Lelly Si Pembantu 03

Sambungan dari bagian 02

Setelah Lelly selesai mandi, kupanggil dia dan kuajak duduk di meja makan. Duduk dengan kepala menunduk, Lelly sama sekali tak bicara. Kugenggam tangannya dengan lembut dan kuletakkan di atas meja, tak kulepaskan selama aku bicara, sementara ia diam seribu bahasa.

“Lel, dengerin, ya? Kamu jangan cerita kejadian ini sama siapa-siapa. Semua orang yang kenal aku, tahunya aku orang baik dan sangat cinta sama istriku dan nggak pernah berbuat macem-macem.”

Ini memang benar. Reputasiku selama ini memang bersih dan sikapku memang selalu tampak memanjakan dan sangat mencintai istriku. Dan itu bukan dibuat-buat. Kenyataannya memang aku sangat mencintai istriku dan berusaha selalu memanjakan dan membahagiakannya. Aku dan istriku begitu saling terbuka hingga ia tahu bahwa aku pernah bersetubuh dengan pacar pertamaku sebelum aku menikah dengannya. Namun sejak menikah dengannya, aku memang tak pernah berbuat macam-macam dan kejadian nista ini memang merupakan pengalaman pertama dalam hidupku. Lelly tetap menunduk, tak bergerak dan tak berbicara.

“Sebenernya aku sih nggak peduli kamu mau cerita apa nggak. Toh orang-orang pasti nggak percaya ama cerita kamu. Malah kamu nanti dikira ngarang. Justru aku kasihan ama kamu, Lel. Kalo istriku sampe denger, dia nggak mungkin percaya ama cerita kamu dan pasti lebih percaya ama aku. Akhirnya pasti malah kamu yang dipecat.”

Lelly tetap diam tak bereaksi.
“Aku minta maaf udah maksa kamu. Tapi aku tahu kamu juga nikmatin. Jadi ya udah deh, begitulah keadaannya. Untuk kebaikan kamu sendiri, sebaiknya kamu jangan cerita kejadian ini sama siapa-siapa. Ya? Lel.”

Ia diam tak bereaksi.
“Lel? Yaaa?”
Ia tetap diam. Aku bangkit dan membelai rambutnya. Ia tetap tak bereaksi. Kukecup kening dan pipinya. Ia tetap diam. Maka kutinggal ke kamarku untuk tidur. Esoknya keadaan agak normal, kecuali kulihat kadang pandangannya agak menerawang dan ia berusaha sejarang mungkin bicara denganku. Sepanjang minggu itu selama istriku tak ada, setiap malam aku dan Lelly bersetubuh, bahkan hingga tiga kali pada hari Sabtu dan Minggu saat aku libur. Mungkin lebih tepatnya bukan bersetubuh, tapi aku menidurinya, karena setiap kali ia selalu tampak menikmatinya, namun setiap kali pula ia selalu menangis dan tampak tak rela.

Karena beberapa kali kutumpahkan maniku di dalam vaginanya, suatu hari beberapa minggu kemudian, kudapati Lelly tampak pucat. Ia mengaku merasa mual dan beberapa kali menahan muntah. Istriku menyuruhnya ke dokter, namun ia menolak dan mengatakan mungkin ini hanya masuk angin. Saat kesempatan tiba di mana aku bisa berduaan dengan Lelly, kutanyakan apakah ia terlambat menstruasi. Ia membenarkan hal itu dan aku tak buang waktu lagi, kubeli kapsul Tuntas di saat pertama yang memungkinkan, lalu kusuruh Lelly meminumnya. Beberapa hari berlalu dan saat istriku tak ada, Lelly memberi tahu aku bahwa ia telah kembali menstruasi dan tak lagi mual-mual. Betapa leganya aku mengetahui itu.

Aku masih memanfaatkan kesempatan dan selalu meniduri Lelly bila istriku keluar kota atau menginap di rumah saudaranya dan kejadian vital terjadi setahun kemudian.

Aku pindah dari rumah kontrakan ke rumahku sendiri di pinggir kota Jakarta yang sebenarnya telah beberapa tahun kubeli, namun belum bisa kutinggali karena alasan-alasan tertentu. Dalam proses pindahan dan pengangkutan barang-barang, beberapa kali aku bepergian dari rumah kontrakan ke rumahku hanya berdua dengan Lelly. Ini terjadi pada suatu hari saat aku pergi berdua dengannya. Hari itu Lelly memakai T-shirt ketat dan celana pendek jeans. Ia tampak seksi. Mungkin karena sering kugerayangi dan kutiduri, sepertinya buah dada dan pantatnya semakin besar saja.

Setelah selesai membawa masuk semua barang dari mobil ke rumah baru yang masih berantakan itu, aku dan Lelly berada di dalam kamar utama yang masih kosong, memasukkan beberapa barang. Setelah merapikan barang-barang itu, aku menutup dan mengunci pintu kamar. Aku membuka kaosku yang basah oleh keringat dan menatap Lelly. Kulihat Lelly balas menatapku dengan sikap lemas dan pasrah, “Den Andre mau perkosa Lelly lagi, ya?”

Aku agak tersentak dengan pernyataannya itu dan membalas, “Emang selama ini Lelly merasa diperkosa?” Ia tak menjawab dan hanya memalingkan pandangannya. Kuhampiri dan kuambil tangannya, ia tak melawan dan tak juga mengatakan apa-apa.

“Aku pikir kamu juga nikmatin hubungan kita, setelah sekian kali.”
“Akhirnya emang iya, Den. Tapi awalnya tetep aja Lelly sebenernya nggak rela.”
Ia terdiam sesaat, aku hanya memandang wajahnya. Akhirnya ia menoleh dan menatap mataku.
“Terus, setelah selesai, Lelly selalu merasa berdosa dan terhina. Lelly sedih dan merasa kotor.” Matanya mulai berkaca-kaca, lalu ia melanjutkan, “Emang Lelly juga nikmatin, malah.. malah kadang.. ngh.. kadang Lelly yang kepingin.. itu.. begitu.. ama Den Andre, tapi nggak bisa karena ada Den.. (nama istriku)” Ia menyedot hidung dan menghapus air mata yang mulai meleleh di pipinya dan melanjutkan dengan terbata-bata dan sesenggukan, “Tapi.. tapphhi.. hk.. hk.. sshemua itu per.. percuma, Den. Hhkk.. hkk..” Kubelai rambutnya dan kusapu air mata dari bawah matanya. “Pher.. percuma.. karena setelah itu.. hk.. hk.. Lelly selalu merasa hina.. hng.. hhkk.. koh.. kotor..”

Aku duduk di kasur lipat tipis yang telah dibentangkan di sana sambil menarik tangannya untuk ikut duduk bersamaku, tapi Lelly mempertahankan diri sehingga ia tetap berdiri dan kembali memalingkan wajahnya dariku sambil menggigit bibir berusaha meredam isakannya. “Duduk sinih..” kataku memaksa sambil menarik tangannya. Akhirnya ia menyerah dan duduk di sisiku. Kubelai-belai rambut dan pipinya sambil merangkul pundaknya. Ia memalingkan wajahnya dariku.

“Makanya kamu jangan merasa terpaksa. Toh kamu nikmatin juga. Ya udah, adanya begitu, ya relain aja.” kataku membujuknya. “Ya?” kataku sambil kulanjutkan dengan mengecup pipinya. Ia tak bereaksi dan tetap memalingkan wajahnya dariku. Kulanjutkan mengecup pipinya beberapa kali, lalu mulai menjilati leher dan telinganya. Lelly berusaha menarik kepalanya dariku, namun kutarik mendekat kembali dan kujilati terus. Ia tetap memalingkan wajah dan matanya tampak menerawang dan air matanya yang tadinya sudah agak menipis kembali berlinang, namun ia tidak lagi terisak.

“Den Andre kok tega sih, Den? Kan Lelly baru bilang, Lelly merasa kotor kalau diperkosa Den Andre. Ini malah mau diperkosa lagi.” katanya dingin.

Memang entah kenapa, bukannya aku merasa iba mendengar pengakuannya itu, aku malah merasa semakin terangsang dan semakin ingin meniduri pembantu berkulit legam ini. Jadi aku tak menjawab pertanyaannya, malah kutarik dagunya sehingga ia terpaksa menghadap wajahku.

“Kamu nikmatin aja, Sayang.” ujarku sambil kulanjutkan dengan mengulum bibirnya. Lelly benar-benar bersikap dingin dan tak merespon ciumanku. Aku tak peduli dan terus menghisap bibirnya dan kumasukkan lidahku ke dalam mulutnya, dan kali ini ia sama sekali tak berusaha melawan. Dibiarkannya lidahku terselip di antara bibirnya dan menjilati lidah dan seluruh isi mulutnya.

“Mmmhh.. mmhh.. mmpphh.. klcp.. klcp..” aku sangat menikmati hisapan dan jilatanku pada bibir dan lidahnya, sementara Lelly sendiri tak bereaksi dan tidak juga berusaha meronta. Ia diam saja dengan sikap dingin dan tak rela, sementara air mata terus berlinang dari kedua matanya. Mengetahui titik-titik lemahnya dari pengalaman yang lalu-lalu, kutarik T-shirt yang dipakainya dan kulempar ke lantai. Tak ada perlawanan. Kujilati lagi leher dan telinganya sambil terus turun menuju dadanya. Tapi bukan itu yang kutuju. Kualihkan arah jilatanku menuju ketiaknya sambil mulai melepas kait BH-nya. Tercium bau tubuhnya yang keras pada ketiaknya yang membuat penisku langsung menegang keras dan besar di balik celana jeans-ku. Kujilati ketiaknya dan benar saja, tubuh Lelly yang tadi diam saja mulai melakukan gerakan-gerakan kecil dan saat kuintip, kulihat matanya yang sudah tak lagi menangis itu mulai terpejam dan bibirnya digigit lembut sambil mengeluarkan desahan-desahan pelan, “Mmhh.. mmhh..”

Dari ketiaknya, jilatanku berpindah ke buah dadanya, lalu ke buah dadanya yang sebelah lagi, lalu menyeberang ke ketiaknya yang sebelah lagi. Begitu terus lidahku menari menyeberangi tubuhnya.
“Hhh.. hhh.. hh.. mmhh.. hmmm.. Dheehhhn.. ohhh..”
Aku lalu berkonsentrasi pada putingnya yang kujilat dan kuhisap dengan lembut sambil tanganku mulai menarik reitsleting celananya.
“Ohhh, Dehhhn.. mmmhh..”
“Kenapa, Lel? Klcp.. klcp.. Kamu suka? Klcp.. klcp.. hmmm..”
“Den Andre curanghh… hhh.. hhh.. ohhh.. Den Andre tahu yang Lelly.. ohh.. hmmm.. Lelly.. sukahh.. Ohhh, Deehhhnnn..”

Aku melepas lidahku dari putingnya dan menarik badannya agar rebah di kasur. Kulepaskan celana pendek sekaligus celana dalamnya hingga ia benar-benar terbaring telanjang. Aku sendiri melepaskan celana jeans sekaligus celana dalamku sehingga kini kami berdua sama-sama telanjang bulat. Tak membuang waktu lagi, aku berlutut di atas kepalanya sementara kepalaku langsung menuju selangkangannya. Kukangkangkan kedua pahanya dengan tanganku dengan sedikit memaksa dan kuturunkan pantatku sampai kepala penisku menyentuh bibirnya. Ia memalingkan wajahnya sehingga penisku menempel di pipinya.

“Ayo, Leeelll. Aku tahu kamu juga suka.” Kataku tak sabar sambil mulai menjilati klitorisnya. Ia diam saja, maka kujilati saja vaginanya yang sudah basah oleh lendir itu sambil menggerak-gerakkan penisku di wajahnya.

“Mmmm.. hmmm.. hmmm.. oohhh.. ohhh.. ohh.. Deeehhnn..” desahnya. Kumasukkan lidahku ke dalam liang vaginanya sambil jariku meraba-raba bibir vaginanya. “Aaahhh.. ahhh.. hmmm.. sshhh..” Lelly tampak semakin menikmati jilatan dan rabaanku, sehingga tak lama kemudian, ia pun menyambar penisku dengan tangannya dan memasukkan kepala penisku ke dalam mulutnya. “Ngghhh.. Leeelll.. ohhh.. issseppp, Lelll.. nggg..” Dijilati dan dihisap-hisapnya penisku sambil dikocoknya batang penisku sementara aku sibuk menjilati dan menghisap vaginanya.

“Mmmhhh.. mmmhhh.. mmmhhh.. mmmhhh..”
“Hmmmppphhh.. hmmhhh.. hmmmppphhh.. mmm.. mmhhh..”

Bersambung ke bagian 04

One Comment on “Lelly Si Pembantu 03”

Leave a Reply