Lelly Si Pembantu 04

Sambungan dari bagian 03

Tak ada suara lain yang keluar dari mulut kami selain desah kenikmatan selagi kami saling menghisap dan menjilat selama hampir 5 menit. Lelly yang tadinya hanya menggoyang-goyangkan pantatnya seirama gerak jilatanku pada vaginanya itu mendadak menggelinjang liar dan menghisap penisku semakin keras. Ia sudah hampir orgasme, pikirku. Maka kulepas mulutku dari vaginanya dan kutarik penisku dari mulutnya. Aku bangkit berlutut dan kutarik tubuhnya agar juga bangkit. Ia seperti bingung dan kehilangan arah. Kutuntun agar ia berbalik memunggungiku, juga sambil berlutut, lalu kudorong punggungnya hingga ia menungging, merekahkan pantatnya yang memang benar semakin padat dan besar itu. Kutarik kedua pahanya hingga semakin mengangkang, lalu dari belakang, kumasukkan penisku ke dalam vaginanya yang memang sudah siap dimasuki itu. “Sssllppp..” dengan mudah kumasukkan penisku ke dalam vaginanya yang sudah basah kuyup oleh lendir gairah itu dan kucengkeram pantatnya. Kumaju-mundurkan pantatku awalnya perlahan-lahan agar ia terbiasa dulu dengan posisi ini, semakin lama semakin cepat. Kenikmatan tiada tara kurasakan pada seluruh tubuhku, terutama pada penisku yang terasa diremas-remas oleh vagina sempit berlendir wanita muda ini.

“Ohhh. ohhh. ohhh.. Leehlll..” Keceplok-keceplok perutku menghantam pantatnya semakin cepat dan semakin keras seiring dengan semakin liarnya aku menyetubuhi Lelly dari belakang. Ia pun semakin bernafsu menggoyang-goyangkan dan memaju-mundurkan pantatnya seirama dengan sodokan penisku pada vaginanya.

“Mmm… mmm.. ngg.. ngg.. mmm.. Den Andrehhh..”
“Lellyhh.. Lelllyyy.. ohhhh.. Leehhlll.. ohhh..”

Rupanya ia menyukai posisi yang baru pertama kali kulakukan padanya ini, sebab ia tampak bernafsu menggoyang tubuhnya sementara kedua tangannya mencengkeram kasur tipis itu dan desahan dan erangannya mulai berubah menjadi pekikan-pekikan kecil, liar dan tak terkendali, semakin lama semakin keras. “Ahk.. ahkk.. aahhh.. ahhkkk.. Den.. Den.. Deehhnn..”

Aku pun semakin terangsang mendengar jeritan-jeritannya ini, dan kusadari bahwa dua rumah di sebelahku belum ada penghuninya sehingga jeritan kami tak akan terdengar oleh siapa pun. Maka aku pun larut dalam gairah dan kenikmatan ini.

“Leehhll.. nikkhhmmaaatt, sayanghhh. ohh.. ohh.. ohh..”
“Aahhkkk.. ahhkk.. aaahh.. Dehhn.. Dehhn.. terus Dehhhnn.”
“Ohh Leehhll.. dahhzzarr pelacchhurr kamu.. annjjhiingg..”
“Deehhnn Annddree.. aahh.. terruss Deehhnn..”
“Ngenttoohht lhhuu.. ohhh.. pelacchhurr.. chabboohh.. shittt..”
“Deehhnn.. aaahhh.. Lelly nggak tahhhannn Deenn.. Deeenn!”

Ia menggelinjang hebat menyertai jeritan terakhirnya itu dan aku pun semakin keras menggenjotkan penisku di vaginanya dan mencaci-makinya sambil meremas-remas buah dadanya.

“Ohh.. anjing.. bangssatthh.. cabbohhh luhh.. pelaccchuurr.. ngentoott.. ngentot.. aaahh..”
“Deennn.. aaakk…”
Lelly mendorong pantatnya habis-habisan sehingga penisku menancap sedalam-dalamnya di vaginanya yang meledakkan muncratan-muncratan lendir orgasme begitu banyak hingga meleleh keluar dari vaginanya. Kutekan penisku dalam-dalam sambil kuremas buah dadanya. Mendadak ia ambruk lemas hingga penisku tercabut lepas dari vaginanya. Kutindihi ia dari belakang dan kuciumi punggungnya yang basah oleh keringat terus ke leher dan telinganya. Lelly diam saja membiarkanku menjilatinya sementara napasnya terdengar memburu.

Begitu napasnya terdengar mulai tenang, kutarik lagi pinggulnya sehingga Lelly kembali berlutut menungging seperti tadi, namun ia menoleh dan memohon.
“Hhhh.. Deen, Lelly nggak kuat, Deen.”
“Diem lu, pelacur!” bentakku sambil menampar pipi kanannya, kulanjutkan dengan, “Ngentot luh!”

Ia terdiam sementara aku pun menungging di belakangnya, lalu menjilati pantatnya hingga ke lubang anusnya. Vaginanya tak lagi kusentuh-sentuh, kini lidahku habis-habisan menyerang lubang anusnya hingga ke dalam-dalam, membuat pantat dan lubang anusnya basah kuyup. Lelly diam saja tak bereaksi. Lalu aku bangkit dan mengarahkan penisku yang masih dipenuhi lendir orgasme wanita desa ini pada lubang pantatnya, lalu perlahan-lahan kutekan memasuki lubang pantatnya. Lelly tersentak kaget dan menarik pantatnya sampai ia berbalik dalam posisi duduk di kasur. Rupanya ia baru menyadari apa yang ingin kulakukan. “Den, jangan, Den.. Lelly ta..” dan, “Taarrrr!” Lecutan tamparanku pada pipinya meledak keras, memotong omongannya. Kujambak rambutnya dan kutarik kepalanya hingga mendekat dengan wajahku.

“Bangsat lu, Pelacur! Cabo! Anjing lu! Jangan banyak ngomong! Nungging!” bentakku keras. Ia tampak sangat terkejut dengan perlakuanku yang mendadak kasar itu, juga sakit merasakan tamparan dan jambakanku. Air mata langsung meleleh lagi dari matanya yang tampak liar dan ketakutan. Kubentak lagi. “Cengeng lu! Anjing! Dasar Babu! Udah gue puasin, nggak tau diri lu!”
“Deeenn..” bisiknya lirih
“Nungging!” bentakku lagi.

Lelly tak bisa melawan saat dengan kasar kutarik pantatnya hingga kembali pada posisi nungging. Dengan berlaku kasar dan membentak-bentaknya ini, bukannya penisku melemas, ternyata aku semakin terangsang dan penisku tampak semakin mengeras dan membesar. Tak berlama-lama lagi, kupegang kedua pantatnya dan kumasukkan penisku ke dalam lubang anusnya. Kepala penisku tertahan erat di ujung lubang anusnya.

“Adduuhh.. duuhhh.. Deen, sakit, Dennn.. Duh.. jangan, Deenn.”
“Diem lu ngentot!”

Kuludahi beberapa kali lubang anusnya yang otomatis juga mengenai kepala penisku, lalu kupaksakan penisku memasuki lubang anusnya yang terasa sangat sempit dan mencengkeram itu. Perlahan-lahan kukeluar-masukkan kepala penisku, terus hingga terasa lebih lancar. Tak kupedulikan pekik kesakitan dan permohonan agar berhenti yang dilontarkan oleh Lelly. Kuremas pundaknya dan kujadikan penopang untuk menarik pantatnya ke arahku sementara pantatku maju menyodokkan penisku lebih dalam ke lubang anusnya. Kurasakan keringat dingin merembes di tubuh Lelly yang memang sudah basah berkeringat ini.

“Den, sakit.. duuuh.. udah ya, Den.. brenti ya.. sakittt, Deeenn.. uungghhh..”
Namun usahaku tak sia-sia. Semakin lama penisku berhasil masuk semakin dalam ke dalam lubang anusnya, dan gerakan sodokanku bisa semakin cepat. Kurasakan kenikmatan menggila yang baru kali ini kurasakan saat menyetubuhi pantat pembantuku ini.

“Hhh.. ngh.. ngh.. Lehhll, ennakk, Lehhll.. ngh.. ngh…”
“Ohhh.. duhh.. Dennnn.. udah dong Denn.. ohhh.. sakittt Dennn.”
“Hhh.. hh.. ngh.. ngh.. enak, Lehhhll.. nikmattthhh.. ohhh..”
“Deennn.. aduuuhh.. ggghhh.. ohh.. ngk.. Deennn.. sakiitt”

Aku tak mempedulikan rintihan kesakitan dan permohonan yang keluar dari bibirnya itu. Yang penting aku merasa seperti di surga dengan cengkeraman erat yang mengocok kejantananku dengan gila ini. Kini kemaluanku benar-benar sudah amblas ke dalam lubang anus Lelly dan kusodokkan keluar-masuk dengan cepat, sementara air mata bercampur keringat menetes dari wajah Lelly ke kasur tipis itu. Tak lama aku mampu bertahan pada kocokan lubang anus yang mencengkeram ketat ini, kenikmatan puncak mulai meledak-ledak dalam tubuhku.

“Ohhh.. ohhh.. Lehhlll.. akkkuu ngggaakk kuatt, Sayyyannggh..”
“Ggghhh…”
“Lehhll.. Lehhll.. Lehhhll.. Lellyyy.. aaahh!”
“Gggghhh.. uuhhh… hhkkk.. hhkkk..”

Aku menjerit keras dan, “Crat.. Crat.. Crat.. Crat…” Berulang kali lendir mani kental dan panas meledak dalam pantat Lelly. Air mata meleleh semakin deras dari matanya dan Elly menggigit bibir bawahnya dengan keras sementara kedua tangannya mencengkeram kasur menahan rasa sakit. Kutancapkan penisku sedalam-dalamnya di lubang anusnya yang sempit itu, terus hingga muncratan mani terakhirku dan penisku melemas seketika di dalam pantatnya. Aku ambruk menindih tubuh Lelly dan penisku pun tercabut lepas dari pantatnya. Kuciumi punggung dan lehernya yang basah. Kubalik dia, kupeluk erat dan kuciumi bibirnya dengan bernafsu. Lelly diam mematung tak merespon ciumanku, bahkan ia mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Air mata terus meleleh ke pipinya walaupun tak ada lagi tangisan maupun isak keluar dari bibirnya.

Aku tak peduli. Kupeluk dan kubelai-belai rambut dan tubuhnya sambil mengatur napasku yang tersengal-sengal. Kukecup bibir dan pipinya sesekali hingga akhirnya napasku pun kembali teratur.

“Hhhh.. Makasih, Sayang.. Hhh.. Aku nikmatin banget..”
Lelly diam seribu bahasa. Air mata yang tak lagi mengalir deras kini mengambang di pelupuk matanya. Kukecup bibirnya. Tak ada respon. “Sorry ya, Sayang, aku tadi maki-maki dan kasar ama kamu. Abis aku kebawa suasana sih.” Tetap tak ada respon. Akhirnya kutarik dia ke kamar mandi. Ia menurut saja. Kami membersihkan diri dan pulang.

Dalam perjalanan, kulihat pandangannya yang menerawang keluar mobil, berusaha menghindari memandangku. Kupegang pahanya, “Hey! Ngelamun?” Ia menepis tanganku dari pahanya. Ia tak memandangku saat bicara.
“Den Andre jahat.”
“Lho kenapa?”
Ia diam beberapa saat.
“Lelly udah berusaha nikmatin, supaya nggak merasa diperkosa lagi. Lelly berusaha membayangkan Den Andre tuh pacar Lelly waktu Den Andre memuaskan nafsu setan Den Andre pada tubuh Lelly.”
“Ya bagus dong.” kataku setengah tak paham dengan maksudnya.
“Tapi tahu-tahu Den Andre nyakitin Lelly.” air mata kembali mengambang di pelupuk matanya, “Den Andre kasar banget.. hk.. hk.. Lelly sakit.. hk.. hk..”
Kubelai rambutnya. Ia kembali menepis tanganku dengan kasar. Ia menyapu air matanya dengan punggung tangan.
“Pantat Lelly sakit, Den. Lebih.. ehem.. lebih dari itu, hati Lelly sakit, Den.. Mmm.. Den Andre maki-maki Lelly.. nampar Lelly.. Lelly dibilang pelacur.. anjing..”

Ia berhenti, sesenggukan sesaat, mengambil tisue, mengeringkan mata dan membersihkan hidungnya. Lalu melanjutkan.. “Lelly emang cuma pembantu, Den. Tapi Lelly bukan pelacur.. hhkk.. hkk.. Hati Lelly.. ngh.. hkk.. hati Lelly sakit digituin, Den.” Ia kembali membersihkan hidung. Aku diam saja dan Lelly juga terdiam beberapa saat, berusaha menenangkan diri.

“Lelly berusaha nikmatin, supaya nggak merasa diperkosa, tapi akhirnya Den Andre nyakitin Lelly lagi. Bikin Lelly merasa terhina dan kotor.”

Aku hanya menghela napas dan akhirnya kami saling berdiam diri hingga tiba kembali di rumah kontrakan. Puncak kejadian terjadi saat hari terakhir kami pindahan. Istriku mendengar dari kakaknya bahwa pembantunya cerita bahwa Lelly bercerita pada mereka bahwa aku sering memperkosanya. Istriku meledak dan, tentunya lebih percaya padaku yang menyangkal mentah-mentah, ia pun memaki-maki Lelly habis-habisan dan langsung memecat Lelly hari itu juga. Anehnya, Lelly tak tampak sedih atau marah saat kuantar ke rumah temannya di kawasan Kebayoran. Wajahnya tampak dingin seperti tak pernah terjadi apa pun. Begitu pun saat kuingatkan bahwa sejak awal aku sudah pernah memperingatkan bahwa jika dia cerita dan istriku sampai tahu tentang kejadian itu, kemungkinan besar yang jadi korban adalah dirinya sendiri, karena aku pasti lebih dipercaya daripada dia. Ia diam saja tak merespon dengan wajah yang sangat biasa-biasa saja. Namun sejak itu, lenyaplah kesempatanku untuk meniduri pembantu lagi, karena sejak itu pulalah kami tak pernah memelihara pembantu lagi.

TAMAT

Leave a Reply