Terdakwa 02

Sambungan dari bagian 01

“Ngaku aja Pa..!” kata istriku, mengagetkan lamunanku.
“Ngaku gimana, aku nggak ngapa-ngapain koq..!” kataku sambil tersenyum geli.
Gimana tidak geli melihat bola matanya memandangku melotot seakan mau keluar, terlihat juga kilatan cemburunya, mungkin sudah tingkat emosi. Tiba-tiba tangan kanannya bergerak akan menamparku. Segera kutangkap, dan kupeluk tubuhnya. Dia meronta-ronta. Kujatuhkan dia ke atas tempat tidur. Kukunci tubuhnya.
“Aku jijik sama kamu, Pa, jijik. Jangan sentuh aku,” katanya mencoba melepaskan diri.
Kulonggarkan kuncianku. Segera dia melepaskan dan pergi ke kamar mandi. Aku tahu, dia bukan ingin buang hajat, tetapi melepaskan kesedihannya di sana, menyembunyikan diri, dan menguras air matanya. Dan esoknya tampak kelopak mata akan terlihat cekung, kebiasaan dia dari gadis, aku tahu itu.

Aku bingung juga, tidak makan nangka dapat getahnya. Segera aku temui Mimin. Aku cari dia. Ternyata ada di dalam kamarnya. Kupanggil agar segera ke ruang tamu, kalau aku mengintrogasinya di kamarnya, semakin berat tuduhanku.
Setelah ke ruang tamu, “Min, kamu melakukannya sama siapa..?” tanyaku.
Kulirik istriku sudah keluar dari kamar mandi, dan berjalan ke ruang tamu dan ikut bergabung dengan kami. Bukannya menjawab, malah semakin deras air matanya. Repotnya urusan sama wanita, nih gini ini, kalau sudah terdesak, keluar deh air matanya. Diajak dialog seperti apa juga jawabnya sama, diam dan menangis.

Ya sudah. Kutinggalkan mereka berdua. Aku segera pergi ke kantor sendiri. Pulang kantor suasana rumah tidak kondusif, tidak ramai, tidak ada canda. Makan sih bersama, nonton tv juga, tapi semua diam, mana malam itu jadwal “timsuis” lagi, apes. Tersiksa, jadi terdakwa, kalau dilihat dari alat bukti sih sudah jelas dia hamil, dan penyebabnya pasti seorang laki-laki, dan di rumah ini hanya aku laki-lakinya. Kalau orang luar kemungkinan kecil, mengingat dia jarang keluar. Ya tapi aku khan tidak berbuat, ah pusing. Aku mau tidur saja deh, mau masuk ke kamar tidur, sudah dikunci duluan, apes lagi deh. Terpaksa tidur di sofa di depan televisi dan masih menggunakan pakaian kerja.

Keesokan harinya, di sore hari aku lihat ada kakak-kakak iparku datang. Wah tidak enak juga nih, urusan dalam negri melibatkan pihak asing. Tetapi demi kebenaran, tidak apa-apa deh, yang jelas para orang tua tidak diundang. Tidak enak, khan sudah tua masih saja mengurusi anaknya. Sudah gitu urusan ginian lagi, apalagi bila ibu mertuaku tahu, habis deh aku disemprot. Akhirnya kami berdialog. Dialog sesama lelaki itu lebih nyaman, walau kadang ada yang terbawa emosi. Ada yang memutuskan aku cerai dengan istriku, dan aku disuruh tanggung jawab. Ada yang usul lihat saja kalau sudah lahir, test dna-nya, pokoknya debat seru, bukan debat kusir. Pada intinya kubilang bahwa aku masih mencintai istriku, dan aku tidak “berbuat” dengan prt-ku. Kukemukakan juga pendapat kalau aku mau selingkuh buat apa sama prt-ku. Memangnya di luar tidak ada yang “lebih baik”, memangnya aku tidak punya “modal” untuk berbuat, istriku malah melotot menatapku, biarin, habis kesal sekali dituduh terus-terusan.

Akhirnya diputuskan, demi kemanusiaan biarin deh prt-ku tetap kerja, dan biaya persalinan ditanggung olehku. Khan sebagai terdakwa. Dan nanti akan ditest dna-nya. Sementara itu tidak ada perceraian, tetapi tetap perang dingin. Jadi kami menunggu proses persalinan saja. Hari demi hari berlalu, dan hari ini, aku gajian. Seperti biasa, kalau gajian kuserahkan semua buat istri, tetapi karena lagi perang dingin, aku tidak menyerahkannya. Karena ada suara telpon, kupergi untuk mengangkat telpon di ruang keluarga dan amplop gaji kuletakkan di meja rias di kamar tidur.

Sekembalinya dari telpon, eh tuh amplop sudah hilang. Kucari istriku sudah masuk ke kamar mandi. Segera kuperiksa map keuangan rumah tangga. Istriku selalu memasukkan uang gajian kami berdua ke dalam amplop yang sudah disediakan untuk pos-pos pengeluaran, mulai dari cicilan, biaya telekomunikasi, biaya kesehatan, biaya dapur, jajan, tabungan, asuransi, ngasih orangtua hingga biaya tak terduga. Kami memang sepakat untuk disiplin anggaran, lebih boleh ke dugem (dunia gemerlap), kalau tidak ya di rumah saja. Anggaran dibuat untuk satu tahun, dan disepakati bersama.

Setelah istriku selesai mandi, giliran aku mandi. Uh sudah lama tidak “timsuis”, melihat istri habis mandi keluar dari kamar mandi hanya ditutupi selembar handuk saja sudah langsung protes nih “adik”-ku. Aku segera masuk dan mandi, sambil mandi aku mikir, waktu kuletakkan amplop gaji dengan masuknya uang ke amplop-amplop pengeluaran, kok cepet bener yah. Dasar perempuan, perang dingin sih perang dingin, urusan uang mah tetap, disikat juga. Kalau kupikir-pikir, aku ini bayarnya bulanan, bukan jam-jaman, tetapi sekarang bayar mah tetep, makenya tidak, dasar apes. Yah sudahlah, besok saja dimasturbasi. Tetapi memang kalau lagi untung tidak kemana-mana.

Paginya aku wetdream lagi. Sebentar, aku replay dulu sama siapa yah..? Hah, sama bosku. Gila, diprogram saja tidak lho. Oh, mungkin saat aku meeting anggaran, dia menerangkannya aku tidak konsen dan mikir ke yang lain, maklum sudah lama aku tidak “timsuis”. Karena lagi perang dingin, jadi tidak dijewer lagi, dia hanya melirik terus buang muka, dalam hatiku salah sendiri kenapa tidak dikasih, khan jadi gini akhirnya. Malamnya aku nonton tv, biasa bertiga, tetapi yang bersuara hanya televisinya saja, sementara tiga manusia matanya menatap televisi tetapi tidak tahu ke mana arah pikirannya. Tidak berapa lama istriku tidak kuat ngantuk. Dia pergi tidur dan mengunci kamar tidur. Tinggallah kami berdua. Kucoba untuk bicara dengan prt-ku, kukecilkan suara tv-nya.

“Mimin, kalau kamu nggak mengatakan siapa laki-laki itu, toh lama kelamaan akan ketahuan. Nanti kalau bayimu lahir akan ditest darahnya, dan itu bisa ketahuan siapa bapaknya!” kataku. Dianya hanya menunduk diam.
“Min, coba lihat suasana rumah sudah nggak enak khan, aku didiemin sama Ibu, Ibu menuduh Bapak, karena hanya aku sendiri yang laki-laki di sini!” kataku. Dianya diam saja.
“Tolong bantuin aku dengan mengatakannya siapa lelaki itu, Min..” kataku lagi. Dianya diam lagi.
“Kamu melakukannya sama tukang kebun sebelah atau sopir di depan..?” tanyaku. Dianya diam aja.
Capek ngomong sama patung, ya aku diam saja, nanti kalau ditekan malah semakin nangis.

“Saya takut Pak untuk mengatakannya..” tiba-tiba dia mengeluarkan suaranya, tetapi tetap menunduk.
“Takut sama siapa..?” tanyaku, berhasil juga rayuanku.
“Takut sama Ibu..” jawabnya, masih menunduk.
“Nah sekarang Ibu khan udah tidur?” rayuku.
“Sama Mbah Kakung..” jawabnya dengan tertunduk.
HAAAHH. “Mbah Kakungnya Bapak apa Ibu..?” tanyaku.
“Mbah Kakungnya Ibu..!” jawabnya sambil melihatku dan menunduk lagi.
“Kamu yakin..?” tanyaku.
“Yakin Pak..!” jawabnya sambil mengangguk.

Ah lega lah, mungkin beberapa saat lagi aku akan bebas dan dapat menikmati tubuh istriku, senangnya, tetapi gimana membuktikannya yah?
“Bisa nggak kamu jelasin kejadiaannya..?” tanyaku. Dia diam saja, mungkin malu, atau pahit mengenang kejadian itu.
“Kalau kamu keberatan yah sudah nggak apa-apa, tetapi akan sulit untuk membuat orang lain percaya padamu. Saat ini boleh dibilang kita ini senasib, Min. Kamu merasakan kepahitan hidup dengan hamil tanpa suami, sementara aku dituduh berbuat sama kamu dan aku jadi terdakwa..” kataku lemah.
“Waktu itu Mimin sedang membersihkan lantai..” jawabnya tiba-tiba.
Aku diam, menunggu penjelasannya lebih lanjut.
“Mbah Kakung sedang nonton televisi, Mbah Putri sedang tidur di ruang tidur tamu (BO70: dia sedang terapi, saat dia meminum obatnya maka dia akan tertidur pulas, ada petir juga tidak bakalan bangun, karena kata dokter dia harus banyak istirahat).

“Saat saya membersihkan lantai, dia merhatiin saya terus Pak. Selesai membersihkan lantai, Mimin mandi. Setelah mandi, Mimin masuk ke kamar. Belum sempat pintu kamar tidur Mimin tertutup rapat, tiba-tiba Mbah Kakung masuk, dan Mimin “ditindih” di kamar Mimin…” jelasnya tertunduk sambil menangis mengingat kejadian itu.
“Kamu kenapa nggak ngelawan atau teriak..?” kataku.
“Udah Pak, waktu itu hujan lagi lebat, lagian Mbah putri kalau tidur khan pules bener..” katanya tertunduk, sambil menghapus air matanya dengan ujung bajunya.
“Berapa kali sama Mbah Kakung?” tanyaku.
“Yah cuman sekali itu..” jawabnya malu-malu.
“Sakit nggak..?” tanyaku.

GOBLOK, ngapain aku nanya yang kayak gitu, khan malu kalau wanita ditanya soal gituan.
“Nggak..” jawabnya singkat sambil melihatku, tampak sudah kering air matanya.
Kaget juga aku kalau dia mau menjawab.
“Cuman merasa jijik aja sama kumisnya yang kasar, sama cairan yang menempel di sini..” katanya lagi sambil menunjukkan kemaluannya.
“Kamu sudah pernah melakukan seperti itu sebelumnya..?” kataku.
“Belum pernah?” tanyaku untuk memancingnya, “Bener, apa nggak punya keinginan?” kataku lagi.
“Nggak Pak, Mimin lihat keluarga Mimin berantakan seperti itu, makanya Mimin nggak mau kawin dulu, trauma. Makanya saya senang kerja di sini, biar nggak lihat suasana rumah di kampung. Kalau uangnya kumpul dan Mimin sudah nggak dibutuhkan, Mimin mau dagang di kampung, dan kontrak rumah sendiri..” katanya.

Aku berpikir, dia disetubuhi hanya sekali, tidak merasa sakit, ehh.
“Min, waktu kejadian itu kamu telanjang nggak..? Maaf Min, aku nanya ini maksudnya sebagai bahan untuk membela kamu, jadi kamu jangan salah paham..” kataku.
Tidak segera dijawab, dia melihatku dulu, kemudian. “Waktu itu khan habis mandi Pak, mana sempat pakai baju..!” jawabnya.
Oh iya yah, Goblok kwadrat deh aku, maklum bentar lagi bebas jadi terdakwa, jadi processor mmx-ku, ada sedikit illegal operation.
“Mbah Kakung..” kataku terputus, gimana yah aku menjelaskannya, ah sudah lah cuek, “Memasukkan kemaluannya ke ‘punyamu’ nggak..?” tanyaku.
“Ya, dia berusaha Pak, cuman karena saya meronta, nggak keburu masuk, tapi nggak lama saya merasakan ada cairan hangat yang membasahi punya saya Pak. Ih jijik..!” jawabnya.
Kalimat terakhirnya hampir tak terdengar, euh, mulai lupa deh sama sedihnya. Duh, jawabannya polos sekali, mendengarkan dia cerita, aku merasa geli ya juga terangsang. Tapi dengan demikian aku dapat gambaran yang cukup jelas.

Keesokan harinya, aku mencoba menghubungi kakak-kakak iparku, dan melakukan rapat keluarga lagi setelah pulang kerja. Pertama mereka meragukan informasi yang kuberikan. Akhirnya setelah melakukan pemeriksaan ke dokter terdekat, (sebelumnya Mimin menolak diperiksa selaput daranya bila dokternya pria, hingga kami berusaha memenuhi keinginannya mencari dokter wanita) terbukti bahwa dia masih perawan, percayalah mereka bahwa apa yang kuceritakan adalah benar. Sekarang tinggal bagaimana menceritakan kepada istriku, yang jelas jangan kepada ibu mertuaku, bisa kelenger dia kalau mendengarkan berita ini. Juga kelanjutan nasibnya Mimin dan melakukan konfirmasi ke bapak.

Akhirnya diputuskan bahwa untuk membicarakan ke bapak melalui kakak iparku yang wanita, sedangkan untuk istriku lewat kakak iparku yang pria dan tertua. Untuk Mimin diputuskan dia tetap tinggal denganku, sedangkan bila selesai persalinan, anaknya diambil oleh kakak iparku yang tertua yang kebetulan belum memperoleh keturunan hingga kini. Malamnya suasana mulai agak berubah. Yang jelas istriku malu sekali dengan aku yang telah menuduhku yang bukan-bukan, hingga dia pun malu menegorku duluan. Walaupun posisiku sudah menang, tetapi bukan berarti semena-mena. Aku mencoba berkomunikasi dengannya.

Saat malam aku mau tidur, aku mencoba membuka kamar tidur. Eh ternyata tidak dikunci. Ah sudah lampu hijau nih. Aku masuk dan segera ke tempat tidur. Aku merayunya, berusaha memanaskan tubuhnya. Aku belai, tanpa penetrasi kecuali diperintah, foreplay selama mungkin, perlahan. Malam itu kami melakukan hubungan “timsuis” tidak seperti biasanya, layaknya malam pengantin baru saja, maklum sudah hampir sebulan ini aku tidak melakukannya, dan kami melakukannya hingga beberapa kali. Memang rasanya lain bila melakukan hubungan “timsuis” setelah berpisah karena perjalanan dinas. Apalagi bila habis bertengkar kemudian baikan lagi, rasanya benar-benar meresap. Seperti ikan bandeng presto, bumbunya meresap dan tulang pun jadi lunak, dapat di ‘mam’ lagi.

Akhirnya suasana rumah kami ceria kembali. Hingga Mimin bersalin, ibu mertua tidak mengetahui kalau dia punya anak tiri, sementara istriku senang sekali punya momongan, adiknya yang terkecil (???), khan benih dari ‘bokap’-nya. Tidak ada itu namanya ANAK HARAM, semua anak terlahir dengan SUCI.

TAMAT

Leave a Reply