Sensation of My Campus 03

Sambungan dari bagian 02

“Iyaaannn..! Ouuggfffhh..! Irene dapet Yan.. Irene dapeeettt… Hgggffhh..!”
Tidak tahu kenapa, aku sangat bernafsu ingin merasakan lendir kewanitaan Irene.
“Hmm sedap juga..” kuhisap vaginanya.
Irene hanya merintih manja sambil meliukkan tubuhnya. Aku tidak dapat berpikir, cepat sekali cewek ini jadi basah seperti ini. Irene malah makin merapatkan kepalaku ke arah vagina basahnya yang lagi berdenyut dan berkontraksi hebat sekali.

Sambil terus memberikan kecupan demi kecupan, hisapan demi hisapan yang lembut, aku tidak mau moment yang dia dapat hilang cepat begitu saja. Bibir kemaluannya kujilat, kujulurkan lidah dan menusuk ke dalam lubangnya, mengusap habis labia minoranya. Mulutku basah oleh lendir kenikmatan dari dalam liang kewanitaannya. Aku berhenti, dan dengan kain roknya, kuusap mulutku yang basah karena cairan kewanitaannya (hihi… rasain kamu biar impas, nyuci.. nyuci juga deh kamu Ren).

Beberapa saat dia kembali menekan kepalaku di antara pangkal pahanya yang tegang disertai sedikit pinggulnya yang terangkat. Kemudian terasa mengendur pegangan tangannya di kepalaku. Diangkatnya wajahku, walalah… senyuman.., dia melas sekali. Kewanitaan nikmat itu kubelai, kucium labianya sambil menyibakkan lebih lebar lagi dan klitorisnya, kukulum dengan lidahku, kugigit-gigit kecil dengan lembut. Lidahku masuk lagi ke dalam liang nikmatnya yang basah itu. Irene tersentak lemah saat lidahku masuk ke dalam liang nikmatnya itu.

“Yaaann.. udah Yaan, Irene nggak kuat lagii Yaaan..!” desahnya.
Aku terus mencium kemaluannya dengan lembut. Terangkat punggungnya meski dengan lemah menahan kenikmatan. Dia mendesis pelan sambil menggeliat manja. Hal ini malah membuat Irene semakin mengerang. Aku mulai mempercepat jilatanku, klitorisnya kuhisap, kujilat semauku. Kurasa ada cairan yang keluar dari kemaluannya lagi. Karena ingin memuaskan Irene yang mulai panas lagi, lidahku kembali menuju kewanitaannya. Kuhisap seluruh cairan tersebut dan menelannya.

Kusibakkan vaginanya yang telah basah itu. Kujulurkan lidahku sambil memilin clitorisnya. Irene hanya mendesah. Liang kewanitaan Irene semakin memerah. Aku jadi semakin terangsang ketika kembali merasakan cairan berwarna putih keluar lagi dari lubang vaginanya.
“Irene is back..!” pikirku.
Dengan mata sayu terpejam, mulut setengah menganga, tangan mengangkat rok hitamnya dan satunya memegangi kepalaku, sambil paha terkangkang lebar di bahuku memberikan kemaluannya yang terkuak bebas untukku.

“Yaaan..?” Irene merunduk langsung menyambar bibirku.
Walalah.. tidak romantis banget, kalian dapat bayangkan tidak, melakukan French Kiss sambil jongkok (huahahaha). Tanganku dipegang lembut oleh Irene dan, “Huuaaa..!” mulai kapan Irene jadi telanjang dada.

Kuangkat tubuh Irene berdiri sejajar denganku. Kulumat lidah dan bibirnya. Ciuman kali ini terasa lain, lebih panas dari yang kami lakukan sebelumnya, karena tanganku mulai mengusap lembut payudara indah, mulus, besar dan mantap cengkramannya secara intens dan lembut dari bawah ke atas menuju putingnya yang tegak menantang kemerahan itu yang berakhir dalam pilinan ibu jari dan jari telunjukku. Desah nafas yang sama-sama lagi kedodoran mulai saling bersahutan. Mulai kucium turun mengusap dagu ke leher. Kukecup mesra dada atasnya sambil meninggalkan noda merah di sekitar dada bagian atasnya.

“Sluuurrppp..!” kutelusuri puting indah sebelah kiri menantang milik Irene.
“Hhhmmm..,” rintih Irene yang manja mulai ada saat ku-explore putingnya sambil menjambak rambutku agak kasar.
Aku berusaha menelan puting Irene, tapi anehnya puting itu sepertinya lemah, tapi kok tidak bisa lepas yak? (Huehehe), nah habis gemes banget sama lancip putingnya nih. Kuhisap mulai dari hisapan lemah dan condong agak kencang juga. Mulut yang sexy sekali itu hanya megap-megap saja tuh. Cium lagi deh bibir Irene yang lagi nganggur, dan ini membuat dia kaget juga atas serangan dadakanku ini. Dan belum sempat dia meresapi ciumanku langsung kuganti lehernya sebagai sasaran jilatanku, tidak lama juga langsung kuhisap kembali payudaranya terutama puting sebelah kanannya yang tadi sempat kucuekin.

“Gila kamu… gila kamu Yaaann..!” Irene mengejekku gara-gara serangan beruntunku yang tidak dapat dia duga kemana arahnya.

Setelah puas dengan puting kanannya yang semakin merah dan basah akibat Tumis (jilaT, kulUM, ISep), aku turun menjilati perut mulus Irene dan berhenti untuk menggelitik pusar Irene yang membuat dia semakin tidak dapat mengontrol liukan perutnya. Huaaa… nih anak sempat-sempatnya melakukan striptease. Tanganku menggapai-gapai buah dadanya dengan lincah, kuremas dan kupilin putingnya. Irene membelai rambutku dan dipegangnya erat pundakku. Menjilat, mengigigit-gigit kecil, menghisap serta memutar-mutarkan lidah dan berusaha memasukkan ke liang pusar Irene (hihi aneh juga nih cewek, sensitive area kok di pusar).

Sambil agak miring berdiri bersandarkan bak mandi toilet, mulai kembali kutelusuri silhoutte tubuhnya menuju ke daerah kewanitaannya lagi.
“Hai kangen nggak sama Abang..?” kubalas candaan Irene di kemaluannya, Irene pun hanya tersenyum kecut.

Dengan berpegangan di bak mandi, tubuhnya bergemetar dan tersentak-sentak setiap lidahku kembali merangsang bagian paling peka di vaginanya. Dengan kasar vaginanya disorongkan ke depan untuk memaksa lidahku masuk lebih dalam ke dalam liangnya. Mendadak dia melintir, bergeliat-geliat oleh jilatanku di klitorisnya yang begitu menggelitik seluruh sendi urat kenikmatan yang begitu membuatnya penasaran. Sekitar 3 menit, tiba-tiba cewek ini mulai bergerak gelisah. Pahanya mengangkang semakin lebar dan dinaikkan ke bahuku lagi sebagai tumpuannya. Tanganku cepat menangkap buah dadanya, lalu memeras lebih keras serta menghisap klitorisnya dengan gerakan cepat.

Tiba-tiba saja, ada suara langkah kaki menyelonong masuk ke dalam ruang toilet. Refleks Irene langsung membetot kepalaku jauh dari kemaluannya. Cepat kukulum lagi liang vaginanya sambil tanganku kembali meremas agak kasar payudaranya. Kulihat ke atas kepala Irene geleng ke kanan ke kiri sambil kedua tangannya berusaha menolak kepalaku.

Kedengaran tuh manusia masuk ke kamar toilet sebelah, dan sepertinya kedengaran juga suara kain yang dibuka, dan tidak seberapa lama, “Sialaaann..!” umpatku dalam hati.
“Sssrrr… sshh..! {{{STEREO}}}”
“Nih orang pipis nggak tanggung-tanggung, kaya bendungan ambrol.. kenceng banget walalahh mulai kemaren ga pipis apa? Tuh suara ampe segitunya.” umpatku lagi.
Sialnya, bersamaan dengan itu tubuh Irene mengejang.
“Aaaggghhh..!”
“Waduh nih anak pas ‘nge-blow’..” batinku.

Segera aku cepat berpikir bagaimana caranya manusia di sebelah tidak bikin geger kalau tahu ada orang yang lagi ‘ngejen’ juga di sebelahnya. Cepat kuhisap keras kewanitaan Irene, kuhirup semua cairan kewanitaannya yang lagi berdenyut ambrol juga. Setelah kuhirup dan hisap sejenak kutahan hisapanku, dan kusembur dan tiup kencang-kencang.

“Brrrttt..! Ddrrrgghhh..! {{{STEREO}}}” begitu sepertinya suara akibat semburan hisapanku pada kemaluan Irene.
Berulangkali kuulang style itu pada vaginanya. Hehehe… kedengaran kompak sekali dengan rintihan dan erangan Irene yang dilanda badai kenikmatan untuk kesekian kalinya.
“Hggghhh… Pppff.. Puuuff.. Aagghh..!” desahnya.
“Brrrttt..! Ddrrrgghhh.. Jjjrrggg..!” bunyi dari hasil rekayasaku di kemaluan Irene.
Nada kontras itu terdengar bersahutan selama puluhan hitungan dalam detik.

Pembaca bisa tahu tidak maksudku membuat moment seperti itu tadi? Yah benar, kubuat sedemikian mungkin agar manusia di sebelah mengira kalau kamar di sebelahnya lagi ada orang buang hajat. Lima menit kemudian, setelah saling berpelukan dengan Irene, akhirnya pergi juga orang itu dari toilet sebelah.

Kupeluk Irene yang sedikit gontai, kukecup lembut keningnya.
“Welcome to my sensation world.” kataku.
Irene hanya tersenyum kecil sambil menyandarkan kepalanya ke dadaku dan tangannya memegan si ‘bandot’ yang masih saja menuntut apa yang belum dia dapat.
“Sabar yah kecil, ntar jatahnya bakalan dapet deh..” katanya lucu.

Dengan tangan kirinya Irene mendekap leherku erat sekali sambil mengecup dadaku manja, kadang juga dia meraih rambutku.
“Nakaaall..! Tapi Irene suka ama kamu.. bikin ati tegang aja kamu Yan sampe dapet double (multiple orgasm) barusan.”
“Irene jadi suka kamu Yaan…” dikecup lembut bibirku.
“Kamu ntar yah jatahnya, chie-chie capek banget nih..” sempat-sempatnya si ‘kecil’ dibecandain lagi.
Kubuat respon otot kemaluan si ‘kecil’ mengangguk-angguk untuk jawab candaan dan pegangan Irene, “Ok.. Ok..!” teriak si ‘kecil’ sama Boss-nya.

Habis memakai baju, sempat kami kissing sebentar sambil bilang sayang. Irene keluar dari kamar dan toilet.. wee.. kaya security dia kasih kode ke aku kalau keadaan aman buat keluar dari ‘losmen neraka’ (baca : toilet cewek) ini.

“Yan.. aku entar sore ada kuliah tambahan, tungguin yah..!”
“Iyaaa tuan putriiii..,” sambil kupeluk dan kecup kening Irene.
“Hhhuuu..! {{{STEREO}}}” walalah.. ada teman yang meledek waktu aku peluk dan cium mesra ke Irene.
Soalnya dekat dari toilet itu ada markas anak-anak HIMAPALA. Weee sialan, untung saja mereka tidak sempat merekam kejadian di toilet tadi pakai handycam kebangaan mereka (gimana teman-teman HIMAPALA ST*** yang punya Handycam? Tahu siapa aku..? Hehehe..).

Menunggu Irene lumayan lama juga, apalagi sudah jam setengah lima. Akhirnya pintu kelasnya terbuka juga. Walalah.. dasar dosen. Pergi duluan meninggalkan mahasiswanya. Anehnya, waktu semua pada keluar, aku tidak melihat hidung Irene keluar dari kelas, apalagi ‘toket’ indahnya.

“Yaan..! Nama kamu Iyan kan? Irene sakit tuh, dia masih di dalem kelas, pusing katanya. Emang abis kamu apain sih tadi? Kamu tubrukin lagi kaya kemaren?” ada teman Irene yang ngomong sambil gebukin aku pakai buku tebelnya dia.
“Weee.. enak aja.. lagian tuh buku kalo udah nggak kepake, jual kiloan aja daripada buat gebukin orang..”
“Emang bener Irene sakit yah?” sambungku.
“Iya tuh.. eh yah kamu udah kenalan sama dia yah.. waah cepet banget kamu.. Irene tadi pesen ama aku kalo dia minta kamu nemuin dia sekarang. Gila kamu Yan cepet banget. Eh yah namaku Lisbeth..”

“Cepet apaan? Apa yang cepet banget?” heran juga aku dengan omongannya, tapi nih cewek boleh juga, lebih tinggi dari Irene, langsing, putih, mulus juga, wajahnya manis sekali, rambut sedikit ikal, hmmm.. payudara 34 (tidak tahu cup-nya).
“Lis, kamu mau juga nggak?”
“Mau apaan sih?” Lisbeth mencoba mengejar maksud pertanyaanku.
“Ditubruk ama Iyan..”
“Sapiii.. dasar tukang tubruk..!” sambil pukulin buku tebelnya lebih kencang ke pantatku.
“Heee.. pukulnya kok belakang sih?”
“Emang kamu mau aku pukul yang depan.. hihi..?” gila nih cewek agak bikin aku terangsang juga.
“Udah ah.. aku ke Irene dulu deh.. kamu pulang sana udah malem tuh, diperkosa orang tahu rasa entar..!” jawabku sambil pergi masuk kelas.
“Ooo arek nggak genah (anak tidak waras: dalam basa Jawa), Nggapleki (salah satu dirty words di kotaku)..!” maki Lisbeth.

Bersambung ke bagian 04

Leave a Reply