Lelly Si Pembantu 01

Aku ingin berbagi pengalaman pribadi. Kisah ini terjadi sekitar 3 tahun yang lalu. Namaku (sebut saja) Andre. Aku berusia 30 tahun, baru sekitar 1,5 tahun menikah dan belum dikaruniai anak. Aku dan istriku tinggal mengontrak rumah kecil dekat kantorku. Rumah itu hanya mempunyai dua kamar tidur, di mana salah satunya kami gunakan sebagai gudang untuk menyimpan barang-barang yang jarang kami pakai.

Suatu hari pembantu kakak iparku yang pernah keluar dari pekerjaannya kembali ke rumah kakak iparku. Karena ia telah punya pembantu baru, maka ia menawarkan sang pembantu kepada kami. Walaupun sebenarnya kami tak butuh pembantu, tapi karena kasihan, akhirnya kami menerima pembantu berusia 19 tahun bernama (sebut saja) Lelly itu di rumah kami.

Lelly sama sekali tidak cantik. Pendek, kulitnya hitam, meskipun bersih, dan wajahnya juga biasa saja. Tubuhnya pun tidak terlalu seksi dengan buah dada dan pantat yang berukuran sedang-sedang saja. Keadaanlah yang mendorong terjadinya kejadian ini. Karena tak ada tempat lain, maka Lelly tidur di kamar yang kami jadikan gudang itu. Kami rapikan sedikit, kami tambahkan kasur dan lemari kecil, maka jadilah kamar itu menjadi kamar yang cukup layak baginya.

Suatu malam, sekitar pukul 23:00, istriku dan Lelly sudah tidur, sementara aku masih mengerjakan sedikit sisa pekerjaan kantor yang kubawa pulang. Kebetulan aku membutuhkan beberapa file data lama yang aku tahu disimpan di “gudang” yang kini telah menjadi kamar Lelly. Karena pekerjaan yang tanggung hampir selesai, maka kucoba saja membuka pintu kamar Lelly. Ternyata pintu tak terkunci. Dengan tenangnya, tanpa pikiran apapun, aku masuk dengan niat mencari file. Yang kudapatkan adalah pemandangan mengejutkan dan membuat penisku bangkit mengeras. Dalam remang-remang cahaya dari jendela dan celah pintu, kulihat Lelly tidur terlentang dalam keadaan hampir telanjang. Ia tak mengenakan suatu apa pun kecuali celana dalam mini. Langsung lupa dengan file yang kucari, kututup pintu perlahan-lahan dan kudekati tubuh bugil pembantu bertubuh kecil itu. Kutatap seluruh tubuhnya dan kubiarkan mataku beradaptasi dalam kegelapan. Kuendus-endus tubuh dan ketiaknya yang terbuka dan kudapatkan bau yang sangat menggairahkan dan membuat penisku semakin menegang. Lalu perlahan-lahan mulai kuraba-raba putingnya dengan sebelah tangan, sementara tangan satunya meraba vaginanya dari luar celana dalamnya. Kulakukan perlahan-lahan hingga Lelly tak terbangun.

Setelah puas meraba pembantu kecil itu, aku mulai menciumi putingnya, namun tak kujilati, karena takut ia nanti terbangun. Tapi apa lacur, tak lama kuciumi, Lelly bergerak dan aku langsung melepas bibirku dari dadanya dan duduk berdiam diri sesaat. Ternyata ia hanya mengubah posisi dan tak terbangun. Namun kupikir, jika ia sampai terbangun dan menjerit, istriku pasti ikut terbangun dan keadaan akan jadi runyam. Maka aku pun menahan diri dan melanjutkan mencari file, lalu keluar dari kamar itu dan walaupun dengan penuh kesulitan, aku berusaha melupakan onggokan daging yang tergeletak menantang di kamar itu.

Beberapa hari berlalu, aku kebetulan bangun pagi sekali sementara istriku masih tidur. Kulihat pintu kamar Lelly telah terbuka dan ia tak ada di mana-mana. Kupikir, ia pasti sedang di kamar mandi. Kebetulan di rumah kontrakan itu, kusen pintu kamar mandi agak rusak, mengembang karena cuaca, mengakibatkan pintu kamar mandi tak bisa ditutup rapat, apalagi dikunci. Akibatnya ada celah kecil yang memungkinkanku untuk mengintip ke dalam kamar mandi. Aku pun tak menyia-nyiakan kesempatan dan mulai mengintip. Celah yang sangat kecil itu membuatku tak bisa melihat banyak, namun cukup terlihat Lelly telanjang bulat dalam keadaan basah. Pemandangan ini sangat membangkitkan gairahku, namun tak ada yang bisa kulakukan hingga akhirnya ia selesai mandi dan keluar dari kamar mandi. Besoknya, aku sengaja bangun pagi, kuperkirakan pada waktu yang sama saat ia mulai mandi, aku baru keluar dari kamarku. Benar saja, Lelly sedang mandi. Dengan nekat, aku langsung membuka pintu kamar mandi yang tak bisa dikunci itu dan melihat dengan jelas tubuh telanjang Lelly dalam keadaan basah kuyup di depan mataku. Lelly tersentak kaget dan segera menutupi dada dan vaginanya dengan kedua tangannya.

“Eh.. eh.. Den Andre.” pekiknya tertahan.
“Eh, sorry! Aduh, sorry Lel. Aku.. aku nggak tahu kamu lagi mandi.” kataku pura-pura terbata-bata, tapi tak segera keluar dari kamar mandi dan terus menikmati pemandangan menggairahkan di depanku.
“Den Andre keluar dong.” katanya dengan nada memohon kebingungan.
“Eh, iya.. sorry.” kataku seraya keluar dari kamar mandi. Namun aku sudah cukup puas untuk sementara melihat tubuh telanjangnya yang basah dari dekat. Istriku masih tidur dengan lelap dan tak pernah tahu tentang kejadian ini.

Suatu hari aku tak enak badan dan istriku menyarankan agar aku dipijat oleh Lelly, karena ia sendiri tak pandai memijat. Aku sih setuju saja. Maka aku pun dipijat oleh si pembantu tanpa ada kejadian apa pun. Namun kesempatan terbuka saat istriku harus pulang ke rumah orang tuanya di luar kota selama seminggu dan aku tak bisa menyertainya karena tak bisa meninggalkan pekerjaanku.

Malam pertama aku ditinggal berdua dengan sang pembantu, aku langsung pura-pura merasa tak enak badan dan kembali minta dipijat. Lelly sama sekali tidak curiga dan aku pun tiduran tengkurap di kasurnya hanya memakai celana pendek, sementara ia duduk di sisiku sambil memijat punggungku. Kubiarkan beberapa saat sambil mengajaknya bercakap-cakap dengan percakapan memancing yang akhirnya membuatku tahu bahwa ia sudah tidak perawan lagi, tapi kini sedang tidak punya pacar. Lalu kujelaskan bahwa pijatannya kurang merata karena posisi duduknya yang melintang dari posisi tidurku. Kusarankan agar ia menduduki pantatku supaya kedua tangannya bisa memijat punggungku lebih merata. Lelly dengan sopan menolak. Aku bangkit duduk dan meraih pergelangan tangannya.

“Sini aku contohin. Kamu tengkurap di sini.” kataku sambil agak menarik lengannya ke arah kasur. Rupanya Lelly tahu gelagatku karena mendadak matanya membelalak ketakutan dan ia pun mulai menarik tangannya dari genggamanku, “Enggak ah, Den.”

“Nggak pa-pa. Kucontohin aja.” ujarku sambil mulai menarik tangannya lebih keras. Lelly semakin ketakutan dan langsung berusaha bangkit sambil menarik tangannya dengan panik, berusaha melepaskan cengkeramanku, “Den, jangan, Den!” Namun aku yang sudah mata gelap oleh gairah tak mempedulikannya dan dengan kekuatan yang tak sebanding dengan pembantu cilik ini, kusentak tangannya dengan keras sehingga ia pun jatuh setengah menindih tubuhku dan terguling ke kasur. Kedua tangannya langsung meronta-ronta dengan panik sambil terus mengucapkan, “Den, jangan, Den.. tolong, Den.” dan sebagainya, semakin lama semakin keras. Aku tak bisa menerima itu dan langsung menindih tubuhnya sambil merentangkan paksa kedua tangannya ke samping. Kulepas kedua tangannya karena tubuhnya telah terkunci oleh posisi tubuhku di atasnya, dan kupegang kepalanya yang meronta ke kiri ke kanan. Aku harus cepat membungkam mulutnya yang mulai memberi tanda-tanda akan berteriak itu.

Akhirnya kujambak rambutnya dengan keras, membuat kepalanya mendadak berhenti meronta karena kesakitan. Lalu kupegang kepalanya dengan kedua tanganku hingga tak bisa bergerak lagi, sementara tubuhnya masih berusaha meronta-ronta dengan liar di bawah tubuhku dan kedua tangannya berusaha mendorong tubuhku, namun tak menghasilkan efek yang berarti. “Den, jangan.. Den.. Dehhpp..” Kulahap mulutnya dengan mulutku, menghentikan suaranya yang bisa bikin runyam itu, dan kuhisap kedua belah bibirnya dengan bernafsu. Kulihat air mata mulai mengambang di kedua matanya, namun aku yang sudah terbakar nafsu setan ini sama sekali tak peduli dan terus melumat bibirnya dengan hisapan-hisapan maut penuh birahi.

Akhirnya gerakan tubuhnya melemah dan kedua tangannya yang tadinya mendorong-dorong tubuhku pun akhirnya ia hentikan. Air mata meleleh di pipinya dan kuhentikan hisapanku pada bibirnya. Ia tak lagi berusaha berteriak. Hanya terisak lirih, “Deehhn..hk.. saya takut, Deeehhn.hk..hk..”

“Diem! Kamu diem!” bentakku lirih, “Jangan nangis!” Mungkin karena takut, isaknya pun tertahan menjadi sesenggukan.
“Udah, sekarang kamu nikmatin aja. Ayuk, buka mulut kamu. Buka!” bentakku lagi.
Ia pun menuruti perintahku sambil terus berlinang air mata. Kuselipkan lidahku ke dalam mulutnya dan kujilati seluruh isi mulutnya sambil kuhisap lagi bibirnya dengan ganas. Lelly hanya diam saja tak memberi respon apapun. Aku tak peduli dan mulai mengangkat tubuhku agar tak membebani tubuhnya. Bertelekan pada sebelah siku, satu tanganku turun ke selangkangannya. Tanpa menghentikan lilitan lidahku pada lidahnya dan hisapanku pada bibirnya, kutarik dasternya ke atas sampai ke perut, dan kuraba-raba vaginanya dari luar celana dalamnya. Tak ada perlawanan lagi dari Lelly, tanganku mulai membelai-belai rambutnya sambil terus meraba-raba vaginanya dan menghisap mulutnya. Begitu terus kulanjutkan selama beberapa menit hingga akhirnya air mata pun berhenti menitik dari matanya dan terasa celana dalamnya semakin basah dengan lendir rangsangan yang tak bisa tertahan lagi olehnya.

Saat kulepaskan bibirnya, ia pun hanya bisa menggigit bibirnya sambil memejamkan matanya. Kuciumi dan kujilati leher dan telinganya sambil tak menghentikan gerilyaku di selangkangannya. “Mmmhhh.. mmmhh..” desahan-desahan pun mulai terdengar dari bibir Lelly yang terkatup rapat itu. Aku bangkit duduk dan menarik dasternya agar lepas sama sekali. Ia seperti tersadar akan apa yang sedang terjadi dan mulai kembali melakukan perlawanan dengan mencengkeram kedua pergelangan tanganku.

“Den Andre.. Den, jangan, Den.. Saya takut, Den.. Jangan, Den..”
“Ssst.. Kamu diem aja, Lel.” kataku seraya memaksakan melepas dasternya.

Bersambung ke bagian 02

One Comment on “Lelly Si Pembantu 01”

Leave a Reply