-tingkat awal di Jakarta. Dalam kesempatan liburan, aku pergi menemui saudaraku di kota Bandung. Secara tidak sengaja aku berkenalan dengan seorang wanita berumur (waktu itu) sekitar 26-27 tahun, sedangkan umurku (waktu itu) awal 20-an. Kami berkenalan di atas kendaraan umum (angkot). Sebut saja namanya Eva (nama samaran). Karena aku tidak punya acara khusus, aku ikut saja waktu diajak jalan-jalan nonton. Setelah itu kami berpisah dan ia sempat memberiku alamat.

Kemudian aku kembali ke Jakarta. Aku mengirimi dia surat tapi tak satu pun yang dibalas. Di Jakarta aku sendiri kost (ortuku di kota lain) jadi sering berpindah-pindah juga. Selama bertahun-tahun kami tidak pernah kontak lagi bahkan lewat surat sekalipun. Akhirnya aku mengirim surat lagi entah keberapa kali, kuberikan alamat kostku yang baru lengkap dengan nomor telepon. Tidak dijawab. Baru kemudian suatu hari Mbak Eva meneleponku, katanya dia sekarang bekerja di Jakarta. Itu terjadi 4-5 tahun setelah perjumpaan kami yang pertama.

Kemudian Mbak Eva memberiku alamat kostnya di daerah Kota. Aku sudah selesai kuliah saat itu dan bekerja di sebuah perusahaan swasta. Pada suatu hari minggu aku cari alamat kostnya dan ketemu. Tempat kostnya sangat lengang, rapi dan ber-AC. Aku tidak tahu apa pekerjaannya. Waktu aku ke sana ia sedang mandi jadi aku tunggu di ruang tamu. Akhirnya dia muncul! Wajahnya sama seperti dulu, tinggi, cantik, putih, matanya kecoklatan, badannya pas sekali. Ia memakai baju handuk panjang. Aku hampir-hampir tidak mengenalinya. Singkatnya ia mengajakku ke kamarnya karena lebih nikmat ngobrol di sana katanya. Terus terang aku grogi. Tapi kami hanya ngobrol saja. Sikapnya seperti seorang kakak terhadap adiknya.

Di kamarnya itu hanya ada satu kursi rias, jadi aku duduk di tepi tempat tidur. Dia pun akhirnya mengikutiku duduk di sana. Kami bertukar cerita kemana saja selama ini. Secara tiba-tiba Mbak Eva mengecup bibirku, aku kaget setengah mati, tidak menyangka ia akan melakukan itu terhadapku. Ia mendorongku untuk berbaring sambil mulai membuka pakaianku dan menciumi setiap inchi tubuhku. Anehnya aku diam saja walaupun ketakutan. Setelah itu ia membuka baju handuknya dan ia tidak mengenakan apapun. Aku masih berbaring tidak tahu harus bagaimana. Kemudian ia merebahkan tubuhnya di atas tubuhku sambil menyuruhku menciumi tubuhnya. Ia bergerak pelan-pelan ke atas hingga bibirku yang ada di bawah (aku selalu berbaring) otomatis mengikuti arah ia menggerakkan tubuhnya, dari bibir, dada terus hingga berhenti di selangkangannya.

Terus terang aku tidak ingin menceritakan secara detil karena pasti akan vulgar, dan aku pun tidak pandai merumuskannya kembali. Singkatnya, seharian itu aku benar-benar “dikerjain” dan ia tidak memberi kesempatan sedikitpun buatku untuk berada di atas. Ia bergerak dan terus bergerak, sementara aku dibiarkannya menggelepar-gelepar kehilangan keperjakaanku. Hari sudah sore dan kami “selesai”. Aku pulang. Sejak itu aku beberapa kali mampir ke kostnya tapi tidak pernah mengulangi lagi. Pertama karena aku trauma, kedua karena tempat kostnya kebetulan sedang ramai (penuh) jadi tidak mungkin masuk ke kamarnya. Mbak Eva pun tidak pernah lagi menyinggung soal itu, hubungan kami baik sekali seperti kakak-adik. Beberapa bulan kemudian dia cerita bahwa dia kini sudah punya pacar dan harus pindah dari tempat kostnya. Kemudian ia pindah. Saat ini aku kehilangan jejak. Entah ia ada di mana, rumahnya di Bandung pun tidak dihuni lagi. Sekarang aku tidak pernah lagi mendengar tentangnya.

Aku ingin menekankan keadaanku sekarang. Sejak itu rasanya aku tidak bisa melupakan pengalamanku dan melupakan Mbak Eva. It must have been love, but it’s over now, kata sebuah lagu. Selain itu aku jadi susah untuk fallin’ in love lagi. Bayanganku selalu pada wanita yang beberapa tahun usianya di atasku, anggun, tenang, berwibawa, tapi bisa tiba-tiba wild dan mengerjai aku dari atas. Aku tahu bahwa keadaan psikologisku ini tentunya tidak sehat. Bagaimanapun aku harus melupakannya, tidak boleh murung dan mencoba untuk “sembuh” serta mau mendekati wanita lain. Saat ini aku sudah bekerja dengan baik, dengan penghasilan yang cukup. Rasanya tidak ada yang berubah dalam diriku, kecuali dampak kejiwaan dari peristiwa itu, beberapa jam yang menegangkan dalam hidupku.

TAMAT

Leave a Reply