Monday 18 December 2017
Terbaru
Home / Pesta Seks / Pesta Assoy 02

Pesta Assoy 02

Sambungan dari bagian 01

Dengan posisi berdiri, aku memasukkan kemaluanku ke dalam liang miliknya secara perlahan. Aku menikmati setiap momen saat batang kemaluanku memasuki vaginanya hingga penuh berada dalam rahimnya. Ohh… akhirnya! Inilah rasanya liang kenikmatan Ami, yang dulu selalu kuimpikan. Seluruh urat di kemaluanku berdenyut-denyut dan darahku berdesir hebat saat itu. Kupeluk pinggangnya, dan Ami pun memelukku dengan erat sambil menggoyangkan pinggangnya. Dua gundukan daging di dadanya yang montok itu menekan dadaku, bergesek-gesek menimbulkan kenikmatan tersendiri dari kekenyalannya.

Dani pun tidak tinggal diam. Ia membuka pantat Ami, dan menyodomi Ami. Ami berteriak keras saat anusnya ditembus oleh Dani.
“Aduuuhhh… p.. elan-pelan… Dan, sakiit…”
Gila juga sebenarnya. Suaminya sedang asyik meyetubuhi Lia, sementara aku dan Dani menggarap Ami habis-habisan. Aku melirik seklias ke arah Feby yang tengah mengeluar-masukkan sesuatu benda ke dalam kemaluan Rinda. Yang jelas Rinda mendesah-desah dibuatnya sambil mencengkram payudara Feby.

Kembali aku berkonsentrasi dengan Ami. Aku menyodok dengan kuat dan cepat. Dani mengimbangi, sehingga Ami mengeluarkan jeritan-jeritan tertahan akibat dua kemaluan laki-laki keluar masuk di dua lubang miliknya. Dani bahkan menjilati tengkuk dan leher Ami, membuat Ami semakin liar. Sampai akhirnya Ami mencapai klimaks kenikmatannya, mengeluarkan rintihan yang pelan tapi panjang. Kepala Ami terkulai di bahuku. Aww… yang benar saja!

Aku belum puas. Dari dulu aku sangat menginginkan untuk menyetubuhi Ami sampai puas. Maka tanpa memperdulikan kondisi Ami yang sudah letih, aku terus menggenjot. Ami hanya mengerang. Dani melepaskan kemaluannya dari anus Ami dan entah mencari Rinda, Lia, ataukah Feby, aku tidak memperdulikannya. Konsentrasiku saat itu berpusat pada Ami. Secara konstan batangku berulangkali menyodok. Gairah Ami muncul kembali, dan dia pun mulai bergoyang mengimbangiku. Namun karena adanya pengaruh obat kuat yang kukonsumsi, sampai Ami mencapai orgasme lagi pun aku masih tetap bertahan dan terus menggenjot. Hingga akhirnya aku merasakan sangat geli pada seluruh kemaluanku dan batang kemaluanku berdenyut-denyut.

“Amii… gue mau.. keluar niiih….” aku berbisik pada Ami.
“Keluar di dalem aja, Van… lagi safe koq…” balasnya berbisik pula.
Berkali-kali alat kelaminku menyemprotkan sperma ke dalam rahim Ami. Ahh… puasnya tubuh dan hatiku, karena keinginanku sejak kuliah dahulu tercapai sudah. Selama beberapa saat kami tetap berpelukan dan kemaluanku masih tertancap dalam kemaluannya. Setelah itu tubuhku berpisah dengannya. Aku beristirahat di sofa, sedangkan Ami merebahkan dirinya telentang di atas karpet. Dadanya bergerak naik turun seiring nafasnya. Kulihat Joe sedang berbicara dengan Feby.

“Gue belum nyobain loe nih, Feb. Ayo dong, please..!” kudengar Joe merayu.
Feby hanya tersenyum, “Jangan sekarang deh. Mendingan kita tidur aja. Liat tuh, udah pada selesai semua.”
“Wah… gue juga belum coba, Feb” kata Dani.
Hm… berarti si Feby ini belum di’coblos’ sama sekali dari tadi. Kalau dipikir-pikir memang dari semula dia hanya mengulum batang kemaluan kami para cowok dan memain-mainkan vagina cewek lain. Curang juga… tapi aku sendiri memang sudah setengah mengantuk, walaupun masih ada sisa-sisa nafsuku.

Akhirnya kami berlima selain Joe dan Ami bertelanjang bulat tidur di kamar tamu, satu ranjang, campur baur. Sebelum benar-benar terlelap, aku dapat merasakan bahwa aku tengah mengenggam payudara seseorang entah siapa, dan seseorang yang entah siapa juga tengah menggenggam kemaluanku (kuharap itu bukan Dani).

Pagi harinya Feby membangunkanku. Masih sangat pagi. Kulihat Dani, Rinda, dan Lia masih pulas. Aku pun masih lumayan mengantuk.
“Van, gue mau mandi nih. Mau ikut ngga?”
Tawaran begini tidak mungkin kusia-siakan. Aku mengangguk dan mengikutinya ke kamar mandi. Hmmm… ada bath tub-nya! Hebat juga si Joe ini. Feby menyalakan air panas untuk mengisi bath tub tersebut. Kami berdua duduk di sisi bath tub.

“Mau gue pijat ngga, Van?” tawar Feby.
“Mau dong!” jawabku antusias.
Feby tertawa renyah, dan mengambil posisi di belakangku. Lalu ia mulai memijat kepalaku.Enak rasanya, aku merapatkan diri ke tubuhnya sehingga dadanya yang lunak menyentuh punggungku.Batang kejantananku mulai keras.
“Eeh.. nakal ya?” katanya.
Aku hanya tertawa, tapi tanganku mengusap-usap pahanya. Halus… Pijatannya beralih ke bahuku.

“Biasanya Fay suka pijatin loe kaya gini ngga?” Feby bertanya.br>”Kadang-kadang. Tapi loe lebih bertenaga dari dia. Pijatan loe lebih terasa..”
“Mau yang lebih terasa?”
Tangan kanan Feby turun dari bahuku menuju selangkanganku, lalu mulai mengusap-usap milikku. Aahh… enaknya… Tubuhnya semakin dirapatkan ke tubuhku. Dadanya semakin tertekan ke punggungku, dan aku juga dapat merasakan bulu-bulu kemaluannya pada pantatku.

“Ah.. enak banget Feb. Bener-bener kerasa…”
“Enak ya? Bagus dong…” katanya.
“Gue suka ama ini deh..” Feby berkata lagi sambil mengelus kedua telur di selangkanganku, lalu meremas dengan sangat lembut.
Aduh… enaknya… caranya mirip sekali dengan Fay. Gairahku naik. Namun Feby menghentikan gerakannya.

“Nanti dulu. Campur ama sedikit air dingin biar jadi anget.”
Lalu Feby menyalakan keran air dingin. Sebentar saja sudah bath tub-nya sudah penuh. Kamiberdua masuk sekaligus. Feby berada di depanku. Hangat sekali rasanya. Tanganku memeluk perut Feby, dan kuciumi lehernya. Feby kegelian.
“Gue sabunin ya?” Feby menawarkan padaku. “Tapi nanti loe juga sabunin gue.”
“Beres!” jawabku.

Kami keluar dari bath tub. Feby mengambil sabun dan mulai menyabuni seluruh tubuhku termasuk selangkanganku. Rasanya geli dan enak. Di bagian tersebut Feby beroperasi lebih lama dari bagian lainnya. Aku kemudian ganti menyabuni tubuhnya. Feby bergumam pelan saat aku menyabuni buah dadanya. Lalu aku mengosok selangkangannya dengan perlahan, membuat Feby menggelinjang. Gairahku semakin meningkat. Aku berdiri di hadapannya, memeluk pinggangnya dan langsung mencium bibirnya. Feby membalas dengan bernafsu dan memelukku dengan erat. Cukup lama kami berciuman dan bermain lidah.

Aku meremas pantatnya dan mulai mengesek-gesekkan kemaluanku yang penuh sabun dan sudah tegang 100% dengan klitorisnya. Feby kembali menggumamkan sesuatu yang tidak jelas. Beberapa saat kemudian Feby sudah tidak tahan.
“Aahh… aahh… langsung aja, Van. Gue udah kepingin nih…” Feby berteriak.
Aku membawanya kembali ke bath tub untuk membersihkan sabun yang ada pada tubuh kami. Kami mengambil posisi duduk berhadapan dan aku mendudukkan Feby dengan vaginanya tepat pada batangku.

Bless… Amblas penisku ditelan vaginanya. Tubuh kami bersatu dalam kenikmatan. Gerakan Feby yang luar biasa membuatku kewalahan. Aku bertahan agar tidak cepat keluar. Memang pada akhirnya Feby lebih dahulu mencapai orgasmenya. Tidak lama aku menyusulnya mencapai orgasme dan memuntahkan spermaku ke dalam tubuhnya. Kami berciuman kembali setelah merasakan kepuasan. Air di dalam bath tub hanya tersisa setengahnya akibat permainan kami. Kami lalu bangkit dan duduk di sisi bath tub.

“Loe hebat deh, Van. Kuat banget mainnya..” puji Feby.
Vagina Feby sedikit kurang jepitannya. Kalau saja milik Feby sempit dan ketat seperti Fay, pasti aku kalah dengan tehnik yang dimilikinya.
“Loe juga hebat koq, Feb..”
“Enak mana gue ama Fay?”
Aku hanya terdiam. Bingung menjawabnya.

“Lebih enak sama Fay, ya?” kejarnya.
“Koq jadi dibandingin ama Fay sih?”
“Loe ngga heran kenapa gue bisa tau disini ada pesta seks?”
Nah lho! Di pikiranku muncul satu kemungkinan.
“Dari Fay?” tebakku.
Feby mengangguk. Aku bingung dibuatnya. Darimana Fay tahu kalau kami mau pesta “assoy”?”Fay kasih tau kalo ada pesta seks di rumah Joe. Ya.. gue dateng aja! Dia juga bilang kalo loe ikut.” jelas Feby.

“Waktu itu gue tanya, dia koq ngga marah, padahal tau loe main cewek. Dia bilang, dia udah tau kalo loe suka main cewek. Jadi waktu nikah sama loe dia udah siap terima resikonya. Tapi dia titip sesuatu buat loe, lewat gue..”
“Apaan tuh?”
“Ini nih..,” kata Feby sambil meraih batang kemaluanku yang sudah mulai lemas, mengangkatnya ke atas, lalu menepuk telurku dengan keras.
“PLOKK..!”
“WADAAAWW..,” teriakku.

Mataku terasa berkunang-kunang, dan perutku mulas sekali. Selangkanganku berdenyut-denyut. Selama beberapa saat aku hanya mengerang sambil memegangi “si korban”. Feby tertawa kecil.
Sial!
“Jangan salahin gue ya? Itu titipan dari Fay. Kalo mau bales, bales aja ama dia.”
“Sialan loe..,” aku hanya memaki.

Setelah itu kami kembali membasuh tubuh kami dengan shower. Siangnya, bersama dengan Joe, Ami, Lia, dan Rinda, kami berjalan-jalan keliling Jakarta dan makan-makan di restoran. Hingga sorenya kami kembali ke rumah Joe. Malamnya kami pulang ke rumah masing-masing. Sebelum pulang, Feby memberikan sebuah bungkusan kepadaku.
“Kalo mau bales Fay, pake ini aja.”
Aku membukanya, dan… hehehe…. ini cocok sekali buat membalas si Fay.

Sampai di rumah, Fay menyambutku. Ekspresi wajahnya tenang saja, seakan tidak terjadi apa-apa.
“Gimana? Senang ya pestanya…”
“Koq Fay tau ada pesta disana?”
“Dari Ami..,” jawabnya.
“Fay bohongin dia di telepon, bilang kalo Ivan udah kasih tau Fay soal pestanya. Ami ngira Fay udah tau, jadi dia langsung cerita semuanya deh.”
Aku manggut-manggut. Bego juga si Ami. Tapi kalau tidak begitu, Feby kan tidak datang.

“Udah terima titipan Fay?” tanyanya sambil tersenyum.
Aku hanya melotot. “Titipan Fay bahaya, tahu!”
“Biarin! Biar Ivan ngga sembarangan.” katanya penuh kemenangan.
Aku sebal dibuatnya. Aku ambil pemberian Feby tadi, yaitu sebutir pil kuat dan dua butir pil perangsang nafsu. Cukup buat tetap perkasa semalam suntuk. Aku menuju kulkas dan langsung meminumnya. Efeknya langsung terasa. Aku merasa sangat-sangat bergairah.

“Minum apaan tuh?” Fay bertanya penuh selidik.
“Fay, si bibik udah tidur belum?” aku balas bertanya tanpa memperdulikan pertanyaannya.
“Udah koq..,”
“Kalo gitu, Ivan mau bales titipan Fay tadi. Ivan mau perkosa Fay disini, sekarang juga!”
Fay mendelik, “Apa-apaan sih?”
Aku langsung menerkamnya. Fay menjerit. Biar kugarap Fay semalam suntuk! Hehehe…

TAMAT


One comment

Leave a Reply

%d bloggers like this: