Monday 18 December 2017
Terbaru
Home / Pesta Seks / Terlanjur Basah Ya Sudah 02

Terlanjur Basah Ya Sudah 02

Sambungan dari bagian 01

Aku semakin tidak tahan melihat pergumulan itu. Tanganku bergerak perlahan dan mengusap-usap kemaluanku yang telah mengeras. Aku hanya dapat menggigit bibir bawahku sambil mengusap-usap penisku dari luar. Lalu perlahan aku masukkan salah satu tanganku ke dalam celana jeans-ku. Dengan sangat perlahan karena takut ketahuan, aku menurunkan celanaku. Tiba-tiba, “Bruuk..!” aku terkejut dengan tas yang tergantung di bahuku terjatuh. Mbak Rani, lelaki dan perempuan itu tiba-tiba segera menghentikan permainannya, dan secara bersamaan menoleh ke arahku.

“Sialan…” makiku dalam hati.
Aku hanya terdiam dengan ketakutan dan gemetar ketika mereka bertiga melihat ke arahku.
“Maaf… maa.. af..” kataku langsung menutup pintu dan kembali masuk ke dalam kamar.
Di dalam kamar aku hanya dapat memaki habis-habisan. Aku segera beranjak mendekati tempat tidur. Dan dengan celanaku yang tetap dalam posisi agak melorot, aku mencoba mengingat-ingat kejadian yang baru saja kusaksikan. Aku semakin tidak dapat mengendalikan nafsuku. Dan kocokan-kocokan kecil dari tanganku semakin membuat tubuhku panas dingin.

Kurebahkan tubuhku di atas ranjang dengan tangan kananku yang tetap mengocok penisku. Belum sempat aku menyelesaikan permainanku, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Dan di depan pintu kulihat Mbak Rani dan kedua temannya sudah berdiri dengan tanpa sehelai benang pun menempel di ketiga orang itu. Aku terkejut dan segera bangun dari tidurku, dan membenahi posisi celanaku yang turun ke bawah sampai ke lutut. Akan tetapi, lelaki yang berada di antara Mbak Rani dan seorang perempuan itu dengan cepat segera mengangkat ujung kakiku sambil tangannya mendorong tubuhku. Sehingga dengan sendirinya aku terpelanting ke belakang. Tubuhku pun kembali rebah di atas ranjang tersebut.

Lalu dengan cepat, lelaki itu naik ke atas ranjang, dan dengan cepat duduk di atas dadaku dengan kedua lututnya yang berada di samping kanan kiriku sambil kedua tangannya memegang tanganku. Mbak Rani dan teman wanitanya segera mendekatiku.
“Arya, terus pegang yang kuat. Jangan sampai lepas..!” kata Mbak Rani kepada lelaki yang memegang kedua tanganku.
Lelaki yang bernama Arya itu pun semakin kuat mencengkeram kedua tanganku.
“Nov, kamu pegang kakinya..” sambung Mbak Rani sambil mendekati tubuhku yang hampir tidak dapat berkutik.

Aku mencoba berontak dengan menedang-nendang kakiku. Namun, kembali kakiku terdiam saat Arya yang duduk berada di atas dadaku menekan tubuhku dengan tubuhnya. Lalu ia tersenyum dengan penuh arti, dan perlahan mengusap-usap pahaku. Aku berusaha untuk meronta, tapi cengkeraman Arya dan Nova justru semakin kuat.
“Toloong, Mbak… Lepaskan saya,” pintaku.
Mbak Rani tidak memperdulikan kata-kataku. Sekarang ia justru mulai mendekatkan wajahnya ke arah paha dan kemaluanku. Dan tidak berapa lama, aku mulai merasakan kalau pahaku terasa basah. Kemaluanku masih agak tegang.

Aku semakin meronta. Tapi itu justru membuat Mbak Rani semakin keranjingan untuk terus menjilati pahaku. Tangan kanannya pun mulai memegang penisku dan mengocoknya perlahan. Akhirnya, aku pun tidak dapat menahan ciuman-ciuman bibir Mbak Rani di pahaku. Tangan lembutnya yang mengocok penisku pun mulai kurasakan sebagai satu kenikmatan tersendiri. Namun aku tetap berusaha untuk tidak larut dalam permainan itu. Tapi bagaimanapun juga aku seorang lelaki. Dan mendapat rangsangan seperti itu, terkadang membuat nafasku tersengal akibat birahi di tubuhku mulai memanas. Terlebih lagi ketika lidah Mbak Rani mulai menyentuh batang kemaluanku. Sedangkan Nova yang dari tadi memegang kakiku pun turut memberikan ciuman-ciuman di betisku.

Aku semakin tidak kuat untuk menahan rangsangan-rangsangan yang ditimbulkan akibat jilatan-jilatan lidah Mbak Rani. Sesekali batang kemaluanku masuk ke dalam mulut Mbak Rani. Dan kurasakan hisapan-hisapan dari mulutnya membuat tubuhku semakin panas dingin.
“Bagaimana sayang, kamu menikmatinya kan..?” goda Mbak Rani dengan melirik ke arahku.
Lalu ia berdiri dan berjalan ke arah almari di samping ranjang. Tidak berapa lama Mbak Rani kembali dengan membawa beberapa helai kain.
“Tarik ke atas, Ar,” Kata Mbak Rani sambil membentangkan kainnya.
Arya pun turun dari atas dadaku, dan dengan kasar Arya pun menarik tubuhku ke atas. Kini Mbak Rani ikut-ikutan ke atas ranjang. Dan dengan santainya, ia segera duduk di atas dadaku untuk mengikat kedua tanganku di tepi ranjang.

Saat ia duduk di atas dadaku, kurasakan vaginanya ia tekan dan gesek-gesekkan ke dadaku. Dan saat Mbak Rani membungkuk untuk mengikat kedua tanganku pun ia gesek-gesekkan pula susu di wajahku. Saat itu pula kurasakan kekenyalan sebongkah susu.
“Aayyoo sayyangg… hisap-hisap susu Mbak…” racau Mbak Rani mencoba memberikan rangsangan-rangsangan kepadaku.
Aku hanya memalingkan wajahku ke kanan dan ke kiri untuk lebih merasakan kekenyalan buah dada milik Mbak Rani.

Sementara itu, Arya yang tadi berada di atasku, kini pindah ke bawah dan juga mengikat kedua kakiku dengan kain yang diambilkan Mbak Rani dari lemari tadi. Sesaat setelah mereka bertiga mengerjaiku seperti ini, lalu mereka duduk di pinggir ranjang sambil sesekali tersenyum melihat kondisiku yang sudah tidak berdaya.
“Arya, Nova, ayo kita lanjutkan lagi permainan yang tadi belum selesai..” kata Mbak Rani sambil merunduk mendekatkan wajahnya ke penis Arya sambil berjongkok.
Arya pun duduk di sisi ranjang dan memberikan penisnya yang lumayan besar itu ke mulut Mbak Rani. Sedangkan Nova berdiri di samping Arya dan memberikan kedua buah dadanya untuk dihisap Arya.

“Oorghhh…. yaa.. terus Raann… Ssstthhh… yaanggg… kencceenggrrrhhh…” terdengar desahan Arya menikmati kemaluannya yang terus dikulum Mbak Rani.
“Oohh… sssttthhh… teeerrruusss… Aarr.. yaanng keerraaa.. ssss… hissaapp.. nnyaa..!” Nova pun juga mendesah dengan sesekali kedua tangannya menjambak rambutnya sendiri.
Aku sendiri tidak berbuat apa-apa dengan apa yang mereka bertiga lakukan. Aku hanya dapat meyaksikan mereka mereguk kenikmatan tanpa dapat berbuat apa-apa. Nafasku pun mulai memburu seiring dengan tubuhku yang mulai terasa panas dingin.

Posisi Nova yang berhadap-hadapan denganku hanya tersenyum menggodaku. Perlahan ia mendekati sisi ranjang. Dengan tetap membiarkan payudaranya dihisap dan dijilati oleh lidah Arya, ia mendekatiku. Lalu perlahan tangannya mulai membelai pahaku. Kembali aku hanya dapat menggigit bibir bawahku untuk menahan rangsangan itu.
“Terrusss… Nov.. ke attasss…” kataku sambil menahan gairah yang sudah terlalu menggebu.
Aku tidak perduli lagi dengan apa yang terjadi tadi malam saat aku menolak bermain cinta dengan Mbak Rani.
“Terlanjur basah, ya sudah mandi sekalian..,” batinku.

“Oorrghhhh… yyaacchhh… ssstt…” aku hanya dapat mendesah menikmati belaian lembut dan kocokan pelan tangan Nova di batang kemaluanku.
Pinggulku bergerak ke arah kanan-kiri dan terkadang sedikit kuangkat untuk menikmati permainan itu. Dan secara perlahan, tanpa mau melepaskan hisapan-hisapan mulut Arya di kedua buah dadanya, Nova bergerak mendekatkan wajahnya ke arah selangkanganku. Tubuhku semakin panas dingin dan bergetar hebat melihat apa yang akan dilakukan Nova di selangkanganku. Aku menahan nafas untuk menikmati permainan selanjutnya. Tapi, tiba-tiba tangan Mbak Rani yang tadi sibuk dengan kemaluan Arya, segera menarik tubuh Nova.

“Dari pada jilatin itu, mendingan jilatin punyaku aja, Nov..,” kata Mbak Rani sambil bangkit dari jongkoknya dan duduk di sebelah Arya yang hanya tersenyum kepadaku tanpa kutahu maksudnya.
Nova sendiri hanya menuruti kata-kata Mbak Rani yang seolah-olah memang menguasai permainan itu. Sekarang, Mbak Rani meletakkan pantatnya di sisi ranjang. Kaki kanannya ia biarkan tergelantung. Sementara kaki kirinya ia letakkan di sisi ranjang, sehingga pangkal pahanya terbuka. Dan giliran Nova yang jongkok mendekati vagina Mbak Rani.

“Oorgghh… sstthhh… yyaaa.. ooupppsss…” erang Mbak Rani ketika lidah Nova menyentuh vaginanya.
Arya yang melihat Mbak Rani dan Nova dalam keadaan seperti itu, langsung meraih wajah Mbak Rani yang duduk di sampingnya. Ia lumat habis bibir Mbak Rani sambil mengarahkan tangan Mbak Rani untuk mengocok penisnya.
“Ouuggrrhhh… yaacchhh… sssttt… aaauuuwww..!” geliatan Mbak Rani semakin menjadi.
Tubuhnya bergerak-gerak seperti cacing kepanasan, tidak beraturan.

Dan tidak berapa lama, kulihat Mbak Rani membungkukkan tubuhnya ke arah kemaluan Arya. Rupanya ia belum puas mengulum penis Arya.
“Aaacchhh… Noovvv… aakkk.. kuuu mmaauuu.. keellluuaaa.. arrr…” erangan Mbak Rani di sela-sela kesibukan bibirnya melumat penis Arya.
Mendengar teriakan itu, Arya pun merubah posisinya. Ia biarkan Mbak Rani yang tergeletak dengan posisi miring di sisi ranjang. Lalu Arya ikut jongkok di samping Nova yang gerakan-gerakan kepalanya makin cepat menjilat dan menghisap-hisap vagina Mbak Rani.

Arya segera mendekatkan bibirnya ke puting susu Mbak Rani. Mendapat perlakuan seperti itu, Mbak Rani sepertinya tidak kuat lagi menahan puncak orgasmenya.
Hingga akhirnya, “Aargghhh… aaachhh..!” Mbak Rani mengerang sejadi-jadinya menikmati lendir kenikmatannya keluar dari vaginanya.
Sedangkan Nova pun semakin cepat pula membersihkan cairan yang keluar dari vagina Mbak Rani dengan hisapan-hisapan kuatnya.
“Ooocchhh… yyaaacchhh…” terdengar nafas Mbak Rani yang memburu dan kadang tersengal menikamti sisa-sisa orgasmenya.

Dan dengan tubuh yang sudah agak lemas itu, Mbak Rani kembali duduk sambil mengangkat pinggul Nova. Sehingga posisi Nova menjadi menungging. Mbak Rani lalu meoleh ke arah Arya yang berdiri di sampingnya, lalu memberi isyarat. Arya tahu apa yang dimaksud. Lalu ia pun berdiri di belakang bongkahan pantat Nova yang menungging dengan batang zakarnya yang masih tegak mangacung.

“Kamu siap, Nov..?” tanya Arya yang sudah siap dengan penisnya.
“Cepetan doongg.. Arr… udah nggak tahhaann niichh..!” sahut Nova yang sebentar menoleh ke arah Arya, lalu melanjutkan memainkan lidahnya di vagina Mbak Rani.
“Aacchhh… peelllaann.. peellaa… aannn… Arrr..!” desah Nova saat bibir kemaluannya menerima sodokan ujung penis Arya.
Saat penis Arya sudah seluruhnya masuk ke vagian Nova, ia maju mundurkan pinggulnya dengan irama yang stabil. Nova pun mengiringinya dengan memutar-mutar pantatnya. Kedua tangan kekarnya membantu menggerak-gerakkan pinggul Nova.

“Hoohhh… sssttt… teerrruuu… uusss… Aarrr… lebbbiihhh kerraaa.. arrs..!” Mbak Rani sendiri pun ikut-ikutan mendesah.
Kedua tangannya ia gunakan untuk meremas-remas payudara Nova yang masih tetap membungkuk di depannya. Sesekali ia menurunkan badannya untuk menciumi punggung Nova yang mulus itu. Sementara Nova, mendapat serangan dari atas dan bawah itu hanya dapat menahan desahan-desahannya. Karena mulutnya pun sibuk di antara pangkal paha Mbak Rani.

Beberapa menit kemudian, Arya dan Nova sepertinya hendak mencapai puncak orgasmenya. Kulihat Arya yang seolah-olah sudah tidak kuat lagi menahan mani yang mau keluar dari penisnya.
“Noovv… aakkkuuu mmauu keelluu… aaarrr..!” kata Arya di sela-sela gerakan maju mundur pantatnya.
“Ceepppaatt… Aarrr… akkuu jjuggaa… mmauuu keelluu… aaarrgghhh… aarrrghhh… ssttt..!” erang Nova saat mencapai klimak sambil mendongakkan kepalanya.
Melihat itu, Mbak Rani segera menyambutnya dengan ciuman di bibir Nova. Dan bersamaan itu pula, kulihat Arya menekan pinggulnya keras-keras ke pantat Nova.

Bersambung ke bagian 03


Leave a Reply

%d bloggers like this: