Sensation of My Campus 05

Sambungan dari bagian 04

Kuraih tubuh Irene dalam gendonganku, kusandarkan dia di white board. Tangan Irene memeluk leherku sambil aktif mengulum mulut dan lidahku di dalam. Setelah kusingkapkan semua kaos ketat biru lepas dari tubuhnya, sambil menyangga pantat Irene dengan tangan kiriku mulai kuurut pelan bentuk ‘cute’ penisku. Kuselipkan di antara pangkal paha Irene, setelah tepat, mulai kudorong pelan masuk ke dalam vaginanya yang tidak tahu kenapa terus-terusan berdenyut-denyut gitu yah?

“Honneeeyyy..! Aaahhh..!” desahnya.
“Is this the real of my girl..?” batinku.
Walalahh.. ternyata dia juga tidak kalah agresif dengan temannya Lisbeth. Kukulum bibir dia, kuhisap agak brutal juga sih, nah habis teriakannya juga bahaya sekali kalau tidak diredam. Dia mengerang meregang saat secara pelan meresapi proses penetrasi yang sengaja kubuat lambat. Setelah kepala ‘bandot’-ku masuk, kugesekkan pelan keluar masuk. Kumasukkan sedikit lagi, kugesekkan lagi. Sengaja memang kubuat dia makin penasaran dengan memperlambat seluruh proses penetrasiku.

“Feel the art, feel the beauty, feel it slowly my dear…”
“Iyaann, pleasee.. jangan siksa akuu.. aagh.. jahaaatt kamu.. masukkin semua sayang.. hhgg..!” katanya jengkel sambil tangannya menggapai pantatku memaksa untuk lebih dalam lagi penisku menjelajah vaginanya.

“Chiiiee.. bantuiiinn agghh..!”
Weheheh.. kalian pernah tahu tidak, penetrasi minta bantuan sama temannya (si Irene nih ada-ada saja deh).
Dan, “Jjjlleebb..!”
“Hhhgghh.. aaahhh.. Yaaan..!”
“Setaaan..!” si Lisbeth benar-benar bantuin temannya, dia langsung dorong pantatku menghantam keras pangkal paha Irene.

“Aku dapet.. aku.. aaghhh.. Iyaaann..!”
Meskipun aku lagi terdiam meresapi ‘the beauty of penetration’ yang dirusak oleh Lisbeth, tapi kok bisa-bisanya si Irene dapat orgasm pertamanya yah. Bergerak memutar kumainkan vagina Irene dengan penisku di dalam sambil kutambah sensasi orgasmnya dengan menjilat, menghisap puting dan seluruh dadanya diikuti keringat yang membuat tubuhnya licin merangsang.
“I think this is the coolest sillhoute of Girl’s breast.” batinku.

“Kamu bikin aku kelabakan terus mulai pertama kenal..?” sambil Irene cium hidungku dan sedikit mengatur nafasnya.
“Chie kita kerjain nyoo..!” kedip mata Irene dibalas mata sapi si Lisbeth, sepertinya aku akan dikerjai mereka nih.
“Ready to go honey..?”
“Mo kemana..?” tanya Irene.
“Mo ini neh..,” langsung cepat kutekan dalam-dalam kejantananku ke vagina Irene.
“Yaaann.. aahhh.. ngiluuu Yaann.. stop Yan.. stoop..!”
“Katanya mo kerjain Iyan? Mana? Kok gantian dikerjain..?” Jelek juga yah.., aku balas dendam seperti ini.
“Iya hhgg.. abis kamu cepet banget nggak permisi dulu ama yang punya… Aaaagghhh..! Iyaaann..!” selesai ngomong seperti iyu kuhujamkan cepat lagi penisku menerobos vagina Irene.
“Iyaann.. aah.. sshh.. hhmm.. Iya.. iyaa di situ Yan.. yang kenceng lagi.. nakal.. nakal kamu Yan..!”

Astaga, aku tidak menyangka si Lisbeth, dia turunkan celanaku sampai habis. Dia jongkok di bawah pantat Irene sambil menghisap gantian buah testisku dan vagina Irene bergantian. Sempet senyum juga sih waktu Lis bilang, “Aaduuhh!!.. aduuhh!!”
Salah sendiri, siapa suruh di bawah kaya gitu. Kepala dia sering terbentur pangkal paha Irene yang bergerak liar merespon gerak intens-ku merojoh dari mulai pelan setengah masuk sampai kuamblaskan semua penisku dengan sekuat tenaga. Huaaa..! mulutku tidak dapat diam mengerjakan dada berkeringat Irene sambil sesekali kubuat tanda merah di sekitar puting lancipnya.

“Honeeyy.. honeeyy.. honeeyy..!” bayangkan saja seirama keluar masuknya si ‘bandot’, Irene teriak dengan suara cemprengnya seperti itu, dan di bawah cuek saja Lis dengan kerjaan barunya.
Kontras sekali nih suara. Suara cempreng Irene, bunyi kecipak kemaluanku di vagina Irene, dan lucunya ditambah dengan suara aduh-aduh dan kecapan lidah si Lis di testisku.

Sekitar 5 menit aku terus menggempur semua isi vagina Irene dengan kemaluanku, dan sekitar itu pula Lisbeth tidak bosan-bosannya mengulum, menjilat sambil sesekali memijat buah testisku. Hmm.. capek juga ternyata dengan model berdiri seperti ini. Kurengkuh tubuh Irene tanpa melepas kemaluan kami berdua, lalu kurebahkan kembali tubuh mulus berkeringat itu di meja dosen yang langsung protes dengan jeritnya. “KRRRIIEETTT..! {{{STEREO}}}”

Kulumat kembali bibir Irene, kukecup juga leher jenjang tak berdosanya, dan langsung turun merambat ke arah payudara seiring keluar masuknya penisku.
“Cuu.. rrrang..!” teriak Lisbeth.
Huahaha dengan pindah posisi seperti ini ternyata dia tidak dapat memuaskan nafsunya ke testisku. Nah memang ngilu sekali kalau testis dipijat terus seperti itu kan?

Habis ngomong seperti itu, segera si Lis merapatkan tubuhnya ke punggungku yang agak sedikit condong ke bawah menjilati puting basah si Irene. Tidak kurang akal Lis menjilati leher, sampai punggungku. Lumayan susah juga dia melakukan itu gara-gara tubuh yang terus tidak berhenti menggoyang tubuh mulus di bawah.

Gila aku merasa seluruh kemaluanku dipijat sangat kuat oleh otot vagina Irene. Aku mempercepat tempo goyangan pinggulku, karena aku merasa tidak lama lagi Irene akan mendapatkan orgasmenya sekali lagi, dan aku akan mendapatkan menu yang lainnya lagi di atas punggungku hehe…

Tidak berapa lama kemudian, nafas Irene sepertinya sudah mulai ngos-ngosan. Dia peluk aku erat sekali. Aku semakin bersemangat menaik-turunkan si ‘bandot’ dengan cepat. Tanganku meremas payudara kanannya dan puting kirinya kuhisap dengan kuat. Dia mulai ribut merintih sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, sesekali dia juga mencium bibirku. Kakinya sudah melingkari pinggangku, si Lis sampai hampir ketendang.

“Ohhh.. Yan terus.. iya.. ohhh.. lebih dalam.. cepetan lage Yaann.. aarrgghh…!” desah Irene.
Makin lama makin kupercepat gerakanku, membuat gerakan Irene semakin liar menghajar meja dosen kucel itu. Akhirnya kurasakan dia mulai mengejang, kedua kakinya tambah kencang menjepit pinggangku, tangannya memelukku erat-erat, bahkan aku merasa kuku Irene mulai menggores punggungku, waduuhh dapat tatto gratis nih aku.

“Yan.. sedikit lagi.. akhhh.. aku dapet Yaann.. kencengan lagi.. tahan dikit lagi.. Oooohh Iyaaann…” akhirnya cairan hangat kurasakan membasahi batang kemaluanku disertai teriakkan panjang Irene.
Tubuh Irene kejang-kejang seperti orang kesetanan, matanya tertutup rapat dan mulutnya terlihat setengah terbuka hanya mengeluarkan desisan panjang. Terasa olehku lelehan bahkan pancaran lendir yang keluar dari liang kemaluan Irene menerobos melewati celah-celah sempit di antara dekapan dinding dan bibir kemaluannya yang menjepit batanganku, terus menetes dan mengalir sampai jauh. Aku terus menggenjot vagina becek itu dengan mulut selalu menghisap puting Irene.

“Ampuunn Yaann.. ampuunn.. ngilu.. ngilu, udaahh oohh..!” desahnya.
“Chie tolong chie.. chieee..!” belum habis rintihan Irene, sebuah tangan kecil menjambak rambutku sehingga aku terdongak bangun dari kuluman puting Irene dan juga sebuah bibir lembut dan basah segera mengulum ganas bibirku.
“You’re mine now.. It’s my turn..!” kata Lisbeth tiba-tiba.
Tubuhku langsung didorong Lisbeth menduduki kursi dosen yang sudah disiapkan di belakangku.

Setelah duduk, “Lis.. bentar Liss… aahhh..!” kataku.
Dipegangnya batangan ‘bandot’-ku dan dihempaskan langsung tubuhnya tanpa kenal ampun melahap semua gagahnya kemaluanku.
“Aaahhh.. Yaann gilaa.. nggak bisa masuk semua.. aahh.. penuh banget Yaann… ngeganjeell.. aadduhh sakit banget Yaann, I like your dick, so big. It’s mine.. it’s mine..!”

Tiba-tiba saja si Lis langsung mengeluarkan ‘bandot’-ku dari terkaman vaginanya. Sambil jongkok dia kulum penisku.
“Kamu di atas yah Yan.. sakit kalo aku di atas..”
Lisbeth segera mengambil celanaku, dan merebahkan tubuhnya (enak saja nih anak, celanaku dikotorin terus sama mereka, tadi di toilet, sekarang di lantai buat alas tidur si Lis). Tapi karena nafsu, aku sudah tidak perduli dengan celanaku lagi. Kulumat bibir Lisbeth, sementara senjataku kugesek-gesekkan mengikuti alur labia mayoranya.

Akhirnya, dengan kesabaran yang sudah mulai hilang, tangan Lisbeth meraih penisku, dimainkan kepala bajanya di area klitorisnya sebentar, dan setelah sampai di pintu kemaluannya, langsung kutekan kuat.
Dengan belum siapnya Lisbeth menerima cepatnya penisku masuk ke vagianya, langsung dia menggeram sambil teriak-teriak, “Sialan.. bangsat kamu… aahhh… terus-terus.. iyaa.. aduuhhh.. nakal bangeett sih.. oohhh Yaaannn..!”

Celah Lisbeth berbeda dengan Irene, lebih hangat dan menggigit (tentunya aku tidak akan ngomong ke Irene dong, huehee.. jahat nih vagina bisa kaya gini menghajar penisku). Kutahan pantatku, aku menikmati remasan kemaluannya di batanganku. Perlahan kutekan pantatku, senjataku amblas sedalam-dalamnya. Gigi Lisbeth tertancap di lenganku saat aku mulai menaik-turunkan pantatku dengan gerakan teratur. Remasan dan gigitan liang kewanitaannya di seluruh batanganku terasa sangat nikmat. Kubalikkan tubuhnya ke samping. Senjataku menghujam semakin dalam, kuangkat sebelah kakinya dan kutahan dengan lututku. Batang senjataku amblas sampai menyentuh di mulut rahimnya.

Puas dari samping, tanpa mencabut senjataku, kuangkat pantat Lisbeth. Dengan gerakan elastis, kini aku menghajarnya dari belakang. Tanganku meremas bongkahan pantatnya dengan kuat, sementara senjataku keluar masuk semakin cepat. Erangan dan rintihan yang tidak jelas terdengar lirih. Ketika kurasakan ada yang mau keluar dari kemaluanku, segera kucabut senjataku.
“Pllop..!” terdengar suara saat kucabut si ‘bandot’, mungkin karena ketatnya lubang kemaluan Lisbeth yang mencengkram penisku.

“Achh, kenapa? Kenapa..? Aku sedikit lagi..” protes Lisbeth.
Dia langsung mendorong tubuhku, kini aku telentang di bawah. Dengan liar Lis meraih penisku dan memasukkannya ke dalam lubang sorganya sambil berjongkok.
“Yeeaaahh..!” kini dengan buasnya Lis menggoyang dan menaik-turunkan pinggulnya.
Sementara aku di bawah sudah tak sanggup menahan nikmat yang aku dapat dari empotan vagina si Lisbeth, apalagi saat pinggulnya sambil naik-turun digoyangkan juga diputar-putar, dan sesekali memijat penisku seperti menahan pipis (nih cewek lebih pengalaman dari Ireneku nih).

Aku bertahan sekuat mungkin.
“Aaahh… Lis..!” penisku di dalam kewanitaan Lisbeth berdenyut-denyut tertahan mengeluarkan muatannya.
“Yaann.. aaahhh.. penis kamu.. penis kamu… aahhh Yaann aku dapeettt..!”
Selesai rintihan Lisbeth, mengalirlah cairan kenikmatannya dan disusul spermaku yang memancarkan air kehidupan, membasahi semua liang yang sempit itu. Ambruk tubuh Lis menimpa dadaku.

Dengan tenaga yang ada, aku masih aktif memutar pantat Lisbeth sambil meremas lemah.
“Iyan sayaaang.. You are the doctor.. aahh.. udah Yaann ampun deh kamu.. geli Yaann aahhh..!”
“Chie-chie..! Chie nggak boleh panggil sayang.. yang boleh panggil sayang cuman aku Chie..!” lemah Irene langsung bangkit dari meja dosen sambil tangan diletakkan di pinggangnya seperti orang mau melabrak, tapi aneh, walaupun seperti mau melabrak tapi sambil tersenyum. Lucu kan tuh gayanya.

Kami saling gantian berciuman, menjilati keringat tubuh, bergiliran dan bersamaan. Dan mereka berdua dengan kompaknya saling giliran menjilati penisku yang meskipun enak banget dihisap dan dijilat sama mereka berdua, tapi tetap saja sudah loyo. Lemas sekali, capek kali tuh ‘anak kecil’ huehe…

Setelah kami mengenakan pakaian, Lisbeth mengeluarkan setumpuk tissue dari tasnya.
“Lis.. please.. jangan Lis, jangan dibersihin.. biar.. jadi kenangan ruangan ini.. kalo masih ada bekasnya bakalan seru kan yang ada di ruangan ini besok, tul nggak..?” cegahku ke Lisbeth yang mau melap bekas air cinta kami bertiga yang berceceran di meja dosen dan di lantai depan kelas mereka.

“Hihihi… kamu.. nakalnya nggak ketulungan sih,” sambil Lisbeth mencium bibirku, tapi segera kutepis wajahnya.
“I belong to her now,” sambil kukecup lembut bibir Irene.
“Huuhh..! Nggak ngilerrr weee..!” kata Lis sewot.

Pukul 18.00. Akhirnya kami bertiga menuju pelataran parkir. Astaga, mengantarkan mereka berdua pulang nih, tapi it’s O.K, sudah dibayar di muka kok angkosnya huehehe…

Pembaca tahu tidak..? Besoknya kami hanya ketawa-tawa lirih waktu seisi kelas Irene (termasuk dosennya) pada geger gara-gara melihat di depan kelas dan meja dosennya ada cairan wasiat untuk mereka. Hahaha.. buat Pak dosen kalau membaca tulisan saya ini, (kalo masih ingat juga sih),”Dengan tanpa mengurangi rasa hormat saya.., sorrie banget yah Paakk..!”
Untung kami sudah lulus dari kampus Bapak, kalo tidak, waaa..? Kayanya bapak juga bakalan mau cobain dua cewekku itu. Huahaha…

 

TAMAT

Leave a Reply