Monday 18 December 2017
Terbaru
Home / Pemerkosaan / Ventura 03

Ventura 03

Sambungan dari bagian 02

Surabaya, 2000

“Berhenti sebentar, Pak.”
Sopir taksi itu memandang dari spion penumpang dengan penuh rasa ingin tahu. Kim tidak mengacuhkan pandangan sopir itu, membuka pintu mobil dan melangkah turun. Nasi pecel, itu yang terbersit di benaknya saat itu. Bapak-bapak berpakaian lusuh itu menghentikan perbincangan mereka saat Kim membungkukkan tubuhnya memasuki tenda warung yang terlihat rapuh itu. Ibu penjual nasi pecel yang masih sibuk memasang sanggul rambutnya ikut-ikutan menghentikan kegiatannya dan memandang penuh perhatian.

“Bu, nasi pecel, dibungkus, dua..”
“Eh…” ibu itu terlihat sedikit gugup.
“Bu, nasi pecel..” Kim menahan tawanya.
Seorang bapak dengan tersenyum berkata, “Jeng, `dang digawekno, mosok wong tuku dikon ngenteni.” (Jeng=sapaan; cepat dibuatkan, masa orang beli disuruh menunggu)
Ibu penjual nasi itu tergopoh-gopoh bangkit berdiri melupakan sanggulnya yang belum terpasang, dan langsung menyiapkan pesanan Kim. Melihat tingkah si ibu penjual yang kocak, Kim tak sanggup menahan tawanya, dan mendengar tawa Kim yang lepas, bapak-bapak yang sedang menikmati kopi panas mereka itu tak tertahan ikut pula tertawa.
“Boleh saya duduk di sini..?”

Bapak-bapak itu bergeser dan mempersilahkan Kim duduk, sebagian dari mereka memandang dengan penuh rasa kagum ke arah Kim. Wajar saja, di saat-saat jurang kesenjangan sosial sudah sedemikian dalamnya ditambah dengan kerusuhan di mana-mana, jarang ada orang dengan penampilan exclusive yang masih memberanikan diri untuk membeli makanan di sebuah warung kecil di pinggir jalan. Dan sekarang, Kim, seorang perempuan, melakukannya.
“Dari mana, Dik.” Seorang bapak memberanikan diri bertanya.
“Ah, sekedar menghabiskan waktu, Pak.” Kim menjawab sopan.
“Cewek warungan nih, hahaha…” salah seorang bapak yang lain berseloroh.

Kim melirikkan matanya tajam, membuat si bapak yang berseloroh barusan terkesiap, dan buru-buru memalingkan wajah, menyeduh kopinya untuk meredam perasaan terkesiapnya. Kim tersenyum, mendinginkan suasana yang mendadak `garing’.
“Bukan warungan, Pak. Jalanan.” canda Kim.
Bapak-bapak itu tertawa bersamaan merasakan keakraban yang mendadak timbul antara mereka dan wanita itu. Ibu penjual nasi tersenyum melihat suasana yang mendadak hangat, menyelesaikan melipat bungkusan di tangannya, dan menyerahkan pesanan Kim.

“Monggo, Bapak-bapak,” Kim berkata tersenyum sebelum melangkah keluar, dibalas dengan anggukan dan senyuman dari bapak-bapak di warung itu.
“Arang ono bocah wedok koyo ngono iku.” (Jarang ada anak perempuan seperti itu.) Kim masih mendengar desahan ibu penjual warung sebelum melangkah masuk ke dalam Taksi.

BAB VII

Malang, 1996

“Pin..!”
Papin menoleh dan melihat Iwan berlari kecil menghampirinya.
“Apa..?”
“Jalan yow,” Iwan memegang pundak Papin dan menatap dengan pandangan memohon.
Papin tertawa, “Jalan kemana, Man..?”
“Ke sini aja, sambil nyari kopi.” Iwan menunjuk ke arah plaza di sebelah kampus mereka yang terlihat di kejauhan.
“Nyari kopi saja kesana..? Ke warung saja, deh.” Papin memiringkan bibirnya tanda tidak setuju.
“Ayolah, kan ujian sudah kelar. Paling tidak `happy-happy’ sedikit.”
“Okay, deh.” Papin menyalakan mesin sepeda motornya.

“Bagaimana ujian kamu..?”
“Kacau.” Papin menyalakan rokok di ujung mulutnya..
“Hahaha, seperti di Surabaya..?”
“Sangat mirip.”
Iwan tertawa. Matanya memandang ke arah orang-orang yang lalu-lalang.
“Pin.”
“Yo.”
“Kamu nggak nyari pacar di sini..?”
Papin tersenyum pahit, “Boro-boro pacar, cewek yang mau pendekatan sama aku saja belum tentu ada.”
“Coba kamu potong rambut, lalu berpakaian sedikit necis…”
“Percuma…” Papin melambaikan tangannya menyapu angin.
“Aku ingin pacarku menyukai aku apa adanya…”

BAB VIII

Sehari sebelumnya.

“Kintan, nanti siang papa dan mama ke sana.”
“Duh, jangan sekarang, Ma.”
“Kenapa..?”
Kim memandangi tubuh-tubuh yang bergeletakan di ruang tamu.
“Eh, teman Kintan ada yang ulang tahun nanti siang.”
“Oh, begitu.”
Sebuah tangan memeluknya dari belakang, meraba perutnya dan merambat ke payudaranya. “Bentar, Ma.”
Kim menutup gagang telpon dan menggerakkan kakinya ke belakang, menendang dengkul Ferry yang segera menjauh sambil terpincang-pincang.
“Ma..?”
“Ya..? Ada siapa di sana..?”
“TV, Ma,” Kim beralasan sambil lalu, “Kintan mau mandi, mau ke kampus.”
“Baiklah, nanti kalau tidak jadi ke pesta, telpon ke rumah.”
“Siap, Ma.”

“Yow, bangun kalian..!”
Kim menggerakkan kakinya menendangi tubuh-tubuh yang bergeletakan di atas lantai ruang tamu. Beberapa dari mereka terbangun, mengomel dan mengusap pantat mereka yang tertendang. Kim tertawa melihat tingkah mereka, dan menuju ke kamarnya.

“Aduh, yang dua ini,” Kim menghela nafas, “Hey, bangun..!”
Ina mengeluh dan membuka matanya, “Jam berapa sekarang..?”
“Jam setengah dua belas,” Kim membuka lemari dan mengambil sepotong baju.
Ina mendudukkan tubuhnya, menyingkirkan lengan Andi beberapa saat yang lalu masih menempel di dadanya. Andi merasakan pergerakan gadis itu dan ikut membuka matanya.
“Loh, aku di mana..?” gumam Andi tak jelas.
Ina membungkukkan tubuhnya, mengecup bibir Andi dan bangkit dari atas tempat tidur. Kim melemparkan sepotong pakaian lain ke arah Ina, yang langsung mengenakannya.

“Bangun, Di. Sudah siang. Katanya kamu ujian jam satu..?” Kim berkata sambil memalingkan wajahnya, ketika Andi membalikkan tubuhnya yang tertelungkup di atas tempat tidur.
“Masa..?” Andi terkejut dan segera bangkit, memunguti pakaiannya di lantai. Ina membantu kekasihnya berpakaian.
Kim mengeleng-gelengkan kepalanya melihat mereka berdua, dan melangkah keluar kamar menuju ke kamar mandi.
“Ikut, Say.” Ferry mendadak muncul di belakangnya.
“Nanti sabunkan punggungku, okay..?”
“Hore,” Ferry bersorak, membukakan pintu kamar mandi dan mendorong Naryo yang masih sibuk menutup retsleting celananya keluar.

“Kim, aku senang kamu kembali seperti biasa.”
“Memangnya aku kenapa..?”
Ferry mengusapkan sabun di tangannya ke punggung putih gadis di depannya.
“Beberapa hari terakhir kamu terlihat sedikit murung.”
“Masa..?”
“Iya.” Ferry mengangkat gayung dan membasuh punggung Kim dengan air.
“Ah, aku tidak merasa demikian.”
Ferry tersenyum mendengar kebohongan Kim, “Sudah.”
Kim berdiri dan membuang rambutnya ke belakang, “Thanks.”

“Lalu..?”
“Lalu apa..?” Kim mengambil air dengan gayung dan menyiramkannya ke tubuhnya.
“Hanya menyabuni saja..?” protes Ferry dari belakang.
“Dasar,” gerutu Kim, “Sini..!” Kim meletakkan gayung di tangannya ke pinggir bak mandi dan membalikkan tubuhnya.
Gadis itu melingkarkan lengannya di leher Ferry dan menempelkan dadanya yang basah ke dada telanjang lelaki itu. Ferry mendesah dan mengecup bibir gadis di hadapannya. Kim mengangkat paha kanannya dan menurunkan pinggulnya menduduki kemaluan lelaki itu, menjepitnya di lipatan pahanya. Ferry mendesah dan menekan pinggulnya ke atas.

Kim mengecup bibir Ferry dan melumatnya dengan penuh nafsu, membuat Ferry terengah dan menggerakkan pinggulnya, menggesekkan kemaluannya ke bibir kemaluan Kim. Ferry menekan tubuh Kim, mendorongnya hingga bersandar ke dinding, Kim mendesah dan mengetatkan rangkulannya pada tengkuk Ferry, mengangkat kedua kakinya dan melingkarkannya di pinggang lelaki itu. Ferry menahan bobot tubuh Kim dengan pahanya, menggerakkan pinggulnya menggesek dan menekan kemaluan gadis itu berulang-ulang.
“Fer…” Kim terengah.
Ferry memandang wajah gadis di dekapannya yang masih basah oleh air, “Ya..?”

Kim mendadak tersenyum dan menurunkan kaki kanannya, “Sakit, bego.”
Ferry tertawa kecil, “Lalu..?” Pinggulnya menekan sedikit lebih keras. Kim mengaduh dan menundukkan kepalanya, mengigit hidung lelaki itu.
“Aduh,” Ferry mengerang dan melepaskan pelukannya.
Kim tertawa, membiarkan Ferry yang sibuk memegangi hidungnya. Gadis itu mengambil gayung di pinggir bak, memasukkannya ke dalam air dan menyiramkannya ke tubuh Ferry yang masih memegangi hidungnya.
“Mandi, Say. Biar segar.” Ferry mengumpat kalang kabut.
“Tegaaa..”

Kim mengambil handuk dan mengeringkan tubuhnya. Ferry memeluknya dari belakang dan mencium tengkuk gadis itu. “Kim.”
“Ya..?”
“Apa sih sebenarnya aku bagimu..?”
Kim tersenyum, membalikkan tubuhnya dan mengecup bibir lelaki itu.
“Sahabat yang aku sayangi.”
Ferry mendesah nafasnya dalam-dalam, “Terserah kamu, deh.”
Kim menangkap nada kekecewaan itu dalam nada suara Ferry.
“Tunggu.”

Ferry melihat Kim mengambil gayung sekali lagi, dan menyiramkan sisa air dalam gayung itu ke lubang kunci di pintu kamar mandi. Terdengar suara seseorang memaki-maki dan beberapa langkah kaki yang tergesa-gesa menjauh. Ferry mengenakan handuknya dan membuka pintu, melihat Andi yang masih menatap rokok basah di tangannya.
“Padahal tinggal sebatang,” ratapnya.
Kim tertawa-tawa kecil dan melangkah keluar.

BAB IX

Jojo terlempar, tendangan yang mengenai rusuk kirinya begitu keras. Lelaki itu hampir bisa merasakan setiap tulang rusuknya yang berderak patah. Matanya menatap nanar ke arah orang yang menendangnya.
“Bangsat.”
Lelaki berambut panjang itu mendekati Jojo dan mengayunkan kakinya sekali lagi ke tubuh yang mesih tertelungkup itu. Jojo merasakan nyeri di tulang pipinya, pandangannya sedikit gelap sekarang. Ia dapat mendengar lelaki itu tertawa sinis saat menjambak rambutnya.

“Dengar, Tikus,” lelaki itu mendesis di telinganya, “Dewi fortuna takkan menghampirimu saat ini. Bersyukurlah aku masih mengasihani nyawa tikusmu.”
Lelaki itu menghantamkan kepala korbannya ke aspal.
Dari sudut matanya Jojo masih sempat menyaksikan beberapa pasang kaki itu melangkah menjauh sebelum gelap menyelimuti otaknya.

Ardi memainkan senar gitarnya dengan lincah mengikuti suara radio.
“Di, katanya minta kopi.”
Ardi menatap Inge yang berdiri di depan pagar sambil membawa secangkir kopi.
“Wah, aku sampai lupa.” Lelaki itu berdiri dan menghampiri gadis yang masih meruncingkan bibirnya. “Ayo, masuk dulu.”
“Katanya minta kopi, akhirnya aku juga yang mesti repot membawanya ke sini,” gadis itu mengomel panjang lebar.
“Kan sekalian saja.”

Ardi memeluk tubuh Inge dari belakang, meletakkan telapak tangannya di buah dada si gadis. Inge menggeliat dan kopi itu nyaris tumpah dari tangannya.
“Hei..! Nanti dilihat orang,” Inge berseru.
Ardi tertawa. mengambil kopi itu dari tangan Inge dan meletakkannya di atas meja kecil di teras.
“Lagi main lagu apa, Di..?”
“Biasa, Sweet Child o’ Mine, buat inagurasi adik kelas besok.”
“Keren,” Inge berkata sambil mengambil gitar yang tergeletak di teras, mencoba bergaya seperti gitaris kenamaan dan memetik beberapa senar dengan jemarinya yang lentik.

Ardi tersenyum mendengar suara sumbang itu, menghampiri Inge dan berbisik di telinga gadis itu, “Sana, pulang. Masih banyak pelanggan yang menunggu cewek manis.”
Inge meruncingkan bibirnya, “Jadi kamu tidak..?”
Lelaki itu tertawa dan tangannya bergerak cepat mencubit payudara si gadis.
“Nanti malam saja.”
“Dasar.”

“Di….”
Ardi menolehkan kepalanya, beberapa orang pemuda memasuki pekarangan dengan terburu-buru.
“Ada apa..?”
“Gawat, Di,” salah seorang dari mereka berkata. Ardi menoleh sejenak ke arah Inge yang memandang bertanya-tanya.
“Inge, kamu pergi, sana.” Inge mengangguk dan melangkah ke luar.
“Jadi..?”
“Jojo dibantai orang.”
Ardi terkesiap, “Di mana dia sekarang..?”
“Di Syaiful Anwar.”

Tanpa banyak omong Ardi bergegas mengambil jaketnya di ruang tamu, menyusupkan samurai pendek itu ke lipatan celananya dan mengajak teman-temannya segera berangkat. Selama perjalanan ia menjadi sedikit bingung menghadapi inagurasi besok, karena Jojo adalah vokalis grup band-nya. Jika Jojo cidera, siapa yang akan menggantikannya..?

Ardi menatap Jojo yang telentang di atas tempat tidur UGD dan menggelengkan kepalanya. Wajah lelaki itu terlihat penuh lebam, beberapa lilitan perban melingkari dada dan perutnya.
“Siapa, Jo.”
Jojo menatap dengan sayu, kesadarannya belum pulih benar.
“Sepertinya anak Dinoyo, berambut panjang, kurus,” desahnya lirih.
“Kamu pasti..?”
“Entahlah,” Jojo mengerenyitkan alisnya, “Yang penting dia tahu kalau aku anak band, dan orang Surabaya. Argghh..”
Ardi memanggil perawat yang segera datang dan menyibukkan dirinya menenangkan Jojo yang mulai mengerang kesakitan. Ardi memandang dengan iba ke arah temannya, nyaris bisa merasakan kenyerian tulang rusuk Jojo yang patah.

Ardi melangkah keluar menghampiri teman-temannya, “Ayo berangkat.”
“Kemana, Di.”
“Ferry, dia pasti tahu.”
Teman-temannya saling berpandangan dengan hati berdebar-debar mendengar nama itu. Mereka tahu sifat emosional Ardi yang terkadang membuatnya begitu impulsif, tapi Ferry..? Setelah sekian lamanya mereka bergencatan senjata..? Ini gila.

BAB X

“Ferry..! Balikin..!” Anya berteriak-teriak, menimbulkan sedikit kegaduhan di warung nasi pecel itu.
Ferry tertawa lebar dan mengangkat foto itu tinggi-tinggi, “Hahaha, ternyata kamu ada `mata’ dengan anak dosen itu, ya..?”
Teman-temannya yang lain tertawa melihat gerakan Anya yang menggapai-gapai foto di genggaman lelaki tinggi besar itu.
“Fer.”
Ferry membalikkan tubuhnya, melihat Naryo dan beberapa temannya sudah berdiri dan melangkah keluar dari warung. Ferry mengembalikan foto itu kepada Anya, dan menyusul keluar.

“Ada apa..?”
“Siapa yang keluar ke kota sekitar pukul tujuh tadi..?”
Ferry melangkah mendekati lawan bicaranya.
“Yang sopan, Mas. Jangan langsung main serobot.”
Lelaki itu bergerak turun dari sepeda motornya, mendekai Ferry dan menatap wajahnya lekat-lekat.
“Aku bertanya, Fer.”
Ferry menatap tajam ke mata Ardi dan menggeram.
“Aku bilang, yang sopan kalau bertanya,” desisnya.

Ardi menggerakkan lengannya mencengkeram kerah baju lelaki itu, Ferry menepis dengan sikutnya. Beberapa orang yang mengelilingi mereka terlihat bersiap-siap memasang kuda-kuda. Para pemilik warung bergegas menyembunyikan piring, gelas, serta barang pecah belah lainnya.
“Tenang saja, Bu,” gadis yang masih asik menghabiskan nasi pecelnya itu berkata, “Tidak mungkin di sini, kok.”
Ibu penjaga warung itu menggaruk-garuk kepalanya sambil mendesah lega. Bagaimanapun, perkataan gadis ini selalu bisa dipercaya, pikirnya. Ferry menatap dengan garang ke arah lelaki di hadapannya.
“Kalau ada kenapa..? Ada masalah..?”
Yang diajak bicara menggeram dan mendesis, “Selesaikan seperti dulu.”
“Man on man..?”
“Sure.”

“Kamu tidak ikut kan, Kim..?” Anya mendesah ragu.
“Kenapa tidak,” sahut Kim, menyerahkan lembar dua puluh ribuan kepada ibu penjaga warung, “Kembalinya besok saja, Bu.”

“Jangan dekat-dekat, Kim. Aku takut.”
Kim membatalkan niatnya untuk mendekat, mengambil tempat di samping Anya yang segera memegang lengannya kuat-kuat.
“Tunggu. Sebenarnya ini masalah apa..?”
Ardi menatap lelaki itu dan tersenyum penuh arti.
“Ini dulu. Yang lain belakangan.”
Ferry tertawa dan melepaskan jaketnya, “Tentu saja.”

Suasana konstruksi bangunan itu semakin mencekam. Kegelapan malam menimbulkan kesan tersendiri yang menemani hati orang-orang yang berdegup kencang melihat kedua ketua gerombolan itu bersiap mengambil kuda-kuda.

“Aku rindu kamu, Fer.” Ardi berseru sambil mengayunkan lengannya.
Ferry membungkuk dan menggerakkan lengan kirinya, menusuk perut Ardi dengan buku-buku jemarinya. Ardi menggeram dan menarik kembali sikutnya, membuat kepala Ferry terlempar.
“Bagus,” Ferry berseru menjatuhkan dirinya sambil menendang dengan kaki kanannya, Ardi terhuyung ke belakang.
Ferry melompat mendekat dan melemparkan tinju kanannya yang segera ditangkis oleh ayunan lengan musuhnya. Ardi mengayunkan lengan kanannya dan menghantam rahang musuhnya yang segera terdorong beberapa langkah ke samping.
“Kurang cepat..!” teriaknya.

Ferry tersenyum pahit dan menggulingkan tubuhnya, menghindari tendangan ke arah perutnya.
“Masa..?” tawanya.
Tangannya memegang kaki musuhnya yang baru menjejak tanah dan mengangkatnya ke atas. Ardi merasa kepalanya sedikit pening ketika mencium tanah di bawahnya.
“Hahaha..” Ferry tertawa melihat gelagat musuhnya yang bergulingan memegangi kepalanya, kakinya terangkat siap menjejak.
Ardi mendadak berguling dan mengayunkan kakinya ke arah kemaluan Ferry.
“Aduh, curang.” Ferry terjatuh memegangi kemaluannya yang tertendang.
Seketika, kerumunan orang itu bergerak berbarengan.

“Sudah..!”
Anya terhenyak mendengar teriakan sahabatnya.
Kim berlari ke tengah kerumunan sambil membentangkan tangannya lebar-lebar.
“Lagi-lagi Kim.” Ardi memegangi kepalanya yang masih sedikit pening. Ferry tertawa dalam kenyeriannya.
Kerumunan orang itu sejenak merasa lucu melihat kedua orang yang terduduk di atas tanah sambil tertawa-tawa. Kim meletakkan kedua tangannya di pinggang dan memandangi kedua lelaki itu bergantian.
“Hihi.. kalian terlihat konyol. Apa tidak malu..?”
Beberapa saat kemudian gadis itu tertawa. Semua orang ikut tertawa mendengar selorohan Kim.Suasana tegang mendadak berubah renyah.

“Jadi ada apa sebenarnya..?”
Ardi menempelkan tissue itu ke kepalanya, berusaha menghentikan aliran darah yang masih tersisa. “Ada yang memukuli Jojo, tadi, sekitar pukul tujuh.””Ah..?” Ferry cukup mengenal Jojo, angkatan adik kelasnya dari Surabaya. Seingatnya, anak itu tak pernah mencari masalah, “Lalu..?”
“Entahlah.”
“Maksud kamu..?”
“Jojo merasa pernah melihat anak itu berkeliaran di seputar Dinoyo.”
“Oh..?” Ferry terkesiap, “Bagaimana ciri-cirinya..?”
“Rambut panjang, kurus, dan menurut Jojo, kemungkinan juga seorang dari Surabaya.”
“Surabaya..?” Kim mendesah lirih.

Ferry dan Ardi memandang heran atas reaksi Kim yang sedang memegangi botol Betadine di sebelah mereka. Namun mereka tidak terlalu mengacuhkannya.
“Dari mana ia tahu kalau orang itu anak Surabaya..?”
“Katanya, si gondrong itu sempat berkata `sejak dulu aku selalu ingin memukuli kamu’, dan semacam itulah.”
Ferry menganggukkan kepalanya, “Berarti cerita lama, dong..?”
“Mungkin. Dan Jojo baru masuk ke sini setahun. Berarti orang itu memang memburunya.”

“Tunggu,” seseorang berkata, “Kalau gondrong, kurus, anak pindahan…”
Ferry dan Ardi menoleh ke arah Anya. Kim memandang dengan penuh perhatian, hatinya berdebar. Mungkinkah….

Bersambung ke bagian 04


One comment

Leave a Reply

%d bloggers like this: