Lelly Si Pembantu 02

Sambungan dari bagian 01

Aku melempar dasternya ke samping dan mulai merogoh kait BH di punggungnya. Ia kembali berusaha mendorong tubuhku dengan tenaganya yang tak seberapa itu. Kulepas dan kulempar BH-nya hingga menampilkan buah dada yang telah sekian lama merangsang khayalanku ini. Langsung kudaratkan lidahku pada putingnya yang hitam pekat itu dan kujilati sambil kuhisap-hisap. Lelly hanya bisa mencengkeram rambutku sambil menggigit bibir dan memejamkan mata, entah ia menikmati atau tidak jilatan-jilatan dan hisapan-hisapan liarku pada buah dadanya ini, aku tak peduli. Sambil menghisap putingnya, sebelah tanganku mulai melepaskan celana dalamnya hingga terlepas sama sekali, membuat Lelly kini benar-benar telanjang bulat.

Puas menjilati puting susunya, aku pun bangkit untuk melepaskan celana pendek sekaligus celana dalamku, sehingga penisku yang telah menegang keras itu pun kontan mengacung siap beraksi. Lelly kembali ketakutan melihat pemandangan di depannya itu. “Den, saya takut, Den. Saya takut.” Aku kembali merebahkan diri di sisinya sambil melekatkan jari telunjuk di depan bibirnya. “Sssst! Diem!” bentakku pelan. “Kamu rileks aja, Lel. Lemesin tubuhmu dan nikmatin aja semua ini.” kataku sambil kembali melahap bibirnya. Kutindih lagi badannya dengan bertelekan pada satu siku, kuhisap-hisap dan kujilati bibir dan lidahnya sementara sebelah tanganku meraba-raba buah dada dan putingnya dan penisku menggesek-gesek bulu kemaluannya dengan lembut. Jilatan dan hisapanku lalu turun ke leher dan ketiaknya. Kujilati dan kuhisap-hisap ketiak yang baunya membuatku sangat terangsang ini, yang ternyata merupakan salah satu titik lemah wanita muda ini. “Mmmhhh.. mmm.. Deeehhnn.” desahnya tanpa ada lagi kata-kata penolakan dari bibirnya.

“Sekarang kamu nikmatin ini, Lel. Aku yakin belum pernah kamu rasain.” ujarku sambil berpindah posisi, mengangkangkan kedua kakinya lalu memasukkan kepalaku di selangkangannya. Tercium bau anyir menyengat yang membuat birahiku semakin bergejolak dan tak buang-buang waktu lagi, kujilat habis vaginanya yang telah basah penuh lendir itu. “Hngk.. ggghh.. Dhehhhnnn.!” erangnya penuh kenikmatan. Kujilati dan kupermainkan klitorisnya dengan ujung lidahku, kumasukkan lidahku ke dalam liang vaginanya dan kujilati seluruh bagian dalam vaginanya sambil kuhisap-hisap klitoris dan bibir vaginanya dengan bibirku, sementara satu tanganku naik meremas-remas buah dadanya dan tangan satunya meremas-remas pantatnya.

“Hnngghhh.. hnngghh.. ohhh.. hhh.. hngkh.. ohhh.. ssshh.. hmmm.” Lelly mengerang dan mendesah dengan napas yang semakin tak beraturan, sementara dadanya mulai naik-turun mengikuti irama remasan tanganku dan pantatnya pun mulai naik-turun mengikuti irama jilatan lidahku yang liar dan ganas. “Dehhhn.. Dehn Ahndreehh.. ooohh.. sshhh.. mmmhhh.. Dehhhnnn…”

Penis kerasku sudah tak sabar lagi ingin dimasukkan dalam liang vagina penuh lendir yang terasa manis dan nikmat di mulutku ini, maka aku memanjat tubuhnya dan melebarkan kangkangan kedua paha Lelly sambil memposisikan penisku di depan vaginanya. Sejenak Lelly tampak agak ketakutan, namun dengan lembut kubelai pipi dan rambutnya dan kuciumi bibirnya dengan lembut, yang tampaknya berhasil menenangkannya. Kutekan penisku masuk perlahan-lahan ke dalam liang vaginanya yang terasa sangat sempit itu. Mata Lelly mendadak terbelalak merasakan tekanan yang mungkin telah lama tak ia rasakan pada vaginanya itu. Ia kembali menggigit bibirnya sementara aku terus memasukkan penisku semakin dalam ke dalam vaginanya, membuat air mata kembali mengambang di kedua matanya yang terpejam erat itu.

“Ngh.. ngh.. ngh.. hhkk..” isak tangis bercampur erangan kenikmatan terdengar dari bibirnya. “Sslllpp..” kutekan batang penisku sedalam-dalamnya hingga pangkal penisku menempel di bibir vaginanya. Nikmat sekali kurasakan vagina pembantu bertubuh kecil yang terasa sangat sempit ini. “Ohhh, Lelll..” desahku sambil mulai menarik penisku keluar hingga setengah jalan, lalu menekannya kembali hingga masuk penuh sampai ke pangkal penisku. “Ohhh.. ohhh.. Lelllyyy.. ohh..”

Aku pun mulai memaju-mundurkan pantatku sementara Lelly hanya diam saja tak bereaksi sama sekali dengan air mata masih terus berlinang di pipinya dan bibir tetap digigit. Entah apa yang ia rasakan, namun yang kurasakan saat itu adalah kenikmatan hebat melakukan perbuatan nista penuh birahi pada pembantu muda ini.

“Ohhh, nikmat, Lehhll.. ohh sayyanghh.. mmmhh, aku cinta kamu, Lehll..” kubisikkan lembut kata-kata cinta gombal di telinganya sementara tanganku meraba-raba putingnya yang mengeras dan mengacung itu dengan lembut dan penuh perasaan tanpa menghentikan gerakan pantatku yang maju-mundur di vaginanya dengan penis besar dan kerasku dengan lembut dan perlahan-lahan. “Ohhh sayangghhh.. ohhh Lellyyh.. sayanghh, aku jadiin istri mudaku mau kahhn? Mmmhh.. sayangghh.. ohhh, aku cinta kamu sayyangg..”

Bisikan-bisikan cintaku kuselingi dengan sesekali menjilati telinga, leher dan bibirnya. Kadang turun ke buah dada dan putingnya. Kadang liar kuhisap bibirnya dengan bernafsu. Hampir 10 menit kulakukan ini hingga akhirnya kelembutan dan bisikan-bisikan gombal ini mulai berpengaruh padanya. Tubuh Lelly terasa mulai melemas dan rileks dan pantatnya mulai bergerak mengikuti irama sodokan penisku yang mulai agak kupercepat. “Hnghhh.. hnghhh.. mmmhhh.. hhh.. ohhh..” Desahan dan erangan dari celah bibirnya mulai kembali terdengar walaupun air mata masih tampak menggenang di kedua matanya yang terpejam. Kedua tangannya yang tadi mendorong dadaku mulai berpindah meraba-raba pundak dan punggungku. Saat mulutku kembali melahap bibirnya, tangannya langsung berpindah mengacak-acak rambutku sambil menekan kepalaku hingga ciuman kami benar-benar terasa ketat dan penuh birahi, dibarengi dengan gerakan lidahnya yang semakin liar merespon dan melilit lidahku yang dengan ganas menjilati isi mulutnya.

“Ohh.. ohh.. oh Lelly.. oh Lelly.. ggghhh.. gghhh.. hmmpp… hmp.. ohhh sayanghh..”
“Hhhh.. mmhh.. mmhh.. Dehhhnn.. hhhnggkkk.. hngk.. hngk.. Dennhhh..”
“Gggahh.. ahh.. ah.. ah.. Lel.. Lel.. oh.. oh.. oh.. fuck.. fuck.. oh.. fuck.. ohhh..”
“Ohh.. oh.. oh.. oh.. oh.. Denh! Ahk!”

Erangan dan desahan kami semakin liar seiring dengan genjotan penisku pada vaginanya yang semakin mengganas dan cepat, di mana pantat kami maju-mundur dengan cepat dan bernafsu, membuat selangkangan kami berkeceplok-keceplok saling menghantam dengan keras dan hebat. Lidah dan bibirku menari liar menjilat dan menghisap putingnya, sementara ia menjambak rambutku menekan kepalaku agar menancap lebih dalam di dadanya. 15 menit yang liar dan penuh birahi berlalu hingga mendadak Lelly mengejang dan kakinya menjepit keras melingkari pantatku, “Aaahh! Aahhh! Dehhnnhh!” Ia memekik dan menjambak rambutku keras dengan bola mata berputar hingga hanya terlihat putih matanya saja, lalu “Ahk!” kembali memekik tertahan menyertai sentakan terakhir pantatnya membuat penisku tertancap sedalam-dalamnya pada vaginanya yang meledakkan lendir orgasme panas hingga meleleh keluar dari vaginanya.

Lelly ambruk lemas tak bisa bergerak lagi dengan napas memburu, sementara penisku masih keras berdenyut-denyut di dalam vaginanya. Tahu ia tak mampu lagi, kulepaskan penisku perlahan-lahan disertai ringisan bibirnya yang menahan kelu. Kukangkangi tubuh telanjangnya yang basah kuyup oleh keringat, dan tanpa ampun kumasukkan penisku yang besar dan keras itu ke dalam mulut Lelly yang terbuka masih berusaha mengatur napasnya yang tersengal-sengal.

“Hngk.. Ddhhh..” tak ada lagi suara yang bisa keluar dari bibirnya yang kupenuhi dengan penisku hingga hampir mencapai pangkal penisku itu. Kumaju-mundurkan pantatku perlahan-lahan hingga penis kerasku menyodok kerongkongannya. “Mmm.. mmhh.. mmhh.. Lehll.. enak, Sayang..” Terus “kumainkan” mulutnya perlahan-lahan dan semakin lama semakin cepat dan Lelly pun berusaha beradaptasi memainkan mulut dan lidahnya untuk membuatku merasa semakin nikmat. Setelah kulihat ia semakin santai, kulepaskan penisku dari mulutnya, lalu aku merebahkan diri terlentang sambil menarik kepalanya mendekati selangkanganku. Kini kami pindah posisi aku terlentang dan ia berlutut menghisap dan mengulum penisku di mulutnya. Kuambil tangannya dan kuarahkan agar menggenggam pangkal penisku untuk mengocoknya. Ia hanya menurut saja sambil terus sibuk mengulum penis kerasku.

“Mmh.. mmm.. mmhh.. Lehll.. Lehll.. ohhh.. ohh..”
“Hmp.. hmp.. klcp.. klcp.. mm.. hmmmm.. klcp.. mmhhh..”
“Oh.. ohhh.. oh.. fuck.. fuck.. fuck.. ohh.. Lehlll.. Leehhlyy!”

Aku mulai menjerit-jerit tertahan merasakan kenikmatan meledak-ledak itu. Dan benar saja, tak sampai semenit penisku dikulum, dihisap, dijilati sekaligus dikocok oleh pembantuku, kenikmatan mulai memuncak dan seperti menyatu dalam tubuhku menuju ke satu arah hingga akhirnya, ” Crat.. crat.. crat.. crat.. crat…”

Kujambak rambutnya dan kutekan kepalanya sehingga penisku menancap ketat dalam mulutnya entah berapa kali lendir mani kental muncrat di dalam mulut Lelly yang shock dengan mata terbelalak dan kepala meronta-ronta berusaha melepaskan penisku dari mulutnya. Mungkin rasa mual yang tak tertahankan mendorongnya untuk berontak lepas kendali sehingga rasa sakit saat jambakanku pada rambutnya terenggut hingga lepas tak lagi ia rasakan.

Dengan air mata kembali meleleh, Lelly langsung terbatuk-batuk memuntahkan sisa-sisa lendir mani kental yang belum sempat tertelan dari mulutnya hingga tumpah di pahaku, di kasur dan di lantai. Ia terduduk lemas dan shock menyender pada dinding sambil menangis sesenggukan diselingi batuk-batuk dan kadang meludah di lantai berusaha melenyapkan bau anyir dan rasa kental lendir yang masih tersisa di lidah dan mulutnya. Kupandangi saja tubuh telanjangnya itu beberapa saat sambil terbaring lemas dengan napas tersengal-sengal. Saat napasku mulai kembali normal, aku bangkit dan duduk di sisinya berusaha membelai rambutnya. Lelly menepis tanganku dari kepalanya dengan kasar sambil terus menangis dan terbatuk-batuk. Dengan paksa, kutarik dia hingga tubuhnya menempel dengan tubuhku, kupeluk erat dengan sebelah tangan, sambil kubelai-belai rambut dan pipinya. Lelly tak bisa menahan diri dan menjatuhkan kepalanya di dadaku sambil menangis lepas. Kubiarkan ia menangis di dadaku sampai akhirnya ia tenang kembali dan tangisnya tinggal berupa isakan-isakan kecil. Kukecup pipinya lembut, lalu aku bangkit meninggalkannya dan pergi mandi.

Keluar dari kamar mandi, kulihat dari luar kamarnya karena pintunya memang tak kututup, Lelly berbaring menyamping memeluk lututnya dengan mata menerawang. Ia tak lagi bersuara, namun dari matanya masih tampak air mata menetes. Kubiarkan saja dia dan kulanjutkan kegiatan seperti tak pernah terjadi apa-apa. Aku makan malam, membaca dan menonton TV, sementara Lelly terus berdiam diri dalam posisi yang sama cukup lama hingga akhirnya ia keluar dan masuk ke kamar mandi.

Bersambung ke bagian 03

2 Comments on “Lelly Si Pembantu 02”

Leave a Reply