Tetanggaku dan Kekasihku 03

Sambungan dari bagian 02

Pada minggu pertama liburan cawu II sungguh suatu moment yang tidak pernah kulupakan seumur hidupku. Kami berdua tidak pernah melewatkan kesempatan untuk bercumbu setiap hari. Kami biasa melakukan siang hari saat Oom U di kantor, saat itu di rumah hanya ada Tante U saja, kedua anaknya masih berlibur di Jakarta. Pada hari ke-8 liburanku, Oom U ke Jakarta untuk menjemput anaknya. Oom U di Jakarta selama 4 hari. Oom U berangkat dengan pesawat terakhir, kami berdua mengantar kepergiannya ke bandara. Begitu pesawat Oom U lepas landas, kami bergegas menuju mobil. Tante U menyetir mobil, tanganku mengelus lembut pahanya menyusup masuk ke dalam bawah rok mini ketat yang dipakainya.

Secara meyakinkan tanganku menyelusup masuk ke dalam celana dalamnya dan jemariku langsung bermain-main di bibir vaginanya, dan selanjutnya menyelusup masuk ke liang vaginanya. Tante U mendesis dan merenggangkan pahanya, sehingga jemariku semakin leluasa mengobok-obok liang vaginanya. Tante U terus melajukan mobilnya, tidak langsung pulang ke rumah, namun mengambil jalan memutar melalui jalan tol.

Senja mulai temaram, Tante U mengajakku ke rumah temannya. Amboy.., sebuah rumah yang indah dan besar, dengan halaman yang amat luas. Sepertinya Tante U sudah biasa datang ke sana, sebab begitu sampai di gerbang rumah tersebut, si penjaga pintu segera membukakan pintu gerbang dan langsung Tante U mengarahkan mobilnya ke halaman belakang dan memarkirnya di garasi, di belakang rumah. Aku semakin tidak sabar, segera kubuka rok mininya, langsung kulepas CD-nya.

Masih di dalam mobil, di garasi, kucumbui dia, kurebahkan sandaran kursinya, dan segera kujilati celah nikmatnya. Kami berdua sudah benar-benar lupa diri, barangkali kalau tidak ada ketukan di jendela mobil, kami berdua sudah melakukan senggama di dalam mobil. Segera kami berdua bangkit dan segera mengenakan serta merapihkan pakaian kami.

Kami turun dari mobil, nampak seorang pemuda berdiri dekat mobil kami dan tersenyum sambil menyapa, “Slamet sore Tante..”
Tante U segera menghampiriku dan menggandeng tanganku dengan mesra. Kudekap pinggangnya dengan erat. Kami berdua berjalan menuju ke dalam rumah, di belakang kami pemuda tadi berjalan mengikuti. Di depan pintu menunggu seorang perempuan setengah baya yang tidak kalah cantiknya dengan Tante U menyambut kedatangan Tante U. Keduanya berpelukan dan ketawa-ketawa. Sesaat Tante U bicara dengan perempuan tersebut, aku tidak mendengar apa yang mereka cakapkan. Mata perempuan tadi tidak henti-henti menatapku seolah hendak menelanku.

Tidak berapa lama Tante U menghampiriku, lalu setengah berbisik dia berkata padaku kalau Tante H (kenalan Tante U, yang tidak lain pemilik rumah) ingin tidur denganku. Aku benar-benar kaget, dan segera Tante U kutarik untuk kuajak pulang. Tante U menepis tanganku dan membujuk kembali agar aku bersedia melayani Tante H. Segera Tante U memutar badannya dan mendekati pemuda tadi, ditariknya pemuda tadi menuju ke sebuah kamar.

Terdengar pintu kamar ditutup, dan mereka berdua hilang dari pandang mataku. Aku hanya berdiri mematung melihat pemandangan tadi. Entah perasaan apa yang ada di dalam hatiku, rasanya hatiku hancur membayangkan apa yang bakal dikerjakan mereka berdua di kamar.

Beberapa saat aku masih berdiri mematung, hingga tidak terasa olehku sebuah tangan memegang bahuku dan membimbingku menuju ke sebuah kamar lainnya. Kuakui Tante H memang cantik, kulitnya putih bersih dan harum wangi badannya. Sesaat sebelum masuk ke kamar, kutarik tanganku hingga terlepas dari genggamannya. Dengan suara tertahan di tenggorokan, kukatakan padanya kalau aku tidak mau meladeninya. Tante H kembali membujukku, tiba-tiba terlintas di benakku ide gila. Kukatakan aku mau meladeninya, tetapi kami harus melakukannya di depan mata Tante U, artinya kami bermain sex di kamar yang sama dengan kamar Tante U.

Tante H tersenyum dan segera menarik tanganku menuju ke kamar yang tadi dimasuki Tante U. Diketuk pintunya, tidak berapa lama pemuda tadi membukakan pintu. Dengan sedikit dorongan tubuhku, aku menerobos masuk ke kamar. Kulihat dengan mata kepala sendiri, Tante U tanpa busana di atas peraduan, dan pemuda tadi juga tidak mengenakan sehelai benang pun dengan penis masih tegak berdiri.

Aku benar-benar jengkel dan masygul, tetapi aku tidak dapat berkata apapun. Aku sudah dapat membayangkan apa yang baru saja mereka lakukan. Tante H menyusul masuk, segera dia tutup pintu serta menguncinya. Tante U bangun dan segera mendekatiku, sepertinya dia tahu perasaan yang berkecamuk dalam dadaku. Dibimbingnya tanganku dan didorongnya aku hingga badanku telentang di atas dipan.

Satu persatu pakaian yang melekat di tubuhku dilepaskannya. Aku diam saja, membiarkan apa yang dia lakukan. Hatiku masih terasa perih memikirkan apa yang diperbuatnya bersama dengan pemuda tadi. Saat dia melepas celana dalamku, dielus-elus penisku dengan lembut dan segera dikulum di dalam mulutnya. Dengan merasakan nikmat di batang penisku, perlahan-lahan emosiku menurun. Kutarik badannya ke atas dan segera kucumbui dia dengan kasar dan buas. Kugigit-gigit puting susunya, lalu kujilati seluruh tubuhnya, dan akhirnya celah vaginanya juga tidak luput dari jilatan lidahku. Terdengar erangan dari rintihan nikmat dari mulutnya. Tante H dan pemuda tadi memandang adegan yang kami lakukan dengan mata hampir tidak berkedip.

Tante U benar-benar merasakan nikmat yang luar biasa, tidak malu-malu dari mulutnya keluar teriakan dan erangan keras. Pemuda tadi mendekati Tante H, dan mencumbunya. Perlahan-lahan direbahkan tubuh Tante H di atas lantai yang ditutup karpet tebal. Satu persatu baju Tante H ditanggalkan. Aku tidak perduli dengan apa yang mereka lakukan, perhatianku tercurah penuh pada tubuh Tante U, yang ternyata tanpa kusadari kucintai dengan segenap hati dan perasaanku.

Sesaat kemudian.
“Nugi.. ayo Nug.., Tante udah pingin sekali.. Ayo Nugi.. masukan.. ohh.. ah.. masuuk.. Nug..!” dicekalnya penisku dan digiring menuju liang kemaluannya.
Sebelum dibenamkan ke dalam vaginanya, digesek-gesek ujung kemaluanku pada bibir vaginanya. Akhirnya aku pun tidak tahan, dengan sentakan keras kubenamkan penisku ke dalam kamaluannya. Bagai kesetanan, kugenjot keras-keras penisku keluar masuk vaginanya.

Tidak ada rasa malu atau sungkan, Tante U memperdengarkan teriakan dan erangan histeria menahan nikmat keluar dari mulutnya pada saat kutekan masuk penisku ke vagina Tante U.
“Ohh God.. ohh… yachh.. yach.. teruus.. terus.. Nug.. ach.. ach.. oh.. oh.. oh..”
Saat Tante U hampir orgasme, kucabut penisku dan segera aku bangkit menghampiri Tante H yang telah selesai bermain dengan pemuda tadi beberapa saat yang lalu. Nampak Tante U kecewa sekali. Aku memang ingin melampiaskan rasa dongkolku tadi padanya.

Kuraih tangan dan kutarik bangun Tante H, segera kubopong dia dan kurebahkan di atas dipan bersebelahan dengan tubuh Tante U. Kutindih tubuhnya dan langsung kutancapkan penisku di kemaluannya, langsung melesak amblas. Liang vagina Tante H terasa amat licin dan basah karena sudah dilumasi oleh pemuda tadi. Kugenjot keras-keras penisku di liang vagina Tante H, dan segera terdengar lolongan dan erangan dari mulutnya. Pemuda tadi mendekati Tante U dan hendak menggauli Tante U lagi. Segera kudorong tubuhnya dan kucabut penisku dari vagina Tante H, langsung kuarahkan ke vagina Tante U. Aku benar-benar tidak rela vagina Tante U dimasuki penis lelaki lain, apalagi dibanjiri oleh sperma lelaki itu.

Kutancap keras-keras vagina Tante U. Tante U melolong histeris.. dan sesaat kemudian gerakan tubuhnya menggila dan dikepitnya pinggulku dengan kedua kakinya erat sekali. Tidak lama kemudian terasa hangat batang penisku diguyur oleh cairan vaginanya. Kulirik di sebelahku Tante H sedang digeluti oleh pemuda tadi. Namun rupanya pemuda tadi tidak sanggup bermain lama, belum sampai Tante H mencapai klimaks, dia sudah terkapar loyo. Tante H nampak merasa kesal, didorongnya tubuh pemuda tadi hingga jatuh ke bawah dipan. Ditarik badanku dari pelukan Tante U dan dibuat dalam posisi tidur telentang penisku nampak mencuat tegak berdiri. Ditindih tubuhku dan dimasukkan penisku ke vaginanya.

Sambil jongkok di atas tubuhku, digerakkan pantatnya naik turun. Tante H mengerang-ngerang nikmat. Akhirnya tubuhnya bergetar hebat dan kembali terasa kehangatan mengguyur batang penisku yang terbenam amblas di vagina Tante H. Tante H menjatuhkan tubuhnya di atas tubuhku dan melumat mulutku agak lama. Sesaat kemudian direnggangkan pelukannya, dan sambil menatapku dia tersenyum, senyum penuh rasa kepuaasan. Penisku masih terbenam dan mengeras di liang vagina Tante H.

Perlahan kudorong tubuh Tante H ke samping, segera kuraih Tante U. Dan kupaksa dia melayaniku lagi. Penisku terus merangsek dan mengobok-obok kemaluan Tante U.
Rintihan dan erangan nikmatnya keluar lepas dari bibirnya, “Oohh.. ach.. Nugi..”
Aku tidak memperdulikan lagi rintihan dan erangannya, dan semakin kutambah energi genjotan penisku di vaginanya. Dan akhirnya, klimaksku tercapai. Semburan cairan maniku mengalir masuk seperti ledakan gunung berapi ke vagina Tante U. Benar-benar suatu momen yang luar biasa.

Tante H dan pemuda tadi masih melanjutkan permainan mereka. Tante H dalam posisi doggy style. Pemuda tadi menghunjamkan penisnya dari belakang. Terlihat Tante H menikmati hunjaman penis si pemuda. Tidak berapa lama si pemuda mengerang keras, ditariknya penisnya dan dibuang air maninya di atas punggung Tante H. Melihat pemandangan itu, aku tidak tahan, segera setelah pemuda itu terbaring di tempat tidur, segera kuhampiri Tante H. Tanpa kutanya lagi, langsung kubenamkan batang kemaluanku ke vaginanya dalam posisi doogy style.

Kembali terdengar rintihan dan erangan dari mulut Tante H. Orgasme dicapai Tante H, namun aku belum. Kubalik posisi Tante H. Kutelentangkan tubuhnya, kubuka lebar-lebar pahanya, dan langsung amblas penisku ke dalam vagina Tante H. Sampai akhirnya puncak kenikmatann kuperoleh juga. Kutumpahkan benihku ke dalam vagina Tante H.

Hari Minggu sore, Oom U datang dari Jakarta, kedua anak Tante U ikut serta bersamaya. Suatu hari sepulang aku dari kencan ketigaku dengan Tante U di rumah Tante H, di dalam mobil Tante U bilang kalau Oom U hendak kursus di Jakarta selama 4 bulan. Mendengar itu aku amat gembira. Dapat kubayangkan hari-hari yang menyenangkan saat aku dan Tante U bercinta sepuas hati setiap hari.

Benar kata Tante U, hari minggu malam, Oom U berangkat ke Jakarta naik kereta api, aku diminta Tante U menemaninya mengantar Oom U ke stasiun. Tentu saja dengan senang hati kulakukan hal tersebut. Saat mau berangkat, Oom U berpesan kepadaku untuk menemani Tante U dan anak-anaknya di rumah. Aku mengangguk mengiakan dan melirik Tante U, Tante U tersenyum penuh arti padaku.

Saat pulang dari stasiun, Tante U menyetir mobilnya sambil tangannya meremas tanganku, sementara dua anaknya duduk di jok belakang sambil bercanda. Kuremas tangannya dan kucium punggung tangannya, Tante U tersenyum penuh arti. Selanjutnya selama 4 bulan kami lalui hari-hari indah kami, aku sering diminta Tante U menemaninya ke super market untuk belanja atau untuk keperluan lain, padahal kesempatan itu sering kami pergunakan untuk bercinta di rumah Tante H.

Oh ya.., aku lupa menceritakan, sebulan sejak hujaman penisku di vaginanya, aku diberi Tante U sebuah handphone. Kata Tante U agar mudah menghubungi aku dimana dan kapan saja. Sejak mengenalku dan merenggut keperjakaanku, Tante U jarang keluar rumah, jika dia perlu denganku, maka dia segera telpon aku, selanjutnya kami ketemu di suatu tempat yang aman. Tempat yang paling aman adalah di rumah Tante H dan di rumah Tante U sendiri, jika Oom U tidak ada di rumah. Dengan demikian Tante U sekarang tidak perlu lagi sering keluar rumah, karena dia dapat menyalurkan hasratnya kepadaku sepuas hatinya selama keadaan memungkinkan.

TAMAT

Leave a Reply