Sensation of My Campus 02

Sambungan dari bagian 01

Sambil membuang keringatnya si ‘kecil’ (baca: pipis) di toilet karena merasa tenggorokanku agak gatal, aku sampai tersedak batuk kencang sekali.
Huuiii..! Lega deh habis pipis jadi enteng banget deh.
Sesampainya di luar toilet, “Yan..! Hihihi, aku tahu kalo kamu batuk kamu kenceng banget, sakit yah..?”
Yiihhaa..! si ‘Allien’ ada di depan toilet cewek sebelah. Senang sekali deh dapat melihat dia lagi.

“Kamu belom masuk kelas juga Ren..?” tanyaku sambil kudekati dia lagi.
“Kan tadi udah bilang kalo aku lagi males banget Yan…”
“Eh yah Ren, gimana jadi nggak?”
“Jadi apanya?”
“Tangan Iyan udah dicuci nih..”
“Trus..?”
“Aku mo cium kamu,” kataku sambil kucoba mendekati bibir Irene.
“Iyan… hhmmppff..!”
“Hhuuaaa..! At last..! Aku bisa cium si ‘Allien’.” kataku dalam hati.
Sebenarnya Irene kelihatan agak menolak ciumanku, dia pukul-pukul lenganku tapi dia tidak berteriak-teriak atau melepaskan ciumanku.

Tidak berapa lama, dia mulai menjawab ciumanku. Lidah kami saling melumat. Lidahku mengusap rongga mulut atasnya yang bikin kepala si ‘Allien’ sampai mendongak ke atas (ciuman khas Iyan) sampai megap-megap. Kutarik dia masuk ke dalem toilet cewek yang ada di belakangnya. Irene sempat menarik tangannya. Agak memaksa, dapat juga kubawa ‘Allien’ masuk ke dalam toilet cewek (maklum lah, tenaga cowok kan lebih kuat).

“Iyaaann..?”
Aku tidak kasih komentar waktu dia panggil namaku, langsung kulumat lagi bibirnya (eh yah kelupaan di dalam toilet cewek nih baunya kan tidak terlalu pesing seperti toilet cowok, semua juga tahu kan kalau toilet cowok sekolahan pasti gitu deh, mulai SMP, betul nggak..?).

Setelah ambil napas sebentar, kutunjuk satu kamar kecil di dalam toilet, Irene geleng-geleng kepala. Hehehe.. bukan nafsu dong kalau aku tidak langsung menarik Irene ke salah satu kamar kecil itu.

Di dalam aku sempat lihat Irene yang hanya melihatku dengan mata kecil sayunya itu. Aku tersenyum ke dia sambil tanganku mengusap pipinya lembut, dan dia malah merem sambil gerakin wajahnya seperti kucing kalau dielus. Kupeluk dan kucium rambut dia kuat-kuat, hmm.. wangi deh. Dengan sedikit menunduk (tubuhnya 159 cm dan 36B, proporsial dan sexy habis, montok gitu kalau orang yang lagi horny bilang) kembali kucium bibirnya, sekarang dia malah memelukku sambil ngusap-usap rambutku, hhmm.. good tasted. Aku paling suka kalau pas ciuman rambutku dielus-elus, asal jangan dijambak saja.

Setelah puas kerjain bibir ‘Allien’, aku turun ke leher jenjangnya itu. Kukecup dan hisap lembut. Sambil tetap mengusap rambutku, Irene mulai respon nih sepertinya, nafasnya mulai agak kedodoran juga waktu kucium lembut merata leher samping terus ke depan. Tanganku yang dari tadi melingkar di pinggangnya mulai pelan naik melewati semua lekuk pinggang, perut dan berhenti di pangkal lingkar buah dadanya yang masih tertutup kaos kerah ketat warna birunya. Kumainkan ibu jariku memutari pangkal lingkar bawah payudaranya.

Kurapatkan pelukan tangan kiriku dengan menarik lebih dalam tubuhnya, dan dia merespon sedikit menjauh saat bagian tubuh bawahnya yang tertutup rok hitam sedikit di atas lutut dengan belahan di pinggir kanan kirinya bersentuhan dengan si ‘kecil’ yang mulai menggeliat lembut dari tidur panjangnya. Cepat kudorong tubuhnya dengan sedikit agak nafsu (emang nafsu kok) sampai menyentuh tembok kamar toilet yang ada di belakangnya.

“Ooohh..!” Yah, hanya satu desahan itu saja yang Irene keluarkan saat tangan kananku mulai menyentuh lingkar indah di dadanya itu.
“So big to lick..!” kataku pelan.
(Huehehe.., pembaca mau nggak licking payudaranya Irene..? Langkahin dulu mayat dosen Statistikaku, baru kubayar pakai ‘toket’-nya Irene.)
“What The…!! Apa-apaan nih?” tangan si ‘Allien’ tidak tahu bagaimana mulanya sudah ada di depan celanaku menangkap si ‘kecil’ yang karena pegangannya berubah jadi si ‘bandot’.

“Irene..?”
“Hmm..? Kenapa? Surpriseee..! Kamu kudu tanggung jawab Yan..!”
Hualaaahh.. tidak disangka kalimat itu keluar dari bibir Irene sambil dia mulai membuka zipper celanaku. Setelah si ‘kecil’ lolos dari dalamku, Irene melorot ke bawah sejajar dengan si ‘bandot’-ku.

“Huaaa..! Kaya Power Rangers yah Yan..? Hihihi.. lucu, gagah…”
Astaga Irene, si ‘bandot’ bonggolku disamakan dengan Power Rangers, what a girl.. untung saja tidak dikatakan Tele Tubbies bersaudara, bisa-bisa ditaruh di lemari hiasnya dong.
“Hallo.. nama Chie-chie Irene, kamu namanya sapa..?” baru kali ini kemaluan diajak bercanda seperti Pokemon.
Belum menjawab candaan si Irene, si ‘Power Rangers’-ku sudah hilang dimakan sama salah satu monsternya si ‘Astronema’ (musuh Power Rangers), yah si Irene ini.

“Huuggghh..! Irenee..!” kaget aku berteriak kecil merasakan sentuhan lidah Irene.
Lidahnya tidak mau diam, terus menjilati kemaluanku, dan sekali-kali dihisapnya lembut, maju-mundur sambil tangannya mengurut sisa bonggol si ‘bandot’. Huaaa.. pokoknya ampuun deh, lembut sekali. Dengan lembut lidahnya membatasi geliat dari si ‘bandot’. Dengan lembut pula dia mulai menurunkan celanaku lebih ke bawah (gila celana di bawah lantai toilet kan kotor, nyuci deh nanti) sambil mulai mengelus testisnya.

Kepala Irene miring sedikit ke kanan dengan mata melihat ke atas ke arahku yang lagi menunjukkan senyum yang paling horny (pernah tahu nggak senyuman model gini?). Terasa ngilu di seluruh kemaluanku. Aahh.., apalagi waktu lidah Irene mengusap ujung bawah si ‘kecil’-ku, seperti jutaan sengatan listrik lemah mulai merayapi seluruh persendian urat-urat nadi di tubuhku, berpusat di daerah bertuliskan ‘Awas Anjing Galak!’ (baca : kejantananku). Meski tidak sepenuhnya masuk, tapi Irene terus saja memasukkan semua dan berusaha untuk menelannya lambat-lambat sambil lidahnya tidak pernah berhenti menjilati seluruh bagian kejantananku, ditambah lagi pijatan lembut tangannya di bawah testisku.

Waktu itu wajah Irene sangat bernafsu, matanya dipejamkan, sedikit peluh keluar dari dahi menuju ke pipinya. Bibirnya yang tipis berusaha selalu meresapi pelan-pelan tiap kali penisku masuk lebih dalam, dan dia akan menghisap kuat saat dia mengeluarkannya lagi, seperti tidak mau melepaskan si ‘kecil,’ benar-benar bikin cowok gila nih cewek.

“Aaagghh Ireneee..! Udah Irene! Udah! Iyan mo sampe Reenn!” ampun deh, aku paling tidak kuat menahan kalau kemaluanku diserang terus-terusan sama blow job seorang cewek.
“Irene! Udah Reeen! Lepasin! Jijik Ren! Udah! Aaahhh..!”
Denyut dengan kejutan-kejutan statis terasa mulai menerpa semua jalan darahku, mulai dari urat saraf kemaluanku menuju seluruh cabang otak di dalam setiap tubuhku (aku cocok tidak jadi guru Biologi? Hihihi). Bersamaan dengan itu tubuhku pun menegang.

“Aagghhh..! Ireneee..! Aku dapat Reeen… Aaahhhgg..!”
Sekitar 6-7 kali kedutan diikuti cairan segar kejantananku membanjiri mulut kecil si Irene ini tanpa dapat kulepas dari jepitan mulut dan tangan nakal si Irene. Dia tidak mau melepaskan si ‘kecil’ dan testisku dari serbuan bibir sexy-nya, seperti dibetot oleh vacum cleaner deh hisapannya tidak habis-habis, dan lucunya sempat juga terdengar gelegak tenggorokan Irene. “Waduuhh.. bener-bener nih cewek.. ditelen abis..!” kataku dalam hati.

“Haahh… Hhh…” nafasku waktu itu benar-benar tidak karuan deh.
Si Irene malah senyum-senyum nih ke arahku sambil berdiri, “Gimana Iyan sayang..? Good tasted..?”
“God bless my little brother,” sambil kuangkat kepala Irene yang senyum setelah ucapanku tadi.
“Your turn my little fella…” setelah cium bibirnya, (huueekk sisa sperma) aku melorot ke bawah masuk ke dalam rok hitam Irene (hih kaya Barongsai yah?).

Aku mulai mencium dari betis indah Irene dan menjilatinya bergantian kanan dan kiri. Tanganku? Tanganku tentu tidak hanya diam saja, melainkan meraba paha Irene. Ciuman dan jilatan itu mulai naik ke paha dalam, terus sampai ke pangkal paha. Kusentuh lembut celana dalamnya yang berwarna maroon (walaah tidak matching banget sama kaos birunya), kuusap dan gosok pelan bagian bawah lembah indah itu. Terangkat-angkat pinggang Irene diikuti rintih dan desis manjanya. Terasa basah dan lengket vaginanya meski hanya dari luar. Pangkal pahanya kuraba dan kuusap sambil lidahku mulai menjilat dan mencium kain penutup pusatnya itu. Nafas yang tersedak dan gelinjang badan Irene tidak dapat membendungku untuk berhenti memperlakukan kewanitaanya seperti itu.

“Hggh..! Haahhh.. Ssshh..!”
Kupegang celana dalamnya dan pelan kuloloskan ke bawah, kutarik tubuhnya dan lepas sudah penutup terakhir yang ada pada kewanitaan Irene.

“What The..? Ireene..?” Benar-benar tidak dapat disangka deh kelakuan Irene, bagaimana tidak heran campur tertawa kalau kalian semua punya kesempatan melihat sosok kewanitaan Irene. Bayangkan saja, di sebelah kanan agak ke atas tepat sederetan dangan bulu-bulu pubic-nya yang tipis teratur terjaga rapih itu ada tatto yang benar-benar dapat membuat kita tertawa deh. Tatto-nya itu sebuah rambu larangan seperti ‘No Smoking’, tapi gambar cigarette-nya tuh diganti dengan tulisan ‘BOYS.’ Hueheheh.. terserah percaya apa tidak? Ini benar-benar surprise sekali buatku.

“Surprise is surprise like I said, right my fella..?”
Aku hanya tersenyum saja melihat gaya si Irene yang goyang dangdut sambil tolak pinggang mengarahkan kemaluannya lebih dalam ke mulutku.

Kubelai bulu-bulu tipis dan halus yang menutupi daerah paling terjaga kepribadiannya itu. Kewanitaan itu keliatan sudah sangat basah dan terasa berdenyut-denyut. Saat kucoba sentuh, tubuh Irene langsung terangkat tertahan. Kusentuh lagi dan kugesekkan jariku pelan melewati belahan kemaluan indah itu. Erangan kecil mengiringi gerak tubuh Irene.

Kubuka lebar-lebar paha Irene, kuberikan bahuku sebagai tumpuan kakinya agar dapat lebih leluasa aku menatap liang kewanitaannya. Kudekatkan kepalaku ke liang senggamanya. Tidak ada bau yang tidak enak sama sekali. Kujulurkan lidahku mengusap pelan dan lembut dari atas pubic hairnya menuju ke bawah. Kumasukkan lidahku sedalam-dalamnya ke dalam lubang kenikmatannya. Bau kewanitaannya semakin kuat tercium. Vaginanya benar-benar cepat sekali basah.

Tiba-tiba Irene menjambak rambutku dengan kuat, dan menggerakkan kepalaku naik turun di permukaan liang senggamanya dengan cepat dan agak sedikit kasar (nafsu kali dia yah?). Lalu dia menegang. Dengan jariku, secara terus menerus klitorisnya kusentuh, pelintir, lalu kugosok. Mulutku pun langsung menghisap liang kewanitaannya, sehingga suara yang dikeluarkan kali ini agak kuat diiringi dengan badannya yang terangkat kejang. Basah deh jariku waktu itu, aku belum sadar juga kalau si Irene ini mau ‘nge-blow’ (istilah orgasme Iyan).

Bersambung ke bagian 03

2 Comments on “Sensation of My Campus 02”

Leave a Reply